Campak pada bayi merupakan penyakit infeksi menular yang ditandai dengan ruam kulit di seluruh tubuh disertai gejala lainnya yang mirip flu. Penyakit ini gampang menyebar dan bisa menyebabkan komplikasi yang berat bagi bayi. Oleh karena itu, langkah pencegahan dan penanganan yang tepat perlu dilakukan.
Campak adalah infeksi virus yang sangat mudah menular. Sekitar 9 dari 10 bayi yang belum mendapatkan vaksin campak atau belum pernah terinfeksi sebelumnya berisiko tertular ketika berada dekat dengan penderita.

Di Indonesia, berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga minggu ke-7 tahun 2026 tercatat lebih dari 8.000 kasus campak dengan beberapa kematian. Sebagian kasus terjadi pada bayi dan balita, dan tidak sedikit yang memerlukan perawatan di rumah sakit.
Bayi termasuk kelompok yang lebih rentan terkena campak karena sistem kekebalan tubuhnya masih dalam tahap perkembangan. Risiko ini dapat meningkat pada bayi yang mengalami kekurangan vitamin A atau belum mendapatkan imunisasi campak. Selain itu, bepergian ke daerah dengan angka kasus campak yang tinggi juga dapat meningkatkan risiko penularan.
Campak pada Bayi dan Gejalanya
Campak pada bayi sering kali ditularkan melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi virus penyebab campak. Virus tersebut bisa menyebar saat penderita bersin, batuk, atau berbicara.
Infeksi virus campak terjadi secara bertahap selama sekitar 2–3 minggu. Setelah sekitar 7–14 hari terpapar virus, gejala campak biasanya baru muncul. Berikut ini adalah beberapa fase gejala campak pada bayi yang bisa dikenali:
- Gejala awal campak pada bayi berupa demam ringan hingga sedang, pilek, batuk terus-menerus, dan mata merah.
- Setelah 3–5 hari, muncul ruam kulit berupa bintik-bintik merah kecil yang disebut bintik koplik di area dahi, lalu menyebar ke seluruh wajah, leher, hingga lengan dan kaki. Pada saat yang sama, demam meningkat hingga mencapai 40℃.
- Bintik koplik juga bisa muncul di dalam mulut sebelum ruam muncul.
- Ruam campak pada bayi biasanya berangsur-angsur menghilang sekitar 7 hari. Namun, demam dan batuk mungkin bisa menetap lebih lama.
Perlu diketahui bahwa puncak tertinggi penularan virus campak sekitar 4 hari sebelum sampai 4 hari setelah ruam muncul. Selama durasi waktu tersebut, bayi harus tetap berada di rumah atau tempat yang aman untuk mencegah penularan virus ke bayi lain.
Pada bayi yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah karena penyakit bawaan lahir atau kekurangan nutrisi, campak pada bayi berisiko tinggi menyebabkan komplikasi serius, seperti diare berat, pneumonia, ensefalitis (peradangan otak), infeksi telinga, atau infeksi di selaput mata sehingga bisa mengalami gangguan penglihatan.
Penanganan Campak pada Bayi
Saat Si Kecil mengalami gejala campak, Bunda dianjurkan untuk tetap tenang dan tidak panik. Meski belum ada pengobatan khusus untuk campak, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meringankan gejala campak pada bayi. Cara-cara ini juga bisa mencegah penularan campak pada Si Kecil. Berikut ini adalah penjelasannya:
1. Cukupi waktu istirahatnya
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, gejala awal campak pada bayi mirip seperti penyakit flu biasa. Nah, sebagai upaya pertolongan pertama, pastikan bayi beristirahat di rumah dan batasi aktivitas mainnya. Untuk membuat Si Kecil beristirahat, Bunda bisa membacakannya dongeng atau menyanyikan lagu-lagu yang menenangkan.
2. Cukupi asupan cairannya
Campak bisa menyebabkan bayi mengalami demam, diare, atau muntah hingga rentan terkena dehidrasi. Oleh karena itu, pastikan bayi mendapatkan ASI atau susu formula yang cukup.
ASI secara alami juga memiliki antibodi untuk mencegah dan melawan infeksi berbagai virus dan bakteri. Untuk bayi berusia lebih dari 6 bulan, Bunda bisa memberinya ekstra air putih setiap hari.
3. Berikan obat penurun demam
Untuk menurunkan demam akibat campak pada bayi, Bunda bisa memberinya obat penurunan demam, seperti paracetamol. Namun, sebelum memberikan obat apa pun untuk bayi, sebaiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Dokter bisa menyarankan obat dan dosis yang paling sesuai dengan kondisi Si Kecil.
Paracetamol untuk bayi biasanya berbentuk obat sirup. Dosis obat bisa berbeda-beda, tergantung pada usia dan berat badan bayi. Jadi, pastikan Bunda mengikuti aturan dosis yang tertera di kemasan obat atau sesuai petunjuk dari dokter.
4. Hindarkan kontak dengan orang yang sakit
Untuk mencegah campak, sebaiknya jaga bayi dari orang yang sedang sakit atau telah terdiagnosis menderita campak. Mengingat bayi sangat rentan tertular virus campak, hindarkan ia berada di sekitar orang yang bersin atau batuk guna melindunginya dari paparan virus.
5. Berikan vaksinasi campak
Vaksin campak, seperti vaksin MR (campak dan rubella) atau MMR (campak, gondongan, dan rubella), adalah perlindungan utama agar Si Kecil terhindar dari infeksi campak. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, berikut jadwal imunisasi campak yang dianjurkan:
- Usia 9 bulan: dosis pertama (MR/campak)
- Usia 18 bulan: dosis lanjutan (MR)
- Usia 5–7 tahun: dosis booster (MMR)
Pada situasi tertentu, seperti saat terjadi wabah campak, vaksin bisa diberikan lebih awal, mulai usia 6 bulan. Namun, vaksinasi pada usia ini tetap perlu diulang sesuai jadwal agar perlindungan optimal. Agar Bunda tahu pasti kapan waktu imunisasi terbaik untuk Si Kecil, konsultasikan jadwal dan kondisi kesehatan anak ke dokter.
Untuk mencegah campak, pastikan juga Bunda menjaga kebersihan Si Kecil dan lingkungan di sekitarnya. Jangan ragu untuk membawa Si Kecil ke dokter jika ia menunjukkan gejala campak pada bayi agar bisa diberikan penanganan yang sesuai untuk mencegah terjadinya komplikasi.