Keputusan bercerai biasanya diambil karena adanya deretan masalah yang hadir di dalam sebuah pernikahan. Namun, perceraian bukanlah jalan keluar sempurna tanpa cela. Ada konsekuensi yang perlu Anda pikirkan lebih lanjut, sebelum memutuskannya.

Pada sebagian kasus, perceraian mungkin bisa menjadi sebuah jalan keluar yang mungkin dapat memberikan rasa lega dan kebahagiaan. Namun kadang, perceraian justru dapat menimbulkan masalah lainnya, seperti depresi dan PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma yang kerap dialami dalam proses penyesuaian setelah perceraian.

Tidak Selamanya Perceraian Adalah Jalan Keluar yang Sempurna - Alodokter

Menimbang Terlebih Dahulu Sebelum Memutuskan

Ada beberapa hal yang perlu Anda pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan akhir untuk bercerai, di antaranya:

  • Masalah selama proses perceraian
    Perceraian tidak hanya memakan waktu, tapi juga bisa menambah luka bagi Anda, misalnya akibat pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak. Bahkan, ketika sidang perceraian Anda juga perlu memberikan kesaksian secara rinci mengenai alasan Anda untuk bercerai. Kesaksian ini tidak hanya mengorek luka lama pasangan, tapi mau tidak mau Anda juga harus membeberkan aib sendiri. Hal ini mungkin dapat memicu stres atau bahkan depresi.
  • Perkembangan anak terganggu
    Tidak mudah bagi anak untuk tumbuh di tengah kondisi perceraian. Tidak hanya orang tua, perceraian juga akan meninggalkan luka yang dalam bagi seorang anak. Anak enjadi saksi atas kepedihan perceraian, sehingga ia merasa tidak lagi memiliki keluarga dan kasih sayang yang utuh. Hal ini mungkin akan memberi pengaruh terhadap perkembangannya kelak. Anak Anda juga bisa merasa tidak percaya diri, kesepian, bahkan hingga menyebabkan gangguan dalam proses belajarnya.
  • Perhatian terhadap anak berkurang
    Selama masa pertumbuhan, anak akan sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua. Sayangnya dengan adanya proses perceraian, maka sebagai orang tua tunggal mungkin akan lebih fokus bekerja demi menghidupi anak. Bahkan, sebagian orang tua harus mengatasi semua masalah sendiri, sehingga sulit memiliki waktu untuk saling berbagi dan bercerita dengan anak.
  • Munculnya masalah keuangan
    Menjadi orang tua tunggal bukanlah perkara mudah. Misalnya, mantan pasangan Anda tidak lagi memberikan tunjangan untuk kebutuhan anak dengan memadai.

Setelah menimbang beberapa hal di atas dengan matang, Anda dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan kerabat yang dapat Anda percaya, atau psikolog, maupun konsultan pernikahan. Sehingga Anda dapat lebih yakin dalam menentukan apakah perceraian merupakan keputusan yang terbaik atau justru sebaliknya.