Lidah mempunyai fungsi yang penting untuk menelan dan berbicara. Lalu, apa yang terjadi jika bayi mengalami kelainan bawaan pada lidah yang disebut tongue-tie?

Ankyloglossia atau tongue-tie adalah kelainan pada selaput bagian bawah lidah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut. Selaput ini disebut frenulum lidah atau tali lidah. Tongue-tie ditandai dengan frenulum lidah yang lebih pendek dan tebal, atau melekat pada ujung lidah.

Mengenal Dampak Tongue-tie pada Bayi dan Cara Mengatasinya - Alodokter

Kelainan bawaan ini jarang terjadi dan mungkin belum banyak orang tua yang mengetahuinya. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun tongue-tie lebih banyak terjadi pada bayi laki-laki dibandingkan bayi perempuan.

Dampak Tongue-tie pada Bayi

Seperti telah dikatakan sebelumnya, lidah berperan penting dalam proses makan, minum, serta bicara. Ketiga proses ini akan terganggu jika bayi mengalami tongue-tie. Setidaknya ada tiga masalah yang dapat terjadi sebagai dampak dari tongue-tie pada bayi, yaitu:

1. Bayi sulit mengisap ASI

Pada awalnya, tongue-tie akan menimbulkan gangguan saat menyusui. Alih-alih mengisap ASI ketika menyusu, bayi hanya mengunyah puting ibu. Gangguan menyusui ini akan memengaruhi jumlah ASI yang dikonsumsi bayi, sehingga akan mengganggu tumbuh kembangnya.

2. Puting susu ibu terluka

Puting ibu juga akan menjadi sakit atau terluka akibat bayi yang tidak bisa menyusu dengan baik. Pada saat bayi mulai makan makanan padat (MPASI), tongue-tie berisiko membuat bayi tersedak. Selain itu, pada anak yang lebih besar, tongue-tie dapat membuat anak kesulitan menjilat makanan.

3. Anak sulit bicara

Gangguan bicara mungkin baru dirasakan pada anak yang sudah lebih besar. Anak akan kesulitan ketika mengucapkan kata-kata yang memiliki huruf r dan konsonan lainnya, seperti t, d, z, s, l, j, ch, th, dan dg. Ketika memasuki usia sekolah, anak penderita tongue-tie akan kesulitan saat bermain alat musik tiup.

4. Rongga mulut cenderung tidak bersih

Selain gangguan makan dan bicara, tongue-tie juga akan menyebabkan kebersihan rongga mulut terganggu, karena lidah sulit membersihkan sisa-sisa makanan pada gigi. Kondisi ini membuat penderita tongue-tie berisiko mengalami gigi berlubang dan peradangan gusi.

Hal lainnya yang juga bisa timbul akibat tongue-tie adalah munculnya celah di antara dua gigi bawah paling depan dan kerusakan gusi di area tersebut.

Cara Mengatasi Tongue-tie pada Bayi dan Anak

Ada tiga macam tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi tongue tie, yaitu frenotomy, frenectomy, dan frenuloplasty. Berikut ini perbedaan ketiganya:

Frenotomy

Tindakan paling sederhana untuk mengatasi tongue-tie adalah frenotomy. Prosedur ini dilakukan tanpa anestesi atau obat bius, dengan merobek sedikit frenulum lidah. Proses tidakan ini cepat, hanya meninggalkan sedikit rasa tidak nyaman, dengan sedikit perdarahan. Setelahnya, bayi juga bisa langsung menyusu.

Frenectomy

Frenectomy dilakukan dengan memotong dan mengangkat seluruh frenulum. Pemotongan frenulum dapat dilakukan dengan pisau bedah atau alat khusus, seperti electrocauter (dibakar) dan sinar laser.

Tindakan frenectomy dengan electrocauter dan sinar laser hanya memerlukan pembiusan lokal, tidak seperti frenectomy dengan pisau bedah yang memerlukan bius total atau dengan sedasi. Masa pemulihan operasi frenectomy dengan electrocauter juga lebih cepat.

Frenuloplasty

Prosedur operasi frenuloplasty ini lebih kompleks dan membutuhkan pembiusan total. Tidak hanya memotong frenulum lidah, tindakan frenuloplasty juga melibatkan penjahitan dan perbaikan bentuk frenulum.

Dokter akan menilai tindakan mana yang paling tepat untuk bayi Anda. Selain ketiga tindakan tersebut, dokter mungkin juga dapat menyarankan untuk menunggu sambil mengamati perkembangan bayi. Diskusikan kembali dengan dokter anak mengenai manfaat dan risiko tindakan yang disarankan.

Bila bayi Anda mengalami kesulitan menyusu, cobalah periksakan ke dokter. Mungkin saja ia mengalami tongue-tie. Kondisi tidak boleh dianggap remeh, karena dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang, gangguan bicara, serta gangguan pada kesehatan gigi dan mulut.

Ditulis oleh:

drg. Arni Maharani
(Dokter Gigi)