Impetigo pada bayi merupakan infeksi kulit yang mudah menular. Kondisi ini ditandai dengan munculnya bercak merah, lepuhan, hingga keropeng berwarna kekuningan pada kulit. Meski umumnya tidak berbahaya, impetigo tetap perlu ditangani dengan baik agar tidak menyebar ke area kulit lain atau menular ke orang lain.

Impetigo pada bayi adalah infeksi kulit akibat bakteri yang sering terjadi pada bayi atau balita. Penyakit ini sangat mudah menular melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi maupun benda-benda yang telah terkontaminasi bakteri.

Impetigo pada Bayi, Kenali Ciri-Ciri, Penyebab, dan Penanganannya - Alodokter

Impetigo umumnya muncul di area wajah, terutama di sekitar hidung dan mulut, tetapi dapat timbul juga di tangan atau bagian tubuh lain yang mengalami luka kecil. Kulit bayi yang masih tipis dan sensitif membuat bakteri lebih mudah masuk dan menyebabkan infeksi.

Ciri-Ciri Impetigo pada Bayi yang Perlu Dikenali

Impetigo pada bayi umumnya diawali dengan munculnya ruam atau lepuhan kecil yang kemudian pecah dan membentuk keropeng berwarna kekuningan. Agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin, orang tua perlu mengenali beberapa ciri impetigo pada bayi berikut ini:

  • Muncul bercak merah atau ruam, terutama di sekitar hidung, mulut, tangan, atau area popok
  • Lepuhan kecil berisi cairan bening atau kekuningan yang mudah pecah
  • Setelah lepuhan pecah, terbentuk keropeng berwarna kuning keemasan yang menjadi ciri khas impetigo
  • Area kulit yang terinfeksi tampak kemerahan, bengkak, atau terasa hangat saat disentuh
  • Ruam atau keropeng terasa gatal, sehingga bayi menjadi lebih rewel atau sering menggaruk area yang terkena

Pada beberapa kasus, impetigo juga dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar area yang terinfeksi. Meski jarang, bayi juga bisa mengalami demam ringan, terutama jika infeksinya cukup luas atau lebih berat.

Jika Si Kecil mengalami gejala-gejala tersebut, terutama bila ruam semakin menyebar atau tidak kunjung membaik, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Penyebab dan Faktor Risiko Impetigo pada Bayi

Impetigo pada bayi umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes. Bakteri ini dapat masuk ke dalam kulit melalui luka kecil, seperti lecet, garukan, gigitan serangga, atau ruam akibat eksim.

Setelah itu, bakteri berkembang biak dan menyebabkan infeksi yang mudah menular melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi maupun benda yang telah terkontaminasi.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko impetigo pada bayi meliputi:

  • Kulit bayi yang mengalami luka kecil, lecet, gigitan serangga, atau memiliki penyakit kulit, seperti eksim
  • Kebersihan tangan dan kuku yang kurang terjaga, baik pada bayi maupun orang yang sering merawat atau menggendongnya
  • Kontak erat dengan penderita impetigo atau infeksi kulit akibat bakteri lainnya
  • Tinggal di lingkungan yang padat, lembap, atau kurang bersih sehingga bakteri lebih mudah menyebar
  • Sistem kekebalan tubuh bayi yang masih berkembang atau sedang menurun akibat penyakit tertentu

Penanganan Impetigo pada Bayi yang Aman dan Efektif

Dengan penanganan yang tepat, impetigo pada bayi umumnya dapat sembuh tanpa menimbulkan masalah serius. Berikut ini adalah beberapa langkah penanganan dan pencegahan yang bisa dilakukan:

1. Bersihkan area terinfeksi setiap hari

Area kulit bayi yang terkena impetigo perlu dibersihkan setiap hari untuk membantu mengurangi jumlah bakteri dan mencegah penyebaran infeksi. Gunakan air hangat dan sabun bayi yang lembut, lalu bersihkan area yang terinfeksi secara perlahan tanpa menggosok kulit agar luka tidak semakin parah.

Setelah itu, keringkan kulit dengan kain atau handuk bersih dengan cara ditepuk perlahan, bukan digosok. Gunakan kain yang bersih setiap kali merawat luka dan hindari menggunakan handuk yang sama dengan anggota keluarga lain agar bakteri tidak menyebar.

2. Hindari menggaruk atau memecahkan lepuh

Lepuhan atau blister pada impetigo berisi cairan yang mengandung banyak bakteri. Jika pecah secara tidak sengaja atau karena digaruk, bakteri bisa menyebar ke bagian kulit lain atau ke orang lain. Untuk mengurangi keinginan bayi menggaruk, pastikan kuku bayi selalu pendek dan bersih.

Pada bayi yang lebih besar, bisa dipakaikan sarung tangan kain khusus bayi saat tidur. Hindari juga penggunaan bedak atau salep sembarangan di atas lepuhan tanpa anjuran dokter, karena bisa memperparah iritasi.

3. Gunakan salep antibiotik sesuai resep dokter

Dokter biasanya akan meresepkan salep antibiotik, seperti mupirocin atau asam fusidat (fusidic acid), untuk membunuh bakteri penyebab impetigo. Oleskan salep tipis-tipis pada area kulit yang terinfeksi sesuai petunjuk dokter, umumnya 2–3 kali sehari.

Sebelum dan sesudah mengoleskan salep ke kulit Si Kecil, jangan lupa untuk cuci tangan dengan sabun dan air mengalir untuk mencegah penyebaran bakteri. Tetap gunakan salep hingga pengobatan selesai sesuai anjuran dokter, meski gejala sudah membaik, agar infeksi sembuh sepenuhnya dan mengurangi risiko kambuh atau terjadinya resistensi antibiotik.

4. Konsumsi antibiotik minum, jika infeksi berat

Jika impetigo menyebar ke area kulit yang luas, muncul di beberapa bagian tubuh, disertai demam, atau tidak membaik setelah menggunakan salep antibiotik, dokter dapat meresepkan antibiotik minum. Obat ini bekerja membantu mengatasi infeksi bakteri sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung lebih optimal.

Berikan Si Kecil antibiotik sesuai dosis, jadwal, dan lama pengobatan yang dianjurkan dokter. Jangan menghentikan pemberian antibiotik meski gejalanya sudah membaik, karena infeksi mungkin belum sembuh sepenuhnya dan dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotik.

Jika Si Kecil kesulitan minum obat, konsultasikan kepada dokter mengenai cara pemberian yang aman dan sesuai.

5. Jaga kebersihan tangan setiap merawat bayi

Mencuci tangan merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyebaran bakteri penyebab impetigo. Karena tangan sering menjadi media penularan, biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum maupun sesudah menyentuh atau merawat area kulit bayi yang terinfeksi.

Gosok seluruh permukaan tangan, termasuk sela-sela jari dan bawah kuku, setidaknya selama 20 detik. Jika sabun dan air tidak tersedia, Anda dapat menggunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol.

Namun, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir tetap menjadi pilihan utama, terutama jika tangan tampak kotor. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi risiko penularan impetigo kepada Si Kecil maupun anggota keluarga lainnya.

6. Pisahkan pakaian, handuk, dan sprei

Pakaian, handuk, sprei, selimut, atau kain gendongan yang bersentuhan dengan kulit bayi yang terinfeksi sebaiknya dicuci terpisah dari cucian anggota keluarga lainnya. Setelah dicuci dengan deterjen, keringkan hingga benar-benar kering di bawah sinar matahari langsung.

7. Pantau perkembangan gejala

Selama menjalani pengobatan, perhatikan apakah ruam atau lepuhan mulai mengering dan mengecil, atau justru semakin meluas. Amati juga apakah muncul tanda infeksi yang memburuk, seperti keluarnya nanah, kemerahan dan bengkak yang semakin parah, atau bayi lebih rewel, tampak lemas, tidak mau menyusu, maupun mengalami demam.

Segera bawa Si Kecil ke dokter jika gejala tidak membaik dalam beberapa hari setelah pengobatan dimulai, ruam terus menyebar, atau muncul tanda-tanda infeksi yang lebih berat. Pemantauan secara rutin penting dilakukan agar penanganan dapat segera disesuaikan dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.

Dengan mengikuti langkah-langkah penanganan impetigo pada bayi yang jelas dan konsisten, risiko penularan, kekambuhan, maupun komplikasi bisa diminimalkan. Jika Anda ragu tentang tindakan yang tepat, konsultasikan melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk solusi medis yang sesuai dengan kondisi Si Kecil.

Hingga saat ini, komplikasi serius akibat impetigo pada bayi sehat yang segera diobati tergolong jarang. Namun, jika tidak ditangani, infeksi ini bisa menyebar lebih luas atau menimbulkan infeksi sekunder, seperti abses atau selulitis.