Sstt, Ini Kalimat yang Sebaiknya Tidak Kamu Ucapkan pada Pasangan

Untuk membangun sebuah hubungan yang nyaman, kamu perlu mulai dari komunikasi yang saling membangun. Sudah menikah atau belum, bukan berarti kamu bisa bebas berkata apapun pada pasanganmu, lho. Ada kalimat-kalimat yang sebaiknya tidak kamu katakan jika tidak ingin situasi menjadi panas.

Sebenarnya kalau hubunganmu dan pasangan sehat, kamu berdua pasti merasa dapat saling bercerita dan berbagi tentang semua ide, pendapat, bahkan kritik. Ini hanya bisa berjalan kalau kamu dan pasangan memang saling percaya dan terbuka.
Sstt, Ini Kalimat yang Sebaiknya Tidak Kamu Ucapkan pada Pasangan-Alodokter

Tahan Diri Mengucapkan Kalimat Ini

Berikut beberapa kalimat yang sebaiknya tidak kamu ucapkan pada pasangan:.

  • Kamu seharusnya tidak merasa begitu

Kamu mungkin tidak berniat membuat pasangan merasa terpojok. Tetapi semua kalimat dengan kata “seharusnya” cenderung bersifat menghakimi. Apalagi jika kamu mempertanyakan alasan pasanganmu merasakan hal tertentu. Tidak ada orang yang dapat mengontrol apa yang harus ia rasakan.

Semua perasaan pasangan perlu dihargai dan didengarkan. Termasuk saat ia mengekspresikan kesedihan, kecemasan, kemarahan, atau malu. Mungkin ini akan membuatmu merasa tidak nyaman, terutama jika perasaannya menyangkut kamu. Tetapi tetap lebih baik untuk mendengarkan dan membicarakan tentang perasaan pasanganmu. Setelah tenang, ajak pasangan untuk berdiskusi bersama mengenai bagaimana seharusnya masalah tersebut dihadapi, dengan begitu, kamu dan pasangan bisa berkembang bersama tanpa perlu menggurui, apalagi menghakimi.

  • Kamu terlalu sensitif

Saat seseorang dihakimi karena merasa kecewa atau sedih, ia dapat merasa seakan-akan ada yang menghakimi kepribadiannya. Kamu mungkin berkata seperti itu karena ia sedang mengutarakan kekecewaannya padamu, sehingga kamu merasa perlu membenarkan diri dan menyalahkan mereka. Di saat seperti ini, penting untuk mencoba melihat perasaan dan pengalaman mereka dari sudut pandang mereka, bukan dari sudut pandangmu. Dengan begitu, kamu bisa memahaminya lebih jauh, dan tahu apa yang perlu kamu lakukan pada situasi tersebut.

  • Jangan menangis!

Biasanya pasangan pria dapat bereaksi macam-macam ketika melihat pasangannya menangis. Ada yang merasa canggung, malu, terganggu, atau bahkan marah. Tetapi, sebenarnya pria juga dapat dan sah-sah saja lho menangis. Hanya saja budaya membuat pria lebih sering memendam perasaannya.

Yang pasti, kalau pasanganmu menangis karena kesalahpahaman ataupun merasa tidak dipedulikan, maka hindari membuatnya semakin tidak nyaman dengan sekadar berkata, “Jangan menangis!”. Lebih baik dengarkan keluh kesahnya, sambil menenangkan dirinya, setelah itu baru beri ia penjelasan dan ajak ia bertukar pikiran untuk menemukan jalan keluar terbaik.

  • Kalau kamu sayang aku, harusnya kamu melupakan masa lalumu

Menerima seseorang itu berarti juga menerima masa lalunya, lho. Hidup bersama bukan berarti pasangan harus menghapus semua masa lalu. Justru masa lalu itu, baik ataupun buruk, yang membuat pasangan kamu bertumbuh.

Tidak perlu terus menerus memberi ultimatum, “Kalau kamu sayang, harusnya kamu tidak…”. Di sisi lain, kamu juga dapat mengutarakan keberatan jika merasa tidak nyaman dengan hal tertentu, misalnya jika ia berulang kali bercerita tentang mantan. Coba deh, temukan keseimbangan agar kamu tidak terlalu mempermasalahkan masa lalu, sekaligus membiarkannya nyaman bercerita. Intinya, hindari menciptakan masalah, dari permasalahan yang sebenarnya tidak ada. Pahami bahwa masa lalu ada sebagai pengalaman untuk kita belajar dan memperbaiki diri.

Selain contoh-contoh di atas, tentu saja banyak hal yang juga perlu dipertimbangkan sebelum diucapkan, atau memilih kalimat lain yang lebih halus dan sesuai konteks.

Menjaga Komunikasi dengan Pasangan

Meski ada beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari untuk diucapkan pada pasangan, namun bukan berarti kamu takut mengungkapkan perasaan. Menjaga komunikasi yang terbuka dengan pasangan, justru menjadi salah satu kunci hubungan sehat.

Pasangan seharusnya menjadi tempat berbagi cerita, mencurahkan perasaan, dan bisa membuat pasangannya dapat selalu menjadi dirinya sendiri. Saling jujur terhadap kondisi masing-masing, dapat memperkuat komitmen.

Untuk itu, kamu dan pasangan perlu berlatih untuk saling mendengarkan dan menerima pernyataan satu sama lain, tanpa merasa perlu menghakiminya. Sesungguhnya kemampuan untuk tidak menghakimi, dimulai dari kemampuan menerima diri sendiri. Kalau kamu bisa menerima kekurangan diri, kamu akan lebih mudah menerima kekurangan dari pasanganmu.

Jadi, sekarang kamu sudah bisa memperkirakan kalimat-kalimat yang sebaiknya kamu hindari atau justru perlu diucapkan pada pasangan, kan? Jangan sampai salah lagi ya!

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi