Sering Bohong Ternyata Bisa Jadi Penyakit

Hampir setiap orang pernah berkata bohong ataupun dibohongi. Nyatanya, untuk mengetahui apakah seseorang tengah mengucapkan kalimat bohong atau tidak, dapat dicermati melalui ekspresi wajah.

Ada beragam alasan seseorang berbohong, mulai dari menghindari perasaan tidak enak, merasa lebih dihargai, ataupun membuat orang lain merasa kagum. Ada pula jenis bohong putih yang seringkali disebut sebagai bohong untuk kebaikan. Secara umum, semua jenis kebohongan memiliki konsekuensi yang tidak baik.

Sering bohong ternyata bisa jadi penyakit - alodokter

Mengetahui Tanda-tandanya

Para ahli meyakini, seseorang yang berbohong dapat dikenali melalui ekspresi pada wajah yang tidak disadari. Ekspresi tersebut digerakkan oleh otot-otot yang berada di sekitar alis,  dahi, dan bibir. Ketika berbohong bersifat sesuatu yang emosional, maka tanda-tanda tersebut akan semakin jelas.

Studi yang dilakukan kemudian membandingkan ekspresi pada wajah antara orang yang berbohong dan yang berkata jujur.

Saat berkata jujur, maka lebih banyak kontraksi otot di sekitar mata dan mulut. Sementara itu, pembohong tampak lebih banyak mengalami kontraksi otot di sekitar dahi dan pipi. Dahi yang tampak jelas berkerut saat seseorang berbicara, merupakan salah satu tanda kejujurannya dipertanyakan.

Meski demikian, ada sebagian wajah yang tampak polos. Wajah ini bisa saja mengecoh orang lain yang menyangkanya selalu berkata jujur, walaupun sebenarnya tidak begitu.

Wajah-wajah tak berdosa ini umumnya terlihat simetris antara sisi kanan dan kiri, tampak menarik dengan mata yang besar, memiliki kulit halus dan dahi lebar yang sesuai dengan bentuk dagunya, atau sering dikategorikan memiliki wajah bayi atau baby face.

Meningkatkan Depresi dan Risiko Penyakit

Ternyata berbohong tidak hanya memiliki akibat sosial, namun juga memengaruhi kondisi kesehatan dan usia. Peneliti menghubungkan, kebiasaan berbohong dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, kecanduan judi, dan juga risiko kanker serta obesitas. Selain itu, berbohong juga dapat menurunkan kualitas hubungan dan kepuasan kerja.

Bagaimana hal itu terjadi? Hal ini disebabkan meningkatnya stres pada seseorang saat berbohong. Ada beban emosional dan fisik yang dirasakan seorang pembohong. Apalagi, berbohong seringkali harus diikuti dengan kebohongan berikutnya.

Sebuah studi lain menguatkan hal tersebut. Disebutkan, seseorang yang berusaha berkata jujur, memiliki hubungan yang lebih baik dan semakin sedikit mengalami gangguan kesehatan. Rupanya, perbaikan dalam hubungan dapat meningkatkan kondisi kesehatan.

Berhati-hati pula berbohong jika Anda memiliki anak, sebab seorang peneliti meyakini, anak belajar hal tersebut dari orang tuanya. Ketika anak mendengar orang tua berbohong, maka ia akan menganggap hal itu diperbolehkan. Waspadai jika berbohong semakin menjadi kebiasaan yang berbahaya.

Kejujuran memang tidak selalu menyenangkan, namun, mengatakan atau mendengar kebohongan justru lebih menyakitkan. Ungkapkan hal sebenarnya sambil mengupayakan kompromi. Sedapat mungkin hindari berkata bohong untuk kondisi kesehatan dan hubungan sosial yang lebih baik.