Bakteri Salmonella Ada di Dalam Telur Setengah Matang

Telur setengah matang kemungkinan dapat mengandung bakteri salmonella yang berbahaya. Sebagian jenis bakteri salmonella bisa mengakibatkan demam tifoid yang mematikan.

Bakteri salmonella bisa terdapat pada bagian luar (kulit) atau bagian dalam telur sehingga tidak dapat dideteksi dengan kasat mata. Kondisi ini menjadikan telur yang berbentuk, berbau, atau terasa normal dapat saja mengandung bakteri salmonella.

telur setengah matang-alodokter

Kabar baiknya, bakteri ini dapat dimatikan dengan memasak telur hingga matang. Untuk memastikan, telur dapat disebut setengah matang atau belum matang dari struktur kuning telurnya yang cair.

Infeksi bakteri salmonella sebenarnya dapat dicegah melalui pemberian vaksinasi kepada ayam sehingga menjadikan telurnya aman untuk dikonsumsi dalam keadaan setengah matang. Namun selama Anda belum dapat memastikan keamanan telur tersebut, disarankan untuk memasak telur hingga matang.

Selain diolah sendiri, telur setengah matang juga banyak terdapat di dalam produk siap santap, seperti mayonnaise, kue meringue, tiramisu, atau es krim, milkshakes, smoothies, salad dressing. Jika makanan-makanan ini Anda olah sendiri di rumah, upayakan untuk menggunakan telur yang terpasteurisasi, pada umumnya tersedia di supermarket. Pasteurisasi adalah proses pemanasan dengan suhu tinggi untuk membunuh bakteri.

Selain memasak telur hingga benar-benar matang, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari bakteri salmonella yang mungkin terkandung di telur:

  • Segera konsumsi makanan yang mengandung telur. Jika tidak segera dikonsumsi, sebaiknya makanan tersebut disimpan di lemari pendingin. Tetapi makanan ini harus segera dikonsumsi sebelum hari ketiga. Kue yang mengandung telur dapat bertahan hingga 2-3 hari dengan catatan tanpa paduan bahan lain yang mudah basi, seperti krim.
  • Goreng telur secara merata pada kedua sisi.
  • Rebus telur minimal hingga 7 menit.
  • Masa aman dan terbaik telur untuk dikonsumsi adalah maksimal 28 hari setelah menetas. Oleh karenanya, penting untuk menyimpan telur dalam lemari pendingin.  Jika tidak dalam kulkas, sebaiknya pastikan suhu tempat penyimpanan telur di bawah 20 derajat celcius.
  • Tempatkan telur terpisah dari makanan lain di dalam lemari pendingin.
  • Hindari membeli dan mengolah telur yang kulitnya sudah retak.
  • Setelah merebus telur, hindari menyimpannya di lemari pendingin lebih dari tiga hari.
  • Cuci tangan setelah mengolah telur untuk menghindari penyebaran bakteri.
  • Cuci juga peralatan untuk memasak telur dengan air hangat.
  • Bersihkan permukaan dapur dengan semprotan antibakteri.

Beberapa kelompok orang lebih berisiko mengalami infeksi bakteri salmonella dari telur, antara lain ibu hamil, bayi dan balita, orang lanjut usia, dan orang yang sedang sakit. Orang yang mengalami infeksi bakteri salmonella dapat mengalami gejala-gejala berupa sakit pada perut bagian atas, diare dan muntah parah, demam tinggi, sakit kepala, serta adanya darah pada tinja. Gejala ini dapat berlangsung 4-7 hari dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa antibiotik. Namun beberapa orang dapat mengalami diare yang sangat parah. Akibat paling buruk dari infeksi ini adalah tersebarnya infeksi dari usus ke pembuluh darah dan organ tubuh lain. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani.

Sebagai langkah mengonsumsi telur secara sehat, Anda dapat mengolahnya dengan cara direbus tanpa garam atau diorak-arik tanpa mentega. Sementara menggoreng telur dalam rendaman minyak dapat meningkatkan kandungan lemaknya hingga setengah kali lipat.