Tanya Dokter

  • Tanya Psikologis Teman dekat

  •  anony123
    Anggota

    Selamat Siang. Saya mau tanya psikologis teman dekat saya , mengatasi, solusi dan bagaimana menyembuhkanya. Jadi ceritanya teman saya sering sekali ribut dengan rumah tangganya. Saya bertahun2 menganalisa dan menjadi teman di dua pihak, menganalisa dan mencoba mendamaikan keduanya hingga saya tau persis watak2 setiap keluarganya, bapak rumah tangga, istri, dan kedua anaknya. tapi lama kelamaan saya merasakan kejanggalan dengan teman saya yaitu bapak rumah tangga dari keluarga tersebut. mungkin cerita ini agak sedikit panjang. akan saya coba persingkat dengan mengambil beberapa contoh kasus yang sering terjadi. dan mengutarakan kesimpulan apa yang saya pahami. Pada saat umur 40 an teman saya yaitu sang ayah dari keluarga tersebut bertemu dengan seorang teman yg katanya ahli agama, sebelum dia bertemu dengan orang tersebut mereka jarang sekali ribut, dan teman saya mempunyai sifat yg bijaksana. Tapi setelah bertemu, seolah2 teman saya seperti tercuci otaknya. Setiap perkataan kenalan teman saya, teman saya ikuti dan di contoh, tapi bisa di bilang di cerna mentah2. Seperti: Ceramah yang sedang membahas kehidupan di dunia, dan ustadnya membuat kiasan bahwa kita pasti akan meninggalkan dunia. Kalo udah tua y pasti yg kita tunggu cuma mati, jadi beribadah lah sebelum mati. Saya sendiri mengerti bahwa itu adalah kiasan yg menyuruh kita untuk terus beribadah. Tapi teman saya berbeda, setelah ceramah tersebut. kata2 tersebut menjadi jargon dan langsung jadi tujuan hidup. Dia menjadi malas berangkat kerja dan selalu mengatakan jargon tersebut, duduk di teras dan menatap langit dan mengatakan "saya udah tua, apalagi yg ku tunggu paling cuma mati". Dan semua itu terus terulang, setiap perkataan ustad dia contoh, seperti mudah mengkafirkan orang lain bahkan ke keluarganya sendiri, tidak mengakui perbedaan, menganggap dirinya paling unggul + benar dan pemarah. Dan sifat yg terbawa dan berbahaya untuk dia hingga saat ini yaitu dia doyan menceramahi orang lain meskipun mereka tidak meminta dan lebih tua darinya, dan parahnya hal yg dia bahas merupakan hal dasar. Yg dengan sekejap saya bisa melihat lawan bicaranya tersinggung. Tapi teman saya selalu tidak menyadarinya. Hal itu menjadi akar dari keributan rumah tangga teman saya. Ekonomi mereka sudah susah tapi teman saya menjadi malas. Dan lebih parahnya lagi pelit terhadap istrinya. Setiap istrinya meminta uang untuk belanja pasti harus ada keributan hingga istrinya nangis, saya berada di kedua pihak dan memahami istrinya dan juga teman saya yg berekonomi rendah. Tapi di suatu waktu setelah keributan itu saya tidak sengaja melihat isi dari dompet teman saya memiliki uang yg tidak di bilang sedikit. Dari kasus tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa dia pelit. Saya pernah suatu waktu mencoba berbicara pada teman saya, kalo lebih baik keuangan di serahkan ke istri saja, tapi langsung nolak dengan marah dan mengatakan tidak percaya dengan keluarganya. yang saya lihat sepetinya teman saya menganggap dirinya paling unggul dalam ibadah, dan dia menganggap yang tidak beribadah atau tidak serajin dia itu kafir. itu mengapa dia tidak percaya dengan orang-orang dan orang terdekatnya. Saat ini teman saya berumur 54, saya pernah menanyakan sifat dari teman saya saat kecil ke orang tuanya, dan di mengatakan hal yg sama dengan sifat yg sekarang ini. orangnya keras kepala, menganggap dirinya paling benar, dan serakah. Seperti sifat yg sudah lama terpendam kembali lg, Dan di tambah sifat2 dari kenalan ustad2 yg dia dengar. Saya bisa menilai bahwa dia egois Saya menemukan artikel mengenai egois dan menemukan kecocokan di beberapa point. https://lasealwin.com/2017/05/13/bahaya-ego-yang-berlebihan-sifat-egois-yang-terlalu-tinggi-tidak-baik-bagi-kehidupan-manusia/ Sifat teman saya ada di point 1,2,3,4,5,6,7,10,11,13,15,16,17,18 Sifat-sifat : Dia tidak bisa menahan rasa sakit. Masuk angin saja dia brisiknya minta ampun. yang aduh-aduh dan lain2. Keras kepala, dia pernah ke dokter dan mengeluh atas penyakitnya, setelah dokter mendiaknosis dia menolak keputusan dokter dan mengaku kalo penyakitnya lebih parah. Saya lupa nama penyakitnya. Hingga sang dokter jengkel, yang membuat saya jadi malu sendiri padahal cuma dengar ceritanya saja. Dan banyak kasus lainya. Pembicaraan sering ngelantur, sering terjadi kesalah pahaman terhadap dia dan lawan bicara, apa yang ditanyakan berbeda dengan jawabanya, ditanya merah tapi jawaban hijau. hal ini yang menjadi akar keributan rumah tangga dia. dari segi kalimat apa yang dia katakan juga bisa di bilang sedikit berantakan. pernah seorang tetangga yang kerja sebagai perawat mengakui kalo pembicaraan dia itu ngelantur dan tidak jelas. malah merekomendasikan ke istrinya untuk membawanya ke psikiater.

    dan pernah dia coba berusaha berpindah kerjaan, mengikuti wawancara untuk pekerjaan baru tapi jawaban yang ditanyakan itu tidak sepantasnya di ungkapkan, bukan berusaha untuk meyakinkan bosnya kalo dia bisa tapi dia lebih mengungkapkan kelemahan, kekurangan dan penyakit2 yang dia punya. saya sendiri tepok jidad.

    Pemahaman kurang, dalam interaksi sosial pasti tidak jauh dari namanya kode2 dalam interaksi sosial, , injakan orang, sentuhan orang, emosi dari seseorang, perasaan, pola bicara, mimik muka dan gerak gerik orang, yang menggambarkan kondisi mereka. untuk kasusnya seperti yang telah di ceritakan di atas yaitu dia tidak memahami kalo lawan pembicara itu sedang tersinggung, malas berbicara dengannya dan risih atas kedatanganya. tapi saya pernah bertanya kepadanya apa yang teman saya lihat dari lawan biacaranya saat dia berbicara, saya pribadi saya lihat lawan bicara dari teman saya itu merasa tersinggung dan malas mendengarkan/berbicara denganya (ekspresi lawan biacara teman saya: menjawab semua kata2 dengan Hmmm, tatapan mata menuju ke arah lain, terkadang pura2 ngantuk), tapi teman saya malah menganggap hal tersebut sebagai pujian, mengatakan bahwa dia suka mendengarkan perkataan teman saya.

    dan kasus lain, ketika teman saya datang ke suatu tempat, beberapa orang tiba2 langsung pergi ke ruangan lain, apa yang teman saya tangkap itu bahwa orang2 yang barusan pergi itu takut / hormat kepadanya. tapi yang saya tangkap bahwa dia malas bertemu denganya.

    dan beberapa kode2 sosial interaksi seperti menginjak kaki untuk diam tapi dia malah mengeretak orang yang memberi kode.

    Memikirkan diri sendiri. untuk masalah diri sendiri dia yang paling utama, seperti makan di luar tanpa keluarganya, beli jajan untuk dirinya sendiri dan sering sekali berobat meskipun saya lihat dia baik2 saja. yang saya lihat malah istri dan anak2nya jarang berobat, dan memiliki badan kurus. Pemarah, contoh terlalu banyak

    Sering mencurigai keluarganya dan memiliki kecemburu yang tinggi apa yang terjadi pada istrinya.(overprotektip)

    Tidak bisa dibawa diskusi, dalam rumah tangga diskusi itu paling penting untuk memutuskan masa depan mereka, tapi mereka sering sekali berakhir ribut. yang saya dengar dari kejauhan, akar dari masalah ada di ayahnya. lawan diskusinya berdikusi dengan tenang tapi ayahnya tidak, dia keras kepala, pemarah dan kalo di beri saran dan kritik alasanya pusing, mumet, apa yang dia katakan juga ngelantur bikin emosi orang, saya yg dengan dari kejauhan saja emosi, ini orang g nyambung pemarah lg. y mungkin kurang lebih seperti itu, saya tanya disini karena istri dan anak2nya sering berkonsultasi dengan saya, saya sendiri juga bingung mengatasinya. dan saya merasa kasihan terhadap istri dan anaknya. dari cerita di atas mungkin saya agak berlebihan menceritakan dia dari satu sisi, untuk sisi kebaikan dari ayah mereka, sebenarnya dia orang yang baik dan rajin ibadah. dan semoga pertanyaan dan jawaban dokter ini dapat membantu orang-orang yang memiliki kasus yang sama seperti keluarga teman saya. mohon maaf atas salah-salah kata dan terimakasih atas bantuanya :D saya di sini pake akun palsu, nama palsu dan dari keluarga saya dan keluarga teman saya tidak ada yang tau tentang pertanyaan ini, silahkan dokter bisa mendiaknosis apa saja terhadap teman saya. tapi mungkin kalo kurang jelas pak/bu dokter bisa bertanya. :D

    Hai anony123,

    Terimakasih telah bertanya ke Alodokter.

