Fakta Penting Seputar Kanker Serviks

Memercayai hal-hal yang belum tentu benar dapat membuat Anda lengah dalam mewaspadai bahaya sebenarnya dari kanker serviks.

Anda sudah lebih dari tiga tahun menikah atau aktif berhubungan seksual dan belum pernah menjalani pemeriksaan pap smear? Beberapa wanita percaya pada informasi yang belum tentu benar dan menunda memeriksakan diri untuk mendeteksi potensi keberadaan kanker serviks. Berikut ini adalah mitos-mitos yang beredar, sekaligus fakta yang meluruskannya, seputar kanker yang terletak di leher rahim itu.

Mitos Seputar Kanker Serviks-Alodokter

Mitos 1: Kanker serviks tidak dapat dicegah.

Fakta: Meski tidak 100 persen melindungi, infeksi virus human papilloma atau HPV dapat dicegah dengan vaksin HPV. Selain itu, dengan menjalani pap smear secara teratur bisa membuat sel-sel abnormal dapat terdeteksi secara dini dan ditangani sebelum menjadi sel kanker. Menghindari tindakan tertentu seperti berhubungan seksual di usia dini, berganti-ganti pasangan seksual, dan merokok juga dapat mengurangi risiko terkena kanker serviks.

Mitos 2: Jika terdeteksi telah terinfeksi HPV, berarti Anda pasti mengidap kanker serviks.

Fakta: Belum tentu. Terdapat lebih dari 100 jenis HPV yang tidak semuanya menjadi pemicu kanker serviks. HPV tipe 16 dan 18 adalah penyebab 70 persen kasus-kasus kanker leher rahim.

Mitos 3: Wanita yang sudah mendapat vaksin HPV tidak perlu lagi menjalani pap smear.

Fakta: Vaksin HPV hanya melindungi Anda dari tiga tipe virus paling umum sebagai penyebab kanker serviks. Namun ada jenis virus lain yang juga dapat mengakibatkan kanker. Dengan demikian, pemeriksaan pap smear secara teratur tiap 3 tahun sekali (untuk wanita berusia 21 hingga 65 tahun) tetap dibutuhkan untuk mendeteksi keberadaan sel abnormal.

Mitos 4: Penanganan kanker serviks membuat penderita tidak dapat memiliki keturunan lagi.

Fakta: Histerektomi atau pengangkatan rahim serta radiasi memang dapat membuat Anda tidak dapat lagi mengandung. Namun terdapat prosedur lain untuk menangani kanker serviks stadium awal, seperti trakelektomi, yaitu prosedur mengangkat leher rahim tanpa mengikutsertakan rahim, sehingga pasien yang menjalaninya tetap dapat mengandung. Penanganan sel abnormal sebelum berubah menjadi kanker juga berisiko lebih kecil dalam menyebabkan kemandulan.

Mitos 5: Saya tidak merasakan gejala apa pun sehingga tidak mungkin mengidap kanker serviks.

Fakta: Infeksi HPV pada tahap awal tidak menimbulkan gejala apa pun. Gejala seperti pendarahan setelah berhubungan seksual atau di antara masa menstruasi umumnya dialami setelah sel abnormal telah menjadi kanker serviks. Ini sebabnya pemeriksaan pap smear secara rutin tiap 3 tahun sekali diperlukan untuk mendeteksi jika terjadi perubahan sel. Selain itu, tidak semua kasus kanker serviks menimbulkan gejala yang jelas; ada beberapa kasus yang tidak menyebabkan gejala sebelum mencapai stadium lanjut.

Mitos 6: Jika Anda terkena kanker serviks, berarti pasangan Anda yang sekarang tidak setia.

Fakta: Virus HPV dapat tinggal dalam tubuh tanpa menunjukkan gejala apa pun dalam hitungan tahun. Dengan kata lain, sulit untuk memastikan sejak kapan seseorang menderita kanker serviks.

Mitos 7: Saya tidak akan terkena virus HPV selama saya berhubungan seksual menggunakan kondom.

Fakta: Penggunaan kondom memang dapat mengurangi risiko penularan virus HPV. Namun langkah ini tidak memberikan perlindungan 100 persen karena virus dapat menyebar melalui persentuhan kulit yang tidak tertutupi kondom, seperti vulva, anus, area perineum, pangkal penis, dan skrotum (kantung zakar).

Mitos 8: Semua pengidap kanker serviks tidak akan memiliki harapan hidup.

Pengidap kanker serviks yang terdeteksi pada stadium awal dan dapat memiliki harapan hidup dalam 5 tahun mencapai 93 persen. Harapan hidup makin tinggi jika kanker didiagnosis makin awal. Di sinilah pentingnya memeriksakan diri dengan pap smear secara teratur.

Mengetahui informasi yang tepat dapat membuat Anda lebih berwaspada terhadap bahaya kanker serviks dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat.