Saat terjadi luka atau cedera, pembuluh darah dapat rusak dan terjadilah perdarahan. Untuk menghentikan perdarahan tersebut, tubuh kita akan mengaktifkan serangkaian proses pembekuan darah dan penyembuhan luka.

Mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan dinamakan hemostasis. Terdapat beberapa fase penting pada mekanisme ini, di antaranya fase pembentukan sumbatan oleh platelet (keping darah) dan fase pembekuan darah. Proses pembekuan darah atau koagulasi adalah proses kompleks, di mana darah membentuk gumpalan (bekuan darah) guna menutup dan memulihkan luka, serta menghentikan pendarahan.

Mengenal Proses Pembekuan Darah - Alodokter

Unsur-Unsur Proses Pembekuan Darah

Proses pembekuan darah tidak akan terjadi tanpa adanya ‘aktor’ yang berperan. Koagulasi melibatkan trombosit dan komponen faktor koagulasi.

  • Trombosit
    Trombosit atau keping darah adalah elemen berbentuk cakram di dalam darah. Trombosit digolongkan sebagai sel darah, tetapi sebenarnya trombosit adalah bagian dari sel-sel sumsum tulang yang disebut dengan megakaryocytes. Trombosit berperan untuk membantu membentuk bekuan darah, guna memperlambat atau menghentikan perdarahan, serta penyembuhan luka.
  • Faktor koagulasi (faktor pembekuan)
    Faktor koagulasi adalah protein, sebagian besar diproduksi oleh organ hati. Ada 13 faktor koagulasi dalam darah dan jaringan tubuh manusia.

Bagaimana Proses Pembekuan Darah Terjadi?

Proses pembekuan darah normal melewati serangkaian interaksi yang kompleks. Berikut adalah proses pembekuan darah dari awal hingga akhir.

  • Trombosit membentuk sumbatan
    Trombosit bereaksi ketika pembuluh darah rusak atau ada luka. Mereka menempel pada dinding daerah yang luka dan bersama-sama membentuk sumbatan. Sumbatan dibentuk guna menutup bagian yang rusak, agar menghentikan darah yang keluar. Trombosit juga melepaskan bahan kimia untuk menarik lebih banyak trombosit dan sel-sel lain untuk melanjutkan tahap berikutnya.
  • Pembentukan bekuan darah
    Faktor-faktor pembekuan memberi sinyal terhadap satu sama lain, untuk melakukan reaksi berantai yang cepat. Reaksi ini dikenal sebagai kaskade koagulasi. Pada tahap akhir kaskade ini, faktor koagulasi yang disebut trombin mengubah fibrinogen menjadi helai-helai fibrin. Fibrin bekerja dengan cara menempel pada trombosit untuk membuat jaring yang memerangkap lebih banyak trombosit dan sel. Gumpalan (bekuan) pun menjadi lebih kuat dan lebih tahan lama.
  • Penghentian proses pembekuan darah
    Setelah bekuan darah terbentuk dan perdarahan terkendali. Protein-protein lain akan menghentikan faktor pembekuan, agar gumpalan tidak berlanjut lebih jauh dari yang diperlukan.
  • Tubuh perlahan-lahan membuang sumbatan
    Ketika jaringan kulit yang rusak sembuh, otomatis sumbatan tidak diperlukan lagi. Helai fibrin pun hancur, dan darah mengambil kembali trombosit dan sel-sel dari bekuan darah.

Kelainan Proses Pembekuan Darah

Jika proses pembekuan darah mengalami kelainan, maka dapat terjadi perdarahan berlebih atau sebaliknya terjadi pembekuan darah terlalu banyak sehingga dapat mengganggu sirkulasi darah. Tidak semua orang mengalami proses pembekuan darah yang normal. Sebagian orang dapat mengalami kelainan pada proses pembekuan darah, misalnya penyakit hemofilia, di mana terdapat kekurangan faktor koagulasi VIII atau IX. Pada penyakit ini, perdarahan yang terjadi sulit berhenti.

Pembekuan darah juga bisa terbentuk walaupun tidak diperlukan. Kondisi ini dapat menyebabkan kondisi medis berat seperti serangan jantung, emboli paru, dan stroke. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya pembekuan darah yang abnormal dianjurkan untuk rajin bergerak dan berolahraga, tidak merokok, dan menerapkan pola hidup sehat.

Jika terdapat keluhan seperti mudah memar, perdarahan susah berhenti ketika terjadi luka, sering mimisan, atau terdapat lebam pada persendian, kemungkinan Anda mengalami gangguan pada pembekuan darah. Apabila terdapat keluhan tersebut, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter.