Tanya Dokter

  • kebiasaan orang tua menyentuh bagian kelamin anak

  • Assalamualaikum dokter.. Saya mau bertanya mengenai kebiasaan yg dilakukan nenek perempuan anak saya.. Sebelum mandi biasanya si nenek selalu memegang2 dan mencium daerah kelamin dan anus cucu laki2 dan perempuannya sejak lahir, dan sekarang usia cucu laki2 sudah 18 bulan, yg perempuan 10 bulan, apakah itu akan berdampak pada psikologis anak seperti kecanduan dengan kebiasaan yg dilakukan si nenek kedepannya? Karena dari yang saya lihat si bayi senang dan tertawa dengan yg dilakukan neneknya.. Mohon penjelasannya ya dok.. Terimakasih dokter

    Waalaikumsalam Ibu Ika. Terima kasih sudah bertanya di Alodokter.

    Saya mengerti kekhawatiran Ibu akan perkembangan psikologis anak-anak tersebut. Ibu juga mungkin merasa kurang nyaman melihat sang nenek melakukan hal tersebut. Memperlakukan anak pada daerah intim memang harus diperhatikan agar mereka sadar bahwa daerah tersebut adalah hal yang sangat privat dan tidak bisa disentuh oleh sembarang orang. Ini adalah cara edukasi seksual pertama yang penting diajarkan sejak dini. Anak bisa diajarkan mengenai bagian intim mereka sejak sedini mungkin untuk mencegah terjadinya pelecehan pada anak di kemudian hari. Anak sering kali tidak melaporkan kejadian pelecehan karena tidak paham mengenai konsep organ intim.

    Bayi belajar mengenai dunia melalui semua indera yang dimilikinya, termasuk sentuhan. Sejak lahir, bayi sangat sensitif dengan nyeri dan sentuhan. Sentuhan sangat penting dalam menjaga hubungan antara bayi dan pengasuhnya. Pengasuh terbaik adalah ibu kandung. Akan sangat baik jika Ibu bisa menjadi pengasuh utama anak Ibu. Bayi juga akan berusaha mengeksplorasi seluruh tubuhnya, termasuk pada bagian intim yang dimilikinya. Biarkan anak mengeksplorasi bagian tubuhnya sendiri tanpa perlu merasa dirinya nakal atau berbuat salah. Ajarkan anak untuk hanya melakukannya di rumah. Arahkan anak untuk melakukan atau belajar hal lain ketika di luar rumah.

    Ibu dapat mengajarkan anak Ibu mengenai bagian tubuh yang "spesial" ini. Gunakan bahasa yang benar, seperti payudara, penis, dan vagina. Hindari penggunaan sebutan kata yang kasar atau kurang tepat karena akan membuat anak merasa bingung. Anak juga akn merasa dirinya tidak pantas membicarakan bagian tersebut hanya karena takut dimarahi atau takut menggunakan kata yang tidak pantas. Dengan menggunakan bahasa yang tepat, anak mengerti bahwa bagian tubuh tersebut adalah penting dan baik, tetapi lebih spesial. Anak akan lebih mudah mengadu pada orang tua jika ada orang lain yang memperlakukan area spesial mereka dengan cara yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

    Mulai usia 3 tahun, anak juga perlu diajarkan bahwa area ini tidak boleh diperlihatkan atau disentuh oleh orang lain kecuali oleh ayah dan ibunya ketika mandi atau berpakaian serta oleh dokter saat anak diperiksa. Nyatakan pada anak bahwa ayah dan ibu tidak akan marah jika ia bercerita mengenai orang lain yang menyentuhnya dengan cara yang tidak nyaman. Ajarkan ia untuk bercerita mengenai hal ini meskipun orang yang menyentuhnya menyuruhnya untuk merahasiakannya.

    Nenek yang sering mencium daerah kelamin dan anus sebaiknya diarahkan dan diberi pengertian. Nenek mungkin belum paham, bahwa kebiasaannya tersebut dapat berpengaruh pada perkembangan anak. Anak akan merasa hal tersebut biasa dan boleh dilakukan siapa saja. Anak juga dapat merasa hal tersebut boleh ia lakukan pada siapa saja. Jika dibiarkan, anak akan biasa saja ketika orang lain melakukan hal yang sama dan tidak melaporkannya. Bukan tidak mungkin, anak akan melakukan hal tersebut pada anak lain. Hal ini akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

    Gunakan bahasa yang baik ketika memberi pengertian pada Nenek. Hindari memarahi atau membentak Nenek, terutama di depan anak. Ajak Nenek untuk mengajarkan anak bahwa bagian tubuh ini adalah bagian yang "sakral" dan tidak boleh sembarang dimainkan. Jika Ibu masih khawatir atau anak terlihat melakukan hal yang tak biasa pada alat kelaminnya, Ibu dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau dokter psikiatri anak terdekat.

    Demikian penjelasan dari saya. Semoga dapat membantu.

     

    Salam,

    dr. Selvi