Cari Tahu Jenis dan Penyebab Kista di Sini

Kista merupakan kantong berisi cairan yang dapat tumbuh di berbagai area tubuh mulai dari kulit, area kelamin, hingga organ dalam. Penyebab kista sangat beragam tergantung pada jenisnya.

Kista dapat tumbuh hampir di seluruh di tubuh, seperti wajah, kulit kepala, punggung, lengan, selangkangan, bahkan juga ada yang berada di dalam organ seperti ovarium. Sebagian besar kista tidak memiliki tanda dan gejala yang khas, sehingga kerap tak disadari keberadaannya. Meski beberapa jenis kista pada kulit dan selaput lendir dapat ditandai dengan benjolan yang terkadang menyakitkan.

cause of cyst

Memahami Beragam Jenis dan Penyebab Kista

Hingga kini, sebagian besar kista tidak diketahui jelas penyebabnya. Namun, beberapa kemungkinan penyebab kista antara lain saluran cairan tubuh yang tersumbat, kerusakan sel, atau efek cedera pada pembuluh darah. Selain itu, penyebab kista juga dapat berupa faktor genetik atau infeksi, misalnya parasit.

Beberapa jenis kista yang paling umum ditemui antara lain:

  • Kista ganglion
    Kista ganglion adalah sebuah benjolan yang seringkali terjadi di bagian atas persendian atau tendon (jaringan yang menghubungkan otot ke tulang). Kista ganglion paling sering terjadi di pergelangan tangan. Sampai kini penyebab kista ganglion belum diketahui secara pasti. Salah satu teori menyebutkan, kista ganglion terjadi akibat cedera fisik yang mengakibatkan jaringan-jaringan di bawah kulit mengalami kerusakan.
  • Kista epidermoid
    Kista epidermoid adalah benjolan keras non-kanker yang berkembang di bawah kulit dan sering ditemukan pada wajah, kepala, leher, punggung, atau alat kelamin. Kista epidermoid biasanya disebabkan oleh penumpukan keratin, yaitu protein yang terdapat secara alami di sel-sel kulit.
  • Kista payudara
    Kista payudara adalah benjolan berbentuk bulat non-kanker yang berisi cairan dan tumbuh pada jaringan payudara. Kista payudara umumnya dialami oleh wanita sebelum masa menopause antara usia 35 sampai 50 tahun. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kista payudara, namun diduga berkaitan dengan tingginya kadar hormon estrogen dalam tubuh.
  • Kista Bartholin
    Kista Bartholin adalah benjolan yang terletak di kedua sisi bibir vagina. Kelenjar Bartholin memiliki fungsi dalam mengeluarkan cairan pelumas saat berhubungan seksual. Kista Bartholin terbentuk ketika terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar Bartholin.
  • Kista ovarium
    Kista ovarium merupakan kantong berisi cairan yang terbentuk di dalam ovarium atau di permukaannya. Kista ovarium terbagi menjadi dua jenis, yaitu kista fungsional sebagai bagian dari siklus menstruasi, dan kista jenis lain yang bisa muncul akibat adanya pertumbuhan sel abnormal, seperti kista dermoid, kista adenoma, dan endometriosis.

Cara Pengobatan Kista

Sebagian besar kista, seperti kista epidermoid, kista payudara, dan kista ganglion, tidak memerlukan pengobatan dan umumnya tidak menimbulkan gejala atau keluhan yang mengganggu.

Akan tetapi, jika terdapat gejala yang dirasakan, seperti nyeri, sakit, bengkak, kemerahan, atau perubahan ukuran yang tidak biasanya pada kista epidermoid, payudara, dan ganglion, maka sebaiknya kunjungi dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Begitu juga dengan kista ovarium dan Bartholin, langkah terbaik dalam menangani penyakit ini adalah dengan berkonsultasi ke dokter, agar dapat diberikan penanganan yang sesuai, bila diperlukan. Terutama jika terdapat gejala berupa nyeri atau perubahan bentuk serta ukuran pada kista.

Kista ovarium dapat ditangani menggunakan terapi hormon berupa obat minum, atau jika kondisi kista lebih berat, mungkin akan dilakukan operasi pengangkatan kista. Sedangkan untuk kista Bartholin, pengobatan yang disarankan adalah obat antibiotik jika kista mengalami infeksi, atau dilakukan pengangkatan kista.

Terapkan pola hidup sehat untuk mencegah beragam kemungkinan penyebab kista. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika merasakan adanya benjolan, atau mengalami gangguan kesehatan akibat terbentuknya kista.

 

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi