Sebagian besar penyebab kista ovarium berhubungan dengan siklus menstruasi. Namun, kondisi lain yang tidak terkait dengan siklus menstruasi, seperti PCOS, juga bisa menjadi penyebab kista ovarium.

Kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang terbentuk di ovarium (indung telur). Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kista ovarium, mulai dari gangguan hormon, kehamilan, infeksi panggul, hingga pernah menderita kista ovarium sebelumnya. Penyebab kista ovarium beragam, tergantung pada jenisnya.

7 Penyebab Kista Ovarium Menurut Jenisnya - Alodokter

Penyebab Kista Ovarium Berdasarkan Jenisnya

Kista ovarium terbagi menjadi dua jenis, yaitu kista yang disebabkan oleh siklus menstruasi (kista fungsional) dan kista yang bukan disebabkan oleh siklus menstruasi (kista nonfungsional).

Kista fungsional bisa berupa kista folikel ataupun kista korpus luteum. Kista ovarium ini umumnya tidak berbahaya karena ovarium masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Sementara itu, beberapa jenis kista nonfungsional adalah kista dermoid, kistadenoma, endometriosis, PCOS, dan kanker ovarium. Kista ovarium ini perlu dipantau untuk memastikan tidak terjadi komplikasi

Berikut ini penjelasan tentang penyebab kista ovarium berdasarkan jenisnya:

1. Kista folikel

Setiap bulannya, kantung kecil di ovarium (folikel) melepaskan telur sebagai bagian dari siklus menstruasi. Jika folikel tidak pecah, kantung tersebut akan membesar dan membentuk kista folikel. Kista ini akan hilang dengan sendirinya dalam 1–3 bulan.

Kista folikel termasuk dalam jenis kista fungsional. Kista ini kerap terjadi pada wanita yang menerima pengobatan infertilitas.

2. Kista korpus luteum

Setelah semua telur dilepaskan selama siklus menstruasi, folikel menjadi kosong dan menyusut, serta bersiap untuk memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Folikel kosong inilah yang disebut dengan korpus luteum.

Kista akan terbentuk jika cairan atau darah terkumpul di dalam korpus luteum. Kondisi ini mungkin menyebabkan rasa sakit yang disertai perdarahan. Sama halnya dengan kista folikel, kista korpus luteum juga termasuk dalam kista fungsional.

3. Kista dermoid

Kista dermoid merupakan jenis kista ovarium yang tidak terkait dengan siklus menstruasi. Kista ini terbentuk dari sel yang menghasilkan sel telur di ovarium. Isi kista dermoid sering kali berupa rambut, kulit, jaringan lemak, atau gigi.

Ukuran kista dermoid dapat mencapai 15 cm. Jenis kista yang satu ini dapat diturunkan dalam keluarga dan sering menyerang wanita muda.

4. Kistadenoma

Penyebab kista ovarium ini bukanlah siklus menstruasi, melainkan sel-sel yang berkembang menutupi permukaan ovarium. Kistadenoma berisi cairan atau lendir yang ukurannya dapat membesar. Kista ovarium yang satu ini biasanya bersifat jinak, tetapi ada juga yang bersifat kanker.

5. Endometriosis

Endometriosis merupakan kista di ovarium yang mengandung jaringan endometrium atau jaringan yang melapisi dinding rahim (uterus). Kondisi ini juga sering disebut kista cokelat karena berisi darah menstruasi yang berwarna cokelat. Endometriosis merupakan kista nonfungsional dan umumnya bersifat jinak.

6. Sindrom polikistik ovarium (PCOS)

Penderita PCOS memiliki banyak kantong kista di sekitar ovarium. Penyebab kista ovarium yang satu ini adalah ketidakseimbangan hormon. Ada beberapa gejala yang kerap menyertai PCOS, seperti gangguan menstruasi, jerawat, obesitas, dan masalah kesuburan.

7. Kanker ovarium

Meski jarang terjadi, kanker dapat menjadi salah satu penyebab kista ovarium. Kista nonfungsional ini lebih umum terjadi pada wanita yang telah menopause.

Pada beberapa kasus, kista ovarium yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi berupa pecahnya kista ovarium atau rasa sakit yang muncul akibat terpuntirnya ovarium (torsi ovarium).

Sayangnya, banyak kasus kista ovarium tidak menimbulkan gejala sama sekali, terutama jika kista berukuran kecil. Hal ini membuat penyebab kista ovarium tidak terdeteksi sejak dini sampai ukuran kista membesar. Gejala yang mungkin dirasakan saat kista membesar adalah:

  • Nyeri panggul yang hilang timbul
  • Perut kembung
  • Adanya tekanan pada perut
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Nyeri hebat saat menstruasi

Jika Anda merasakan beberapa gejala tersebut, konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya. Dokter akan melakukan serangkaian tes untuk mendiagnosis apakah kondisi yang Anda alami merupakan gejala kista ovarium, seperti pemeriksaan panggul, USG, pemeriksaan CA 125, atau laparoskopi.

Jika hasil tes menunjukkan Anda menderita kista ovarium, dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan penyebab kista ovarium.