Ternyata Ada Risiko Kontrasepsi Tubektomi bagi Wanita

Salah satu metode kontrasepsi permanen bagi wanita yaitu tubektomi. Sebelum memutuskan untuk menjalaninya ketahui dulu risiko-risikonya.

Tubektomi atau ligasi tuba dilakukan dengan memotong atau menutup tuba falopi sehingga sel telur tidak masuk ke rahim, sekaligus menghalangi sperma ke tuba falopi. Proses tubektomi dapat dilakukan kapan saja, termasuk yang dilakukan setelah persalinan normal ataupun caesar.

Ternyata ada risiko kontrasepsi  tubektomi bagi wanita - alodokter

Relatif Aman

Tubektomi digolongkan sebagai prosedur yang aman dengan risiko komplikasi kurang dari 1 persen. Meski demikian, sebagaimana prosedur operasi, tetap ada risiko ketika dilakukan anastesi. Selain itu, terdapat pula risiko pendarahan atau infeksi saat dilakukan tindakan tubektomi.

Risiko lain dari prosedur tubektomi yaitu kerusakan usus, kantung kemih, dan pembuluh darah utama. Nyeri pada panggul atau perut yang berkelanjutan juga dapat terjadi.

Penutupan tuba falopi yang tidak sempurna pada saat tubektomi dapat menyebabkan kehamilan yang berisiko menjadi kehamilan ektopik. Hal ini tergolong berbahaya dan harus segera mendapat penanganan.

Beberapa kondisi meningkatkan risiko komplikasi tubektomi, seperti :

  • Pernah menjalani operasi panggul atau perut sebelumnya.
  • Obesitas.
  • Diabetes

Keunggulan & Kelemahan Tubektomi

Di samping risiko, tubektomi memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan yang perlu diketahui sebelum menjalankan prosedur tersebut. Keunggulan tubektomi antara lain :

  • Tidak akan memengaruhi produksi hormon sehingga tidak akan ¬†terjadi perubahan pada gairah seks ataupun menstruasi.
  • Tidak memengaruhi kapan terjadi menopause.
  • Berkurangnya kekhawatiran hamil saat melakukan hubungan seksual, karena tubektomi bertujuan untuk mencegah kehamilan secara permanen.
  • Hanya perlu satu kali menjalani tubektomi.
  • Dapat mengurangi risiko kanker ovarium.

Ada pula kelemahan dari prosedur tubektomi, seperti :

  • Tidak dapat melindungi dari penyakit atau infeksi menular seksual, sehingga masih diperlukan alat kontrasepsi lain seperti kondom.
  • Sulit untuk dilakukan penyambungan tuba kembali apabila wanita yang telah menjalani tubektomi ingin kembali hamil.
  • Semakin muda usia seorang wanita melakukan tubektomi, maka semakin tinggi kemungkinan gagal.
  • Biayanya relatif besar.

Jenis-jenis Tubektomi

Ada beberapa metode prosedur tubektomi. Umumnya tubektomi dilakukan pada wanita setelah melahirkan baik dengan persalinan normal ataupun bersamaan dengan operasi caesar. Biasanya degan memakai metode minilaparotomi, yaitu menggunakan sayatan kecil di bawah pusar.

Jika dilakukan di luar masa persalinan, maka tubektomi biasanya dilakukan dengan laparoskopi. Tindakan tersebut mengharuskan pasien memperoleh anastesi. Dokter akan membuat sayatan kecil dan memasukkan tabung kecil yang dinamakan laparoskop.

Setelah menjalani prosedur tersebut, sebagian wanita disarankan untuk tidak berolahraga selama beberapa hari, meski umumnya dapat kembali beraktivitas normal. Setelah merasa siap, wanita yang melakukan tubektomi di luar masa persalinan dapat segera melakukan aktivitas seksual, biasanya setelah satu hingga dua minggu.

Tubektomi sebagai kontrasepsi permanen sebaiknya disepakati bersama dengan pasangan. Pikirkan risiko serta keunggulan dan kelemahan tubektomi untuk Anda dan pasangan. Kemudian konsultasikan dengan dokter mengenai kemungkinan untuk menjalani prosedur tersebut.