Auskultasi adalah salah satu metode pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter untuk mendeteksi berbagai masalah kesehatan. Dengan menggunakan stetoskop, dokter akan mendengarkan suara-suara di dalam tubuh, seperti detak jantung, napas dari paru-paru, atau pergerakan usus di perut.
Auskultasi biasanya dilakukan saat pemeriksaan fisik rutin atau ketika pasien datang dengan keluhan, misalnya batuk, sesak napas, nyeri dada, atau sakit perut. Pemeriksaan ini tergolong sederhana, tidak menimbulkan rasa sakit, dan bisa memberikan gambaran awal kondisi organ dalam.

Pada sebagian kasus, auskultasi bisa menjadi kunci untuk mendeteksi masalah kesehatan yang belum terlihat dari gejala atau pemeriksaan lain. Prosedur ini dapat membantu dokter menemukan tanda-tanda penyakit sejak dini dan menentukan langkah pemeriksaan atau pengobatan selanjutnya.
Namun, auskultasi tidak dapat dilakukan pada organ atau bagian tubuh yang keras dan tidak menghasilkan bunyi khas, seperti tulang. Organ hati (liver) juga tidak dinilai melalui auskultasi untuk mendengarkan bunyi khusus. Selain itu, otak juga tidak dapat diauskultasi karena terlindungi oleh tulang tengkorak.
Fungsi Auskultasi dalam Pemeriksaan Medis
Perlu diketahui bahwa auskultasi adalah salah satu bagian dari pemeriksaan fisik yang secara umum terdiri dari empat prinsip utama, yaitu:
- Inspeksi atau observasi untuk melihat kondisi pasien secara langsung untuk menilai adanya perubahan bentuk, warna, atau tanda kelainan tertentu.
- Palpasi dilakukan dengan menyentuh atau menekan bagian tubuh untuk menilai adanya nyeri, pembengkakan, suhu, atau kelainan lainnya.
- Perkusi, yaitu mengetuk bagian tubuh guna menilai kepadatan jaringan atau mendeteksi adanya cairan maupun udara di dalam rongga tubuh.
- Auskultasi, yaitu mendengarkan bunyi dari dalam tubuh menggunakan stetoskop, seperti bunyi napas, bunyi jantung, atau suara dari saluran cerna.
Auskultasi memiliki beberapa tujuan utama yang berguna dalam proses diagnosis, antara lain:
1. Mendengarkan suara jantung
Dalam pemeriksaan auskultasi, dokter akan mendengarkan suara jantung menggunakan stetoskop untuk menilai kecepatan detak (frekuensi), keteraturan irama, serta kekuatan bunyi jantung pasien.
Selain bunyi jantung normal, dokter juga dapat mendeteksi adanya suara tambahan, seperti gumaman (murmur), klik, atau suara jantung abnormal lainnya.
Temuan tersebut bisa menjadi petunjuk adanya kelainan pada katup jantung, gangguan irama jantung, maupun kondisi medis lain, seperti gagal jantung. Melalui deteksi dini dengan auskultasi, berbagai masalah jantung dapat dikenali lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
2. Mendeteksi suara napas di paru-paru
Melalui auskultasi paru-paru, dokter dapat menilai apakah suara napas terdengar bersih dan normal atau justru terdapat bunyi tambahan yang tidak semestinya. Auskultasi juga membantu dokter dalam menilai apakah bunyi napas terdengar normal dan seragam di paru kiri maupun kanan.
Bila terdapat perbedaan suara antara kedua sisi, hal ini dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada salah satu paru.
Untuk mendeteksi suara napas secara menyeluruh, dokter akan menempelkan stetoskop pada beberapa titik pemeriksaan, yaitu di bagian depan dada, sisi kanan dan kiri tubuh, serta di punggung. Pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis agar seluruh area paru dapat dinilai dengan baik.
Salah satu bunyi tambahan yang dapat terdengar adalah mengi, yaitu suara napas bernada tinggi yang sering dijumpai pada penderita asma atau reaksi alergi.
Selain itu, suara “menggerutuk” yang umumnya menandakan adanya cairan di saluran napas, misalnya pada kondisi pneumonia. Bunyi lain yang juga dapat ditemukan adalah krepitasi berupa suara “berderak” halus yang sering berkaitan dengan infeksi paru atau edema paru.
Dengan mengenali karakteristik masing-masing bunyi napas tersebut, dokter dapat lebih mudah memperkirakan penyebab keluhan dan menentukan diagnosis serta langkah pemeriksaan atau penanganan selanjutnya.
3. Memeriksa suara di perut
Auskultasi pada perut dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas usus yang secara normal menghasilkan suara “gemericik” dengan pola teratur.
Apabila suara usus terdengar sangat lemah atau bahkan tidak terdengar sama sekali, kondisi ini dapat mengindikasikan adanya gangguan, seperti ileus, yaitu keadaan ketika pergerakan usus melambat atau berhenti.
Sebaliknya, suara usus yang terdengar sangat nyaring dan terlalu sering dapat menjadi tanda diare atau fase awal obstruksi usus. Selain itu, infeksi saluran pencernaan juga kerap menyebabkan perubahan pada frekuensi maupun karakter suara usus, sehingga hasil auskultasi dapat membantu dokter menilai kondisi perut secara lebih menyeluruh.
