Hati-Hati, Eksibisionis Suka Pamer Organ Intim Secara Mengejutkan

Eksibisionis adalah suatu gangguan perilaku di mana seseorang senang menunjukkan organ intim pada orang lain yang tidak dikenal. Pelaku eksibisionis akan merasa puas jika orang lain terkejut atau terkesan dengan tindakannya tersebut.

Perilaku menyimpang ini lebih banyak dialami pria dan muncul saat akhir masa remaja atau dewasa muda. Sebagaimana perilaku seksual tidak normal lainnya, seiring usia maka kecenderungan perilaku eksibisionis ini akan semakin menurun. Tipe eksibisionis  dibagi lagi berdasarkan kepada siapa pelaku senang memperlihatkan organ intim, yaitu pada anak-anak, dewasa atau keduanya.

eksibisionis - alodokter

Dorongan Seksual Tidak Normal

Eksibisionis adalah salah satu dari sekelompok kelainan yang disebut parafilia, yaitu jenis gangguan perilaku yang ditandai dengan adanya dorongan seksual yang abnormal. Mereka memiliki fantasi seksual yang tinggi dan berlangsung berulang-ulang.

Sebenarnya orang-orang dengan kondisi eksibisionis ini jarang melakukan hal yang lebih dari sekedar memamerkan kemaluan. Mereka juga sangat jarang melakukan kontak seksual dengan korbannya.

Kemungkinan mereka akan melampiaskan fantasi seksual dengan cara masturbasi, sambil memamerkan kemaluan, dan menanti respons dari korban yang nampak terkejut atau bahkan tertarik. Meski demikian, pelaku eksibisionis tentunya dapat mengganggu dan meresahkan masyarakat sekitarnya.

Perilaku eksibisionis biasanya disebabkan karena faktor emosional pada masa kanak-kanak, termasuk pernah mengalami pelecehan seksual. Bisa juga karena suatu obsesi atau ketertarikan seksual pada masa kecil yang terus terbawa hingga dewasa, atau karena adanya kecenderungan sebagai seorang pedofilia yang mengincar anak-anak sebagai korbannya. Faktor pemicu lainnya yaitu adanya ketergantungan alkohol atau memiliki kepribadian antisosial.

Eksibisionis Bisa Diatasi

Sebenarnya keinginan atau dorongan untuk menunjukkan alat kelamin pada orang lain di depan umum dapat dikendalikan. Sayangnya, orang-orang yang mengalami kondisi ini biasanya tidak memiliki niat untuk berobat atau menolak saran tersebut. Orang-orang terdekat yang harus aktif membawa penderita eksibisionis untuk berobat. Terlebih jika kondisi eksibisionis masih dalam tahap awal, sehingga bisa diberikan penanganan lebih dini.

Penanganan untuk orang-orang dengan eksibisionis mencakup pemberian obat dan psikoterapi. Obat yang bersifat menghambat hormon seksual dianggap paling pas untuk orang-orang berperilaku eksibisionis, karena dapat menekan keinginan atau nafsu seksual. Sementara itu, terapi kognitif perilaku dianggap dapat membantu penderita mengenali faktor pemicu dan mengatasi dengan cara yang lebih positif.

Beberapa cara yang dapat digunakan dalam terapi kognitif perilaku, misalnya dengan memberikan rangsangan (stimulus) yang negatif untuk menurunkan nafsu seksual penderita; meminta penderita membayangkan suatu kejadian yang buruk (misalnya alat kelamin terjepit resleting pada saat melakukan tindakan eksibisionis); menyebarkan bau busuk ke udara di sekitar pasien pada saat dia diminta membayangkan sedang melakukan tindakan eksibisionis; atau memperlihatkan video tentang akibat dan hukuman pada perilaku tindakan menyimpang seksual (misalnya video bedah kastrasi).

Tujuannya agar pasien mengasosiasikan perilaku menyimpang tersebut dengan sesuatu yang negatif. Sehingga setiap kali pasien berpikir untuk melakukan tindakan eksibisionis, muncul perasaan negatif yang dapat menyurutkan niatnya.

Pengobatan dengan cara lainnya tentu saja ada. Antara lain dengan mendorong pasien untuk melakukan kegiatan keterampilan sosial. Dengan adanya berbagai kegiatan, diharapkan orang dengan perilaku eksibisionis ini dapat mengalihkan kebiasaan buruknya itu pada kegiatan yang lebih positif.

Menghadapi orang dengan eksibisionis memang perlu trik khusus, sebab mereka senang melakukan hal menyimpang tersebut. Bahkan terkadang sulit bagi mereka untuk mengendalikan diri. Bagaimana pun, perilaku yang dirasa menyenangkan akan sulit dilepas. Meski demikian tetap ada jalan untuk menyembuhkannya.