Sudah beberapa waktu Bunda menyadari Si Kecil lebih suka bermain sendiri daripada bersama teman. Di sekolah, gurunya juga berkata bahwa ia hampir tidak punya teman dekat. Apakah hal ini normal dan bagaimana cara mengatasinya?

Memang tidak semua anak dapat menjadi anak populer yang punya banyak teman dan disukai semua anak. Jika anak hanya memiliki sedikit atau bahkan 1-2 orang teman dekat saja tidak apa-apa. Tetapi, jika anak sama sekali tidak punya teman, Bunda mungkin perlu mencari tahu alasannya. Bunda juga perlu menaruh perhatian khusus jika ia mudah bosan, atau lebih senang bermain sendiri.

Ini yang Perlu Dilakukan Jika Anak Suka Menyendiri - Alodokter

Berbagai Alasan Anak Memilih Bermain Sendiri

Salah satu alasan anak suka menyendiri adalah merasa cemas saat mencoba berteman. Faktor lain, seperti kurang tidur, dapat membuatnya cepat marah dan kurang energi untuk bersosialisasi. Selain itu, tidak jarang orang tua tidak menyukai sebagian dari teman-teman anak. Hal ini membuatnya memilih untuk tidak lagi berteman.

Di samping alasan di atas, banyak hal lain yang dapat menjadi sebab anak suka menyendiri. Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah jika anak menarik diri dari pergaulan akibat mengalami pelecehan seksual atau bentuk kekerasan lain, seperti teman-teman yang sering menjadikannya bulan-bulanan dan korban perundungan (bullying).

Sebenarnya anak yang suka bermain sendiri punya sisi positif. Ia dapat menyenangkan diri sendiri tanpa merasa bosan. Bermain sendiri sebenarnya salah satu tanda anak yang memiliki kecerdasan dan kreativitas tinggi. Tidak apa-apa jika ia terlihat gembira dan menikmati waktu bermain sendiri. Dukung ia untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasinya dengan stimulasi dan permainan.

Di samping itu, walaupun anak suka bermain dengan banyak teman, ada kalanya ia memang perlu waktu untuk bermain sendiri. Bunda tidak perlu khawatir, hal ini tergolong wajar, persis seperti orang dewasa yang sesekali juga perlu waktu untuk menyendiri.

Cara Membantu Anak Penyendiri

Bunda dapat mulai memperhatikan pola pertemanan anak sejak sekitar usia 3-4 tahun. Pola ini akan semakin mudah terlihat di usia sekolah. Dengan memperhatikan pola ini, Bunda dapat membantu si Kecil untuk lebih dapat bersosialisasi dengan temannya:

  • Memerhatikan interaksi di kelas

Bunda dapat berkoordinasi dengan sekolah dan menyediakan waktu sehari untuk mengobservasi Si Kecil di kelasnya. Perhatikan bagaimana ia berinteraksi dengan teman sekelasnya, serta teman seperti apa yang membuat ia nyaman.

  • Mempertemukan dengan teman yang cocok

Jika ia terlihat cocok dengan satu atau beberapa teman, Bunda dapat menjadwalkan acara main bersama dengan teman-teman ini. Apabila Si Kecil dapat bermain akrab dengan teman-teman yang dirasa cocok dengannya, diharapkan ia dapat lebih mudah beradaptasi dengan teman-temannya yang lain.

  • Mengamati seluruh kegiatan sehari-hari

Apakah ia menghabiskan makanannya? Apakah ia tidur cukup? Apakah tugas-tugasnya di sekolah selesai? Apakah ia berinteraksi dengan teman-temannya? Kurang terpenuhinya kebutuhan tersebut dapat memengaruhi anak. Begitu juga jika ia tidak mau makan karena sakit atau karena kesulitan belajar di sekolah.

  • Membantu untuk lebih tenang

Beberapa anak dapat memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dari teman-temannya yang lain. Tetapi Bunda dapat membantunya agar lebih tenang. Misal, jika anak lebih merasa cemas ketika datang terlambat ke sekolah, Bunda dapat mengantarnya lebih awal agar ia dapat lebih mempersiapkan diri.

  • Memberi dukungan

Anak mungkin akan menarik diri jika Bunda berkomentar seperti, “Mengapa kamu tidak mencari teman?” Jika anak mau, Bunda dapat mendorong anak untuk memperluas area pertemanannya dengan mendaftarkannya bergabung dalam klub olahraga atau kursus yang disukainya.

  • Menyediakan lingkungan yang tepat

Jika anak memilih bermain sendiri karena teman-temannya tidak disukai Bunda, maka Bunda dapat memulai dialog dengan anak. Misalnya dengan membicarakan efek buruk yang mungkin muncul jika anak mengikuti kebiasaan buruk teman-temannya.

  • Melakukan refleksi diri

Hati-hati, dalam hal pertemanan, anak bisa jadi sekedar meniru apa yang dicontohkan orang tua. Apakah Bunda bersosialisasi dengan teman dan tetangga? Melihat Bunda gembira bersama teman-teman akan membuatnya termotivasi untuk lebih banyak berteman.

Jika Bunda melihat Si Kecil sering menyendiri, sebaiknya segera ajak dia bicara untuk mengetahui alasannya. Cobalah pahami dan ajak ia berdiskusi, namun hindari memaksakan kehendak Bunda. Bermain sendiri memang tidak ada salahnya, namun pastikan anak masih dapat bersosialisasi. Jika perlu, konsultasi dengan psikolog untuk mengetahui solusi yang terbaik.