4. Memantau perkembangan penyakit dan efektivitas pengobatan
Auskultasi tidak hanya berguna untuk diagnosis awal, tetapi juga penting dalam memantau apakah penyakit yang diderita pasien membaik atau memburuk setelah pengobatan.
Misalnya, pada pasien gagal jantung, dokter dapat menilai perubahan suara jantung atau paru-paru setelah pemberian obat. Demikian pula pada pasien infeksi paru, perubahan bunyi napas saat atau setelah terapi dapat menjadi petunjuk keberhasilan pengobatan.
5. Mengidentifikasi cairan atau udara abnormal di rongga tubuh
Melalui auskultasi, dokter dapat menduga adanya penumpukan cairan di rongga pleura (efusi pleura) apabila pada area tertentu paru-paru terdengar lebih “hampa” atau bahkan tidak terdengar suara napas sama sekali.
Kondisi serupa juga dapat ditemukan pada pneumotoraks, yaitu adanya udara di rongga dada di luar paru-paru, yang menyebabkan suara napas melemah atau menghilang di bagian tertentu.
Temuan auskultasi ini merupakan petunjuk awal yang sangat penting bagi dokter sebelum melanjutkan pemeriksaan penunjang, seperti rontgen dada, guna memastikan diagnosis secara lebih akurat.
6. Membantu menentukan apakah pemasangan pipa NGT sudah tepat
Auskultasi pada perut dapat digunakan untuk membantu memastikan apakah selang nasogastrik atau NGT (nasogastric tube) telah terpasang dengan benar di dalam lambung.
Dalam prosedur ini, dokter atau tenaga medis akan menyuntikkan udara melalui selang NGT, lalu mendengarkan dengan stetoskop di area lambung. Jika terdengar suara khas seperti “whoosh” atau hembusan udara, hal ini menjadi tanda awal bahwa ujung selang kemungkinan sudah berada di lambung.
Meski demikian, cara ini umumnya hanya digunakan sebagai langkah konfirmasi awal dan biasanya akan dikombinasikan dengan metode lain, seperti pemeriksaan aspirat lambung atau rontgen, untuk memastikan posisi selang benar-benar aman dan tepat sebelum digunakan lebih lanjut.
7. Pemeriksaan bunyi nadi karotis di leher
Auskultasi juga dapat dilakukan untuk menilai aliran darah pada pembuluh darah besar, salah satunya arteri karotis yang terletak di sisi leher. Pada pemeriksaan ini, dokter akan menempelkan stetoskop di area leher untuk mendengarkan suara aliran darah yang melewati pembuluh tersebut.
Dalam kondisi normal, aliran darah biasanya tidak menimbulkan bunyi yang mencolok. Namun, bila terdengar suara tambahan berupa desiran atau dengungan, hal ini dapat menjadi tanda adanya penyempitan atau gangguan aliran darah pada arteri karotis.
Temuan ini penting karena dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan sirkulasi darah ke otak, sehingga perlu evaluasi lebih lanjut.
8. Mendengarkan denyut jantung janin (DJJ)
Pada pemeriksaan kehamilan, auskultasi digunakan untuk mendengarkan denyut jantung janin (DJJ) di dalam kandungan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan menggunakan stetoskop khusus, seperti fetoskop atau alat doppler, yang mampu memperjelas suara detak jantung janin.
Melalui pemeriksaan tersebut, dokter atau bidan dapat menilai frekuensi serta keteraturan irama jantung janin. Hasil ini menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kondisi dan kesejahteraan janin selama kehamilan, serta membantu mendeteksi lebih dini bila terdapat tanda-tanda gangguan.
Prosedur Auskultasi dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Proses auskultasi dilakukan dengan menempelkan stetoskop pada dada, punggung, atau perut pasien. Saat pemeriksaan paru-paru, umumnya pasien akan diminta bernapas normal maupun dalam. Untuk pemeriksaan jantung dan perut, dokter akan meminta pasien diam sejenak agar suara organ dapat terdengar jelas.
Auskultasi tergolong aman dan tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, hasil yang didapatkan sering kali memerlukan konfirmasi melalui pemeriksaan penunjang lain, seperti rontgen, USG, atau tes laboratorium, terutama jika didapatkan temuan abnormal.
Auskultasi adalah pemeriksaan dasar dalam dunia medis, tetapi sangat penting untuk memperkirakan kondisi organ vital di tubuh pasien. Meski demikian, hasil auskultasi saja belum cukup untuk memastikan diagnosis, sehingga pemeriksaan lebih lanjut tetap dibutuhkan sesuai kondisi pasien.
Jika dokter menyarankan Anda menjalani auskultasi atau pemeriksaan lanjutan, ikuti instruksinya dengan baik. Jangan ragu bertanya jika ada hal yang kurang jelas terkait hasil pemeriksaan.
Apabila Anda mengalami keluhan mendadak, seperti nyeri dada berat, sesak napas hebat, atau pingsan, segera ke IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan cepat.
Untuk keluhan ringan atau konsultasi seputar hasil auskultasi, Anda juga bisa memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER agar mendapatkan penjelasan lebih lanjut secara langsung dan aman.