     

    Ada beragam jenis gangguan kejiwaan yang bisa dialami seseorang, mulai dari yang sifatnya ringan hingga tidak memerlukan penanganan khusus, hingga berat sehingga memerlukan terapi lebih lanjut oleh psikiater. Menentukan apakah perubahan yang terjadi dalam diri seseorang termasuk ke dalam suatu gangguan kejiwaan atau tidak, idealnya tidak cukup dilakukan dengan mengandalkan informasi yang diperoleh dari pengamatan secara tidak langsung sebagaimana yang Anda lakukan. Diperlukan wawancara psikiatrik secara mendalam oleh psikiater (dokter spesialis kejiwaan) disertai pemeriksaan medis menyeluruh untuk mengidentifikasi hal ini. Karenanya, lebih tepat bila Anda ajak rekan Anda tersebut untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat guna dilakukan penanganan lebih lanjut terkait kondisinya ya..

    Kami akan coba membuat gambaran singkat berkaitan dengan kondisi rekan Anda tersebut, namun tetap saja, diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan melalui pemeriksaan dokter secara langsung.

    Apabila ditilik dari keterangan yang Anda sampaikan, kemungkinan yang rekan Anda alami termasuk ke dalam gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian sendiri merupakan suatu kondisi yang menyebabkan penderita memiliki cara pikir dan perilaku yang menyimpang dari normal, sehingga membuatnya kesulitan dalam memahami dan berinteraksi dengan orang lain, termasuk keluarganya. Kondisi ini biasanya akan tampak lebih jelas saat seseorang menginjak usia dewasa, meski tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada orang yang berusia lebih muda atau lebih tua. Gangguan kepribadian ini bisa muncul akibat faktor yang beragam, mulai dari pergaulan, sosioekonomi rendah, minimnya pendidikan, riwayat trauma masa lampau (termasuk akibat sering dibully, konflik dalam rumah tangga, diabaikan, pelecehan seksual atau fisik), kebiasaan mengkonsumsi alkohol atau obat terlarang, serta adanya kelainan pada struktur atau komposisi kimia tertentu dalam otak.

    Gangguan kepribadian juga ada banyak macamnya. Dan yang paling mirip dengan gejala yang rekan Anda alami tersebut adalah gangguan kepribadian kelompok B, yang ditandai dengan pola pikir serta perilaku yang tidak bisa diprediksi, juga emosi yang dramatis dan berlebihan. Beberapa jenis gangguan kepribadian yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah gangguan kepribadian ambang (borderline), antisosial, narsistik, dan histrionik.

    Di samping gangguan kepribadian, mungkin juga kondisi yang rekan Anda alami terjadi akibat gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, gangguan mental akibat konsumsi alkohol, gangguan disosiatif, depresi, dan lain sebagainya.

    Sebagaimana telah disebutkan di atas, sebaiknya Anda ajak secara halus rekan Anda tersebut untuk memeriksakan dirinya ke psikiater supaya mendapat penanganan yang tepat. Bukan tidak mungkin, akibat kondisinya, rekan Anda tersebut bisa melakukan tindakan yang membahayakan dirinya, atau pun orang di sekitarnya.

    Saat ini, sebagai rekan, Anda bisa lakukan beberapa upaya berikut:

    • Sering ajak rekan Anda tersebut berdiskusi, selami apa yang ada di pikirannya, dan perbanyaklah berempati padanya
    • Bantu ia menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, yakni dengan menjadi mendengar yang baik, teman berbagi suka dan duka, bukan menggurui
    • Ajak rekan Anda tersebut melakukan kegiatan yang berdampak positif bagi kehidupannya dan keluarganya, seperti dengan berekreasi, membaca, beribadah bersama, berolahraga, dan sebagainya
    • Ingatkan ia untuk lebih memperdalam agamanya, tentunya dari sumber yang bisa dipercaya
    • Buat ia nyaman bersama Anda, bersama keluarganya, supaya ia tidak mencari pelarian ke lingkungan yang tidak tepat
    • Jauhkan ia dari pergaulan yang kurang baik, misalnya dengan pecandu alkohol, pengguna narkoba, dan sebagainya

    Semoga membantu ya..

     

    dr. Nadia Nurotul Fuadah