Memanfaatkan antibiotik untuk batuk, hanya untuk batuk jenis tertentu. Sebab, tidak semua jenis batuk memerlukan pengobatan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, justru dapat menimbulkan risiko efek samping.

Sebenarnya batuk merupakan reaksi alami tubuh untuk membersihkan tenggorokan atau saluran pernapasan dari benda asing. Meski umumnya batuk yang terjadi sesekali merupakan hal yang normal, namun dapat juga merupakan gejala dari penyakit tertentu. Misalnya flu, reaksi alergi, radang dan infeksi saluran pernapasan seperti bronkitis hingga tuberkulosis.

Antibiotik untuk Batuk, Temukan Informasinya di Sini - Alodokter

Konsumsi Antibiotik untuk Batuk dengan Tepat

Antibiotik memiliki fungsi utama membunuh atau mencegah infeksi bakteri. Jika batuk yang Anda alami bukan disebabkan oleh infeksi bakteri, antibiotik tidak akan mampu menyembuhkan penyakit Anda. Sebaliknya, jika batuk yang Anda alami terjadi karena pengaruh infeksi bakteri, besar kemungkinan antibiotik adalah obat yang tepat untuk batuk Anda alami.

Namun, untuk memastikan penyebab batuk dan jenis antibiotik untuk batuk yang tepat, Anda harus berkonsultasi dengan dokter. Berdasarkan hasil pemeriksaan untuk menentukan penyebab batuk, dokter akan merekomendasikan pengobatan dan menilai pemberian antibiotik untuk batuk yang sesuai.

Jika benar batuk disebabkan bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik yang sesuai dengan bakteri penyebab dan kondisi Anda. Antibiotik untuk batuk umumnya dikonsumsi selama kurang lebih satu minggu, meski pada jenis obat dan kondisi tertentu mungkin saja dikonsumsi selama kurun waktu yang lebih singkat atau lebih panjang. Selain itu, kemungkinan dokter juga akan memberikan tambahan obat batuk sesuai jenis batuk, misalnya obat batuk yang dapat mempermudah keluarnya dahak (ekspektoran) untuk batuk berdahak, atau obat batuk untuk mengurangi batuk (antitusif) untuk batuk kering yang mengganggu.

Mempertimbangkan Risiko Efek Samping Antibiotik

Yang perlu diperhatikan adalah penggunaan antibiotik secara sembarangan bisa menyebabkan efek samping yang justru akan membahayakan tubuh Anda.  Konsumsi obat antibiotik terlalu banyak dapat memicu resistensi atau kekebalan bakteri terhadap antibiotik. Akibatnya, di kemudian hari antibiotik itu menjadi tidak efektif untuk melawan bakteri tersebut karena sudah kebal. Di samping itu, antibiotik dapat menimbulkan efek samping, serta reaksi negatif yang timbul saat digunakan bersamaan dengan obat-obatan lainnya.

Di bawah ini adalah beberapa efek samping yang mungkin ditimbulkan:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Perut kembung, mual, dan muntah
  • Perut terasa nyeri dan diare
  • Muncul reaksi alergi seperti sesak napas, mengi, atau ruam di kulit.

Cara Sederhana Mengobati Batuk di Rumah

Umumnya batuk akan membaik dalam waktu dua minggu, tanpa perlu pengobatan khusus. Terutama batuk yang tergolong ringan dan tidak mengganggu.

Beberapa cara sederhana untuk mengobati batuk yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Minum air putih yang cukup.
  • Berkumur dengan air garam secara berkala.
  • Hindari paparan debu penyebab iritasi tenggorokan.
  • Tidur dengan bantal tambahan agar posisi kepala lebih tinggi.
  • Minum teh yang ditambahkan madu dan jahe untuk melegakan tenggorokan.

Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter. Demikian pula batuk yang disertai dengan demam, sakit kepala, nyeri dada, linglung, batuk berdarah atau sesak napas. Bisa jadi penyebabnya lebih serius.

Selalu konsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi antibiotik untuk batuk, dan jalani pengobatan antibiotik sesuai dengan anjuran dokter. Pastikan Anda mengikuti dosis dan cara pakai, serta mengonsumsi antibiotik yang telah diresepkan dokter sampai habis, untuk menghindari risiko efek samping antibiotik.