Kejang tanpa demam yang dialami anak tentu bisa membuat orang tua panik, terutama jika kejang muncul tiba-tiba padahal suhu tubuh Si Kecil normal. Sebab, kejang lebih sering terjadi saat anak demam tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui penyebabnya serta berbagai langkah penanganannya.
Kejang terjadi saat aktivitas listrik di otak terganggu. Kondisi ini menimbulkan gejala, seperti gerakan tubuh yang tidak terkendali, tatapan kosong, hingga kehilangan kesadaran. Nah, pada anak, kejang umumnya terjadi akibat demam tinggi, atau yang dikenal dengan istilah step atau febrile seizure.

Namun, pada beberapa kasus, anak juga bisa mengalami kejang meski tidak sedang demam. Kondisi ini disebut dengan afebrile seizure. Meski tanpa demam, kejang ini tetap perlu diwaspadai karena justru bisa menjadi tanda adanya gangguan lain di tubuh Si Kecil.
Kejang Tanpa Demam dan Berbagai Penyebabnya
Kejang tanpa demam biasanya muncul mendadak. Si Kecil bisa terlihat seperti melamun, tidak merespons, atau bahkan langsung terjatuh dan tubuhnya menegang. Ada juga yang matanya berputar ke atas, bibirnya berbusa, atau tangan dan kakinya menyentak-nyentak ke lantai.
Setelah kejang selesai, anak bisa tampak bingung, lelah, atau langsung tertidur. Semua ini bisa terjadi tanpa didahului demam. Jadi, penting untuk mengetahui berbagai penyebabnya selain demam. Beberapa penyebab lainnya adalah:
1. Dehidrasi
Apabila anak kekurangan cairan atau dehidrasi, tubuhnya juga bisa mengalami kekurangan elektrolit. Padahal, elektrolit, seperti natrium dan kalium, penting untuk menjaga fungsi otak tetap stabil. Nah, jika keseimbangan elektrolit ini terganggu, kejang bisa terjadi pada anak, meski suhu tubuhnya normal.
Biasanya, dehidrasi dan kekurangan elektrolit ini terjadi saat anak sedang diare, muntah-muntah, atau tidak cukup minum dalam waktu lama.
2. Infeksi otak
Infeksi yang menyerang otak bisa menyebabkan kejang tanpa demam, terutama pada bayi atau anak kecil yang daya tahan tubuhnya belum kuat. Infeksi ini bisa mengganggu kerja sistem saraf, sehingga aktivitas listrik di otak menjadi tidak normal.
Meski infeksi biasanya disertai demam, ada juga infeksi yang bisa tanpa demam, contohnya ensefalitis atau meningitis. Oleh karena itu, jika kejang terjadi mendadak dan disertai lemas atau anak tampak tidak aktif seperti biasanya, sebaiknya segera periksakan ke dokter.
3. Epilepsi
Epilepsi merupakan salah satu penyebab paling umum dari kejang tanpa demam. Ini adalah kondisi ketika kejang terjadi berulang karena ada gangguan pada sistem listrik otak. Biasanya, epilepsi baru terdeteksi setelah anak mengalami lebih dari satu kali kejang tanpa pemicu jelas.
Kejang karena epilepsi bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kejang seluruh tubuh hingga sekadar tatapan kosong beberapa detik. Apabila ada anggota keluarga, seperti ayah, ibu, atau saudara kandung yang pernah mengalami kejang atau epilepsi, risiko anak mengalami hal yang sama bisa lebih tinggi.
4. Cedera kepala
Apabila Si Kecil pernah mengalami benturan di kepala, baik karena jatuh atau kecelakaan ringan, hal tersebut bisa saja memicu kejang di kemudian hari. Terkadang, kejangnya pun tidak langsung muncul, bisa beberapa hari, minggu, bahkan bulan setelah cedera. Makanya, penting untuk mencatat riwayat benturan kepala yang pernah dialami anak, terutama kalau kejang muncul tiba-tiba.
5. Gangguan elektrolit
Selain dehidrasi, anak juga bisa mengalami gangguan keseimbangan elektrolit karena kondisi medis tertentu. Misalnya, kadar natrium atau kalsium yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Gangguan ini bisa membuat otak jadi sensitif dan memicu kejang.
Biasanya, anak mengalami gangguan elektrolit ketika sakit berat, terlalu banyak minum air, atau baru sembuh dari penyakit yang membuat tubuhnya kehilangan banyak cairan.
6. Tumor otak
Meski jarang terjadi, tumor otak juga bisa menyebabkan kejang tanpa demam. Ini karena tumor yang tumbuh di otak bisa menekan jaringan otak di sekitarnya, sehingga aktivitas listriknya menjadi tidak stabil. Selain kejang, anak juga bisa mengalami perubahan perilaku atau tumbuh kembang yang terlambat.
7. Kelainan bawaan lahir
Pada beberapa kasus, anak yang mengalami kejang tanpa demam disebabkan oleh kelainan lahir yang memengaruhi struktur atau fungsi otaknya. Salah satu contohnya adalah malformasi korteks serebri. Beberapa contohnya adalah malformasi korteks serebri, cerebral palsy, dan sindrom Angelman.
Kelainan bawaan ini bisa membuat sistem listrik di otak menjadi tidak normal sehingga memicu kejang. Anak dengan kelainan ini biasanya juga mengalami tumbuh kembang yang terhambat, seperti bicara terlambat, sulit berjalan, atau kesulitan belajar.
8. Hidrosefalus
Hidrosefalus merupakan kondisi kelebihan cairan di rongga otak (ventrikel), sehingga menimbulkan tekanan pada jaringan otak. Tekanan inilah yang bisa mengganggu fungsi saraf dan aktivitas listrik di otak, sehingga anak bisa mengalami kejang tanpa demam.
Selain kejang, hidrosefalus juga biasanya menimbulkan gejala lain, seperti kepala membesar, muntah, gangguan penglihatan, atau masalah keseimbangan. Jika dibiarkan, hidrosefalus bisa menyebabkan kerusakan otak permanen.
9. Keracunan
Anak bisa mengalami kejang tanpa demam jika terpapar zat beracun, baik karena tidak sengaja menelan obat-obatan tertentu, menghirup bahan kimia, atau terkontaminasi logam berat seperti timbal dan merkuri. Zat-zat beracun bisa mengganggu fungsi otak dan langsung memicu kejang.
Gejala lain yang bisa menyertai keracunan antara lain muntah, pusing, lemas, kebingungan, bahkan penurunan kesadaran. Keracunan merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.
Pertolongan Pertama Anak Kejang Tanpa Demam
Melihat anak kejang tentu membuat panik. Namun, Bunda tetap perlu tenang dan melakukan langkah pertolongan yang tepat:
- Letakkan anak di tempat datar dan aman, seperti lantai.
- Posisikan tubuhnya miring ke satu sisi agar tidak tersedak.
- Longgarkan pakaian di sekitar leher dan kepala.
- Jangan menahan gerakan kejang anak.
- Jangan meletakkan benda apa pun ke dalam mulut anak.
- Jauhkan benda tajam di sekitarnya untuk mencegah cedera.
- Catat berapa lama kejang berlangsung dan bagaimana gejalanya.
Setelah kejang berhenti, tunggu hingga Si Kecil sadar sepenuhnya. Kalau ia ingin tidur setelahnya, biarkan ia istirahat, tetapi tetap perlu diawasi. Meski kejang tanpa demam tidak selalu berbahaya, anak perlu segera dibawa ke dokter apabila mengalami kejang lebih dari 1 kali dalam sehari, kejang lebih dari 5 menit, anak tampak lemas dan bingung, serta anak baru pertama kali kejang.
Selain itu, Bunda juga bisa Chat Bersama Dokter di aplikasi Alodokter untuk bertanya langsung, atau buat janji dengan dokter jika kejang sering terjadi. Penanganan yang cepat bisa mencegah komplikasi dan memastikan Si Kecil tetap sehat.