Sebenarnya belum ada penelitian yang menetapkan secara pasti berapa kali seorang ibu hamil bisa melahirkan dengan prosedur operasi caesar secara aman. Namun yang pasti, operasi caesar semakin berisiko ketika dilakukan berulang kali.

Melahirkan dengan cara operasi caesar berarti mengeluarkan bayi melalui sayatan dari perut, bukan dari vagina. Proses penyayatan ini bisa menghasilkan jaringan luka di kulit dan rahim. Oleh karena itu, wanita yang melahirkan secara caesar dapat mengalami gangguan pada daerah tersebut jika prosedur ini dilakukan berkali-kali.Berapa Kali Kamu Bisa Aman Melahirkan Secara Operasi Caesar? - Alodokter

Risiko Melahirkan secara Operasi Caesar Lebih dari Sekali

Salah satu risiko melahirkan dengan operasi caesar adalah adhesi, yaitu perlengketan jaringan karena terbentuknya jaringan parut atau jaringan bekas luka.

Adhesi dapat terjadi di berbagai organ. Namun pada wanita yang telah beberapa kali menjalani operasi caesar, adhesi atau perlengekatan dapat terjadi antara kandung kemih dengan rahim.

Kondisi ini bisa merusak kedua organ tersebut, sekaligus menimbulkan nyeri panggul. Tak hanya itu, penderitanya juga dapat mengalami gangguan buang air kecil dan gangguan kesuburan.

Selain adhesi, risiko lain yang bisa terjadi akibat menjalani operasi caesar berulang kali adalah:

1. Perdarahan hebat

Semakin sering menjalani operasi caesar, makin meningkat pula risiko terjadinya perdarahan. Pada beberapa kasus, perdarahan yang terjadi bisa sangat hebat hingga dokter mungkin perlu melakukan tindakan pengangkatan rahim untuk menghentikan perdarahan tersebut.

2. Ada masalah pada plasenta

Operasi caesar yang dilakukan berulang kali bisa meningkatkan risiko munculnya masalah pada plasenta di kehamilan berikutnya. Masalah yang bisa terjadi pada plasenta adalah plasenta bertumbuh terlalu dalam di dekat bekas luka caesar pada dinding rahim (plasenta akreta) atau plasenta menutupi jalan lahir bayi (plasenta previa).

3. Gangguan pernapasan pada bayi

Masalah ini cukup banyak terjadi setelah bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar, khususnya jika dilahirkan sebelum usia 39 minggu. Risiko bayi mengalami gangguan pernapasan akan lebih besar apabila ibunya pernah menjalani prosedur operasi caesar sebelumnya.

Selain itu, obat bius yang digunakan saat operasi caesar juga dapat membuat bayi lahir dengan gangguan tertentu dan nilai Apgar yang rendah.

4. Infeksi setelah operasi

Operasi caesar adalah operasi besar yang berisiko. Salah satu risiko yang dapat terjadi setelah menjalani operasi ini adalah terjadinya infeksi pada luka operasi. Hal ini perlu mendapatkan pengobatan dari dokter agar tidak menjadi semakin parah.

Intinya, jika kamu pernah melahirkan melalui operasi caesar, maka prosedur kedua dan seterusnya akan makin rumit dan dapat memakan waktu yang lebih lama.

Kamu juga biasanya tidak direkomendasikan melahirkan secara normal setelah memiliki riwayat menjalani operasi caesar dua kali atau lebih, sebab pada kondisi tersebut, risiko terjadinya kerusakan rahim cukup tinggi.

Sebenarnya kamu berhak memilih ingin menjalani metode persalinan jenis apa pun. Namun, dokter akan menyarankan cara persalinan terbaik berdasarkan kondisi kesehatanmu dan bayimu.

Jika secara medis kondisimu atau bayi di dalam kandungan tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, seperti ukuran bayi terlalu besar, plasenta menutupi leher rahim, bayi menderita kelainan genetik, posisi bayi sungsang, hamil anak kembar, atau jika kamu menderita penyakit jantung atau penyakit menular seksual, dokter tetap akan menyarankan operasi caesar.

Oleh karena itu, periksakan kandungan secara rutin ke dokter kandungan. Selain untuk mengecek kondisimu dan Si Kecil, pemeriksaan kandungan rutin juga akan membantu dokter untuk menentukan jenis persalinan yang tepat untukmu.