Ini Alasan Pernikahan Dini Tidak Disarankan

Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan sebelum mempelai berusia 18 tahun. Selain memiliki risiko dalam kesehatan perempuan, pernikahan dini juga memicu munculnya kekerasan seksual dan pelanggaran hak asasi manusia.

Hal ini bertolak belakang dengan undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1974 pasal 6. Di mana meski pihak pria diizinkan menikah pada usia 19 tahun, namun pihak wanita diizinkan menikah pada usia 16 tahun. Usia yang cukup dikatakan dini untuk sebuah pernikahan, hubungan seksual, hamil, dan mengurus anak.

ini alasan pernikahan dini tidak disarankan - alodokter

Kenapa Pernikahan Dini Tidak Dianjurkan

Salah satu alasan terjadinya pernikahan dini adalah agar terhindar dari fitnah. Misalnya hamil di luar nikah atau agar terhindar dari kekerasan seksual. Pernikahan dini juga bisa menimbulkan perkara lain. Berikut ini adalah alasan pernikahan dini sebaiknya tidak terjadi.

  • Risiko penyakit seksual meningkat
    Di dalam sebuah pernikahan, hampir tidak mungkin jika tidak ada hubungan seksual. Sedangkan hubungan seksual yang dilakukan oleh seseorang di bawah usia 18 tahun akan cenderung lebih memiliki risiko terkena penyakit menular seksual, seperti HIV. Ini karena pengetahuan dirinya tentang seks yang sehat dan aman masih minim.
  • Risiko kekerasan seksual meningkat
    Studi menunjukkan bahwa dibandingkan dengan wanita yang menikah pada usia dewasa, perempuan yang menikah pada usia di bawah 18 tahun lebih cenderung mengalami kekerasan dari pasangannya. Karena pada usia ini, ditambah dengan kurangnya pengetahuan, seorang perempuan di usia muda akan lebih sulit dan tidak berdaya menolak hubungan seks.
  • Risiko pada kehamilan meningkat
    Kehamilan di usia dini bukanlah hal yang mudah dan cenderung lebih berisiko. Deretan risiko yang mungkin terjadi pun tidak main-main dan bisa membahayakan bagi ibu maupun janin. Pada janin, risiko yang mungkin terjadi adalah berat badan rendah saat lahir dan anak terlahir prematur. Sedangkan bagi ibu akan berisiko mengalami anemia, kondisi di mana ibu akan merasa mudah lelah dan lemah. Hal inilah yang akan memengaruhi kondisi perkembangan janin.
    Risiko lainnya yang tidak kalah membahayakan adalah munculnya masalah preeklamsia. Kondisi di mana ibu mengalami peningkatan protein dalam urine dan mengalami tekanan darah tinggi. Perempuan yang menderita preeklamsia akan mengalami kaki atau tangan membengkak. Dan jika sudah terkena eklamsia, maka akan membahayakan janin dan dapat mengakibatkan kematian.

Tidak hanya dalam hal kesehatan, pernikahan dini juga bisa dikatakan merampas hak masa remaja perempuan itu sendiri. Di mana pada masa itu seharusnya dipenuhi oleh bermain dan belajar untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Namun, justru ditukar dengan beban pernikahan dan mengurus anak. Sebagian dari mereka yang menjalani pernikahan dini cenderung putus sekolah, karena mau tidak mau harus memenuhi tanggung jawabnya setelah menikah.

Pernikahan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Perlu kematangan baik dalam psikologi maupun fisik. Itulah kenapa pernikahan dini sebaiknya janganlah terjadi. Selain risiko risiko kesehatan di atas, dampak psikologis yang dirasakan juga bisa membebani perempuan tersebut.