Ada beragam obat dermatitis yang dapat meredakan gejala serta mencegah terjadinya komplikasi. Penggunaan obat dermatitis tidak boleh sembarangan. Meski ada beberapa obat dermatitis yang dijual bebas, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan gejala pada dermatitis.

Dermatitis adalah istilah untuk peradangan pada kulit yang menyebabkan kulit jadi merah, gatal, terkelupas, bersisik, bahkan bengkak. Setidaknya ada 4 jenis dermatitis yang umum terjadi, yaitu dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis numularis, dan dermatitis seboroik.

Pilihan Obat Dermatitis sesuai Kondisi Kulit - Alodokter

Meski penyebabnya berbeda, keempat jenis dermatitis ini memiliki gejala yang serupa, yaitu peradangan pada kulit. Nah, obat dermatitis umumnya bertujuan untuk mengatasi peradangan tersebut, berikut berbagai keluhan yang menyertainya.

Berbagai Obat Dermatitis

Seperti dikatakan sebelumnya, obat yang diberikan untuk menangani dermatitis sebenarnya ditujukan untuk meredakan keluhan atau gejala. Sedangkan untuk mengatasi penyakitnya sendiri, cara yang terbaik adalah menghindari pemicunya.

Berikut adalah beberapa obat dermatitis yang sering diberikan oleh dokter:

1. Krim hidrokortison

Krim hidrokortison umum digunakan untuk meredakan gejala peradangan yang muncul di hampir setiap jenis dermatitis. Krim ini merupakan obat golongan kortikosteroid. Jika digunakan sembarangan dan tidak sesuai dengan anjuran dokter, dapat terjadi penipisan kulit, kulit kemerahan, kering, dan terasa seperti terbakar, iritasi, muncul stretch marks, dan terjadi perubahan warna kulit.

2. Antihistamin

Obat golongan antihistamin biasanya diresepkan untuk meredakan gejala alergi pada dermatitis kontak alergi, seperti kulit merah, gatal, dan bengkak. Obat ini bekerja dengan cara menghentikan pelepasan histamin, yaitu zat dihasilkan oleh tubuh saat terpapar zat pemicu alergi (alergen).

3. Obat minum golongan kortikosteroid

Selain yang berbentuk krim, obat golongan kortikosteroid yang diminum (oral) dalam bentuk pil atau kapsul juga bisa diberikan untuk meredakan peradangan pada dermatitis.

Akan tetapi, obat kortikosteroid ini harus dibeli dengan resep dokter dan tidak boleh digunakan sembarangan, apalagi dalam jangka panjang. Penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan efek samping berupa hipertensi, osteoporosis, dan diabetes. Sedangkan pada anak-anak, dapat terjadi gangguan pertumbuhan.

4. Antibiotik

Obat golongan antibiotik biasanya diberikan jika dermatitis disertai oleh tanda-tanda infeksi, seperti luka yang bernanah, nyeri pada luka, dan demam. Infeksi pada dermatitis bisa terjadi jika kulit yang gatal akibat dermatitis digaruk sampai luka, dan luka ini terpapar oleh bakteri.

5. Sampo antiketombe

Walaupun bukan obat, sampo antiketombe dapat digunakan untuk meredakan keluhan  dermatitis seboroik. Biasanya, sampo antiketombe mengandung asam salisilat, tar, seng pirition (zinc pyrithione), sulfat, ketokonazol, dan selenium.

6. Calcineurin inhibitor

Satu lagi obat yang sering diberikan untuk mengatasi dermatitis adalah obat golongan calconeurin inhibitor. Obat golongan ini tersedia dalam bentuk krim. Contohnya adalah tacrolimus. Cara kerja obat ini adalah dengan membantu perbaikan kulit serta mengurangi rasa gatal akibat dermatitis.

Di samping menggunakan obat dermatitis yang telah disebutkan di atas, ada juga beberapa perawatan yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala dermatitis, yaitu:

  • Menghindari produk atau bahan alergen.
  • Menghindari penggunaan sabun yang mengandung pewarna dan pewangi. Pada beberapa orang, bahan ini bisa menyebabkan iritasi.
  • Menggunakan pelembap secara rutin setelah mandi, setidaknya 2 kali sehari.
  • Tidak menggaruk kulit yang gatal.

Obat untuk dermatitis perlu disesuaikan dengan gejala dan jenis dermatitis yang terjadi. Jangan sembarangan menggunakan obat dermatitis tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter, karena beberapa obat dapat memperparah penyakit kulit lain yang gejalanya mungkin mirip dengan dermatitis.