Home › komunitas › Penyakit › Encephabol dapat meningkatkan resiko kejang pada penderita epilepsi? › Reply To: Encephabol dapat meningkatkan resiko kejang pada penderita epilepsi?
August 17, 2016 at 7:47 pm
Terima kasih Susi Ana atas pertanyaannya.
Epilepsi adalah penyakit berupa bangkitan / serangan kejang yang sering berulang. Epilepsi disebabkan oleh adanya gangguan stimulus di saraf otak, sehingga aliran listrik di otak tidak lancar dan menimbulkan serangan kejang. Epilepsi sendiri ada berbagai jenis, mulai dari epilepsi berupa kejang kelojotan seluruh tubuh, hanya bagian tubuh tertentu, hingga kejang berupa ‘bengong’ yang disebut kejang absans / lena.
Diagnosa epilepsi umumnya dengan pemeriksaan penunjang berupa elektroensefalografi / EEG yaitu alat untuk rekam otak. Terapinya sendiri adalah dengan obat antikejang yang umumnya dikonsumsi selama jangka waktu lama, bulan hingga tahunan. Dosis dan jenis obat antikejang disesuaikan dengan kondisi pasien, jenis epilepsi dan derajat keparahannya. Penyebab epilepsi umumnya tidak diketahui secara pasti, namun kekambuhan kejang sendiri memang bisa ditimbulkan akibat efek obat tertentu, terutama pada orang dengan riwayat kejang atau sudah memiliki ‘bakat’ kejang sebelumnya.
Namun mengenai obat encephabol, hingga kini belum diketahui bahwa obat tersebut bisa meningkatkan risiko kejang. Encephabol sendiri adalah obat jenis neurotropik yang berisi pyritinol. Obat tersebut diberikan untuk penderita riwayat cedera kepala/ otak, post operasi otak, otak yang mengalami proses degeneratif, orang yang mengalami otak kekurangan oksigen / hipoksia misalnya post henti jantung / cardiac arrest. Terkadang obat tersebut juga diberikan pada penderita epilepsi sebagai salah satu terapinya untuk efek memperbaiki kognitif. Efek yang bisa ditimbulkan dari obat tersebut adalah mual, sakit kepala, alergi dalam bentuk ruam di kulit, kelainan hati, atau yang lain. Pemberian obat tersebut juga sebaiknya dihindari atau berhati hati pada orang dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, memiliki riwayat penyakit autoimun, memiliki riwayat alergi. Namun penggunaan berbagai jenis obat tersebut, baik obat antikejang maupun obat lain, sebaiknya disesuaikan dengan resep dan anjuran dokter yang memeriksa secara langsung. Karena beliau yang lebih paham kondisi pasien, khususnya mengenai riwayat epilepsinya. Seperti sudah disebutkan bahwa terapi epilepsi ada banyak macam dan itu tergantung dari jenis epilepsi juga kondisi pasien sendiri. Diharapkan dengan menjalani terapi selama beberapa bulan atau bahkan tahun, dosis obat dapat diturunkan perlahan, hingga seseorang bisa tetap dengan obat antikejang dosis terkecil atau tidak dengan obat sama sekali. Anda dapat berkonsultasi mengenai obat tersebut dengan dokter Anda atau dokter spesialis saraf.
Anda juga dapat membaca artikel terkait:
Demikian jawaban dari saya, semoga dapat membantu
dr. Andika Surya