Penyakit akibat kekurangan zat besi dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia. Kondisi ini tidak hanya membuat tubuh terasa lemas, tetapi juga bisa memicu berbagai masalah kesehatan serius bila tidak ditangani dengan tepat.

Zat besi adalah mineral untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Jika asupannya kurang, produksi sel darah merah menurun sehingga pasokan oksigen ke organ tubuh menjadi tidak optimal.

9 Penyakit Akibat Kekurangan Zat Besi - Alodokter

Bila kekurangan zat besi terjadi dalam waktu lama, kondisi ini dapat berkembang menjadi berbagai penyakit, mulai dari yang ringan hingga berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, mengenali penyakit akibat kekurangan zat besi penting agar pencegahan dapat dilakukan sejak dini.

Daftar Penyakit Akibat Kekurangan Zat Besi

Berikut ini adalah beberapa penyakit dan kondisi kesehatan yang sering dikaitkan dengan kekurangan zat besi, beserta penjelasan penyebabnya:

1. Anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi merupakan penyakit akibat kekurangan zat besi yang umum terjadi. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup, sehingga sel darah merah tidak dapat mengangkut oksigen secara optimal.

Akibatnya, penderita dapat mengalami lemas, cepat lelah, kulit pucat, pusing, sakit kepala, hingga jantung berdebar.

2. Sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome)

Kekurangan zat besi dapat memengaruhi fungsi sistem saraf, termasuk saraf yang mengatur pergerakan otot. Hal ini dapat menimbulkan sindrom kaki gelisah, yaitu sensasi tidak nyaman pada kaki yang disertai dorongan kuat untuk terus menggerakkannya. Keluhan ini biasanya muncul saat beristirahat atau pada malam hari.

3. Gangguan tumbuh kembang pada anak

Pada anak-anak, zat besi sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anak mengalami keterlambatan pertumbuhan, gangguan konsentrasi, serta kesulitan belajar.

Jika tidak ditangani, dampaknya bisa berlangsung jangka panjang dan memengaruhi prestasi serta perkembangan anak.

4. Penurunan daya tahan tubuh

Zat besi berperan penting dalam mendukung fungsi sistem imun. Saat tubuh kekurangan zat besi, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi akan menurun. Akibatnya, penderita menjadi lebih mudah terserang penyakit, seperti flu, infeksi saluran pernapasan, pneumonia, atau infeksi saluran cerna.

5. Glositis dan stomatitis

Kekurangan zat besi dapat mengganggu kesehatan jaringan di mulut. Akibatnya, bisa terjadi glositis (radang lidah) dan stomatitis (radang mulut). Kondisi ini ditandai dengan nyeri, bengkak, lidah tampak licin, atau muncul luka, sehingga makan dan berbicara terasa tidak nyaman.

6. Koilonychia

Koilonychia adalah perubahan bentuk kuku menjadi tipis, rapuh, dan cekung seperti sendok. Kondisi ini termasuk salah satu penyakit akibat kekurangan zat besi yang biasanya terjadi akibat anemia defisiensi besi dalam jangka waktu lama. Perubahan pada kuku ini dapat menjadi tanda bahwa tubuh mengalami kekurangan zat besi secara kronis.

7. Pica

Pica merupakan salah satu penyakit akibat kekurangan zat besi yang ditandai dengan keinginan mengonsumsi benda bukan makanan, seperti tanah, kapur, kertas, atau es batu. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi, keracunan, serta gangguan pencernaan, meski mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami.

8. Gangguan kehamilan dan pertumbuhan janin

Pada ibu hamil, kebutuhan zat besi meningkat untuk mendukung pertumbuhan janin dan volume darah ibu. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, ibu hamil berisiko mengalami anemia, kelelahan berat, serta komplikasi kehamilan.

Selain itu, kekurangan zat besi juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan gangguan perkembangan janin.

9. Gangguan irama jantung (aritmia)

Aritmia termasuk salah satu penyakit akibat kekurangan zat besi yang dapat terjadi bila anemia defisiensi besi tidak ditangani. Kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh, sehingga dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi jantung dan organ vital lainnya.

Tidak semua orang yang kekurangan zat besi akan mengalami seluruh kondisi di atas. Namun, bila Anda sering merasa lemas, mudah terkena infeksi, atau melihat perubahan pada kuku dan mulut, sebaiknya lakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan penyebabnya.

Untuk mencegah penyakit akibat kekurangan zat besi, konsumsilah makanan yang kaya zat besi, seperti daging merah, hati, ikan, sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, serta telur. Penyerapan zat besi juga dapat ditingkatkan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk dan tomat.

Selain itu, pemeriksaan rutin ke dokter sangat dianjurkan bagi ibu hamil, wanita dengan menstruasi berat, anak-anak, serta penderita penyakit kronis. Dengan deteksi dan penanganan sejak dini, risiko komplikasi akibat kekurangan zat besi dapat diminimalkan.

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada penyakit akibat kekurangan zat besi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi dan saran medis yang sesuai dengan kondisi Anda. Konsultasi dapat dilakukan secara online melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER.