Seperti bagian tubuh lainnya, otak juga rentan terhadap perdarahan, infeksi, dan bentuk kerusakan lainnya. Kerusakan atau perubahan fungsi pada otak terkadang membutuhkan prosedur pembedahan. Kraniotomi merupakan salah satu prosedur yang dapat dilakukan.

Kraniotomi merupakan proses pembedahan otak yang dilakukan dengan membuka tulang tengkorak untuk memperbaiki gangguan yang terjadi. Kraniotomi bukanlah operasi kecil, sehingga Anda perlu tahu beberapa informasi penting seputar operasi ini sebelum menjalaninya.

Menjelaskan Seputar Prosedur Kraniotomi - Alodokter

Penyakit yang Dapat Diatasi dengan Kraniotomi

Anda akan diberikan pilihan untuk menjalani kraniotomi jika Anda mengalami beberapa kondisi berikut ini:

  • Cedera kepala
    Cedera kepala berat, tergolong kondisi mengancam nyawa yang harus segera ditangani di rumah sakit. Dokter akan memeriksa gejala yang timbul untuk menentukan tingkat keparahan. Kondisi ini dapat diiringi dengan cedera pada jaringan otak, atau perdarahan di otak, sehingga membutuhkan kraniotomi.
  • Perdarahan otak
    Pada kondisi perdarahan otak, kraniotomi dapat dilakukan untuk mengatasi perdarahan dan mengangkat gumpalan darah.
  • Stroke
    Pada penyakit stroke dengan perdarahan di dalam rongga kepala, operasi kraniotomi bisa dilakukan untuk menghentikan dan menangani perdarahan.
  • Aneurisma otak
    Proses kraniotomi pada aneurisma otak, dapat membantu mencegah pecahnya pembuluh darah di otak, dan sebagai penanganan bila sudah terjadi perdarahan akibat pecahnya aneurisma.
  • Tumor otak
    Pada tumor otak, operasi ini dibutuhkan sebagai langkah untuk mengangkat tumor yang menyebabkan gangguan fungsi otak.
  • Abses otak
    Kraniotomi dibutuhkan pada abses otak, ketika cara pengobatan lain telah dilakukan namun tidak memberikan hasil yang baik, untuk membantu mengeluarkan nanah dari abses atau sumber infeksi.
  • Hidrosefalus
    Hidrosefalus terjadi karena adanya penumpukan cairan di rongga (ventrikel) dalam otak. Kelebihan cairan ini meningkatkan ukuran ventrikel dan memberi tekanan pada otak. Kraniotomi dilakukan untuk membantu mengurangi tekanan tersebut.
  • Parkinson
    Pada penyakit Parkinson, kraniotomi diperlukan untuk menanamkan alat perangsang demi membantu perbaikan gerakan tubuh penderita Parkinson.
  • Epilepsi
    Lebih dari 50 persen epilepsi belum diketahui penyebabnya, sedangkan sisanya disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan gangguan pada otak dan memerlukan operasi kraniotomi.

Memahami Tahapan Operasi Kraniotomi

Ada tiga tahap dalam operasi kraniotomi, yaitu praoperasi, proses operasi, dan pasca operasi. Khusus pada tahapan pasca operasi, pasien sangat diharapkan untuk mengikuti petunjuk dokter.

  • Praoperasi
    Jika kondisi Anda memerlukan kraniotomi, hal pertama yang akan Anda jalani adalah melakukan pemeriksaan CT scan guna melihat lokasi bagian otak Anda yang memerlukan prosedur kraniotomi. Pada tahapan ini akan dilakukan juga pemeriksaan fungsi saraf dan akan diminta menjalani puasa selama 8 jam. Pastikan Anda sudah memberi informasi pengobatan yang sedang dijalani, maupun riwayat alergi yang Anda miliki.
  • Proses operasi
    Pada proses operasi, kraniotomi akan dimulai dengan menyayat lapisan kulit kepala yang kemudian dijepit dan ditarik memperjelas kondisi di dalam. Kemudian tulang tengkorak akan dibor. Setelah bagian tersebut selesai, tulang tengkorak akan dipotong dengan menggunakan gergaji khusus. Langkah selanjutnya, tulang diangkat dan dokter mulai mengakses bagian otak yang perlu ditangani.Setelah pembukaan tulang tengkorak telah selesai, bagian otak yang mengalami kerusakan atau masalah akan diperbaiki, bahkan diangkat. Jika tindakan sudah selesai dilakukan, bagian tulang dan kulit kepala akan direkatkan kembali dengan menggunakan jahitan, kawat, atau staples bedah. Namun, jika Anda memiliki tumor pada tulang tengkorak atau tekanan rongga kepala tinggi, maka penutupan tulang tersebut mungkin tidak langsung dilakukan.
  • Pascaoperasi
    Pada pascaoperasi, dokter akan memantau kondisi Anda dan melakukan beberapa hal seperti, meminta Anda berbaring dengan posisi kepala lebih tinggi daripada posisi kaki, untuk mencegah kepala dan wajah bengkak. Setelah stabil, Anda akan dilatih menghirup napas dalam-dalam untuk mengembalikan fungsi paru-paru. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan dan memberikan terapi untuk sistem saraf. Dan sebelum Anda pulang, dokter akan mengajari beberapa cara untuk menjaga kebersihan area luka operasi.

Selama pemulihan, Anda butuh banyak istirahat beberapa minggu sampai energi Anda kembali pulih. Anda juga perlu memerhatikan baik-baik aktivitas yang dilakukan. Jangan mengendarai kendaraan atau mengangkat beban terlalu berat untuk mencegah ketegangan pada bagian bekas sayatan. Tunggu sampai dokter memperbolehkan Anda melakukan hal-hal tersebut.

Risiko Operasi Kraniotomi

Hampir sama dengan berbagai operasi lainnya, kraniotomi juga memiliki risiko selama proses operasi maupun pascaoperasi. Beragam risiko komplikasi yang mungkin terjadi pada operasi kraniotomi, di antaranya:

  • Infeksi
  • Perdarahan atau pembekuan darah
  • Otak membengkak
  • Pneumonia
  • Kejang
  • Tekanan darah tidak stabil
  • Kelemahan otot
  • Penurunan kesadaran

Selain itu, jika pada pascaoperasi kraniotomi Anda dapat mengalami beberapa hal, seperti kejang, kesulitan berbicara, lengan atau kaki menjadi lemah, kemampuan penglihatan menurun, tubuh menjadi demam atau menggigil, luka bekas operasi mengalami perdarahan atau bernanah, segeralah konsultasi ke dokter terkait untuk perawatan yang tepat.

Keputusan melakukan prosedur kraniotomi harus dilakukan secara hati-hati. Minta penjelasan sebanyak-banyaknya dari dokter bedah saraf, sehingga Anda agar lebih siap dalam menjalani kraniotomi dan risiko yang mungkin terjadi.