Ciri-ciri difteri kadang bisa mirip dengan sakit tenggorokan biasa. Difteri adalah penyakit akibat infeksi bakteri yang menyerang hidung dan tenggorokan. Penyebaran dan penularan bakteri penyebab difteri ini berlangsung dengan mudah dan cepat. Itu sebabnya penting mengetahui dan mengenali ciri-ciri difteri.

Difteri umumnya menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun, lanjut usia di atas 60 tahun, serta sebagian orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi difteri, gizi kurang baik atau tinggal di daerah yang lingkungannya kurang sehat.

Ciri-Ciri Difteri yang Penting Diketahui - Alodokter

Mengenali Ciri-Ciri Difteri

Ciri-ciri difteri berbeda-beda pada setiap orang. Ada sebagian orang yang tidak mengalami ciri apa pun saat terkena difteri. Ada pula yang hanya menunjukkan tanda-tanda seperti orang yang terkena flu ringan.

Berikut beberapa ciri-ciri difteri yang harus Anda waspadai, antara lain:

  • Sakit tenggorokan
  • Timbul lapisan tebal berwarna keabu-abuan di tenggorokan dan amandel
  • Batuk dan suara serak
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
  • Sakit kepala
  • Tubuh demam dan menggigil
  • Air liur menetes terus
  • Sulit bernapas atau napas menjadi sesak
  • Sulit menelan
  • Berbicara tidak jelas
  • Tubuh berkeringat dan merasa lemas
  • Detak jantung lebih cepat.

Selain pada tenggorokan, ada pula difteri juga bisa terjadi pada kulit. Ciri-ciri difteri kulit adalah kulit kemerahan dan timbul bisul di kulit. Selain itu, muncul bintik-bintik seperti melepuh, di kulit kaki dan tangan. Bintik-bintik tersebut berisi nanah, yang kemudian membesar dan tampak seperti bisul. Apabila difteri sudah sembuh, bisul ini pun akan sembuh, meski memakan waktu 2-3 bulan.

Difteri Harus Segera Diobati

Meski sebagian orang mengalami difteri dengan gejala ringan, jangan abaikan penyakit ini. Sebab, apabila tidak diobati dengan tuntas, difteri dapat menyebabkan komplikasi, yaitu:

  • Masalah pernapasan

Sudah disebutkan di atas, difteri dapat menimbulkan lapisan tebal berwarna abu-abu di tenggorokan dan amandel. Lapisan tebal ini ini terbentuk dari sel-sel yang sudah mati, bakteri, dan zat peradangan, sehingga mengeras. Lapisan ini dapat mengganggu jalannya pernapasan.

  • Gangguan saraf

Racun dari kuman penyebab difteri juga dapat menyebabkan gangguan saraf, terutama saraf tenggorokan. Inilah yang menyebabkan Anda jadi sulit menelan. Saraf di bagian lain juga bisa rusak karena racun ini. Misalnya, saraf yang membantu mengendalikan otot pernapasan. Jika saraf ini rusak karena racun dari bakteri difteri, otot-otot pernapasan bisa lumpuh. Akibatnya, Anda tidak bisa bernapas tanpa alat bantu pernapasan.

  • Kerusakan jantung

Bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan toksin atau racun. Toksin ini dapat mengikuti aliran darah dan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Toksin ini bersifat merusak jaringan. Salah satunya adalah otot jantung, yang kemudian dapat menyebabkan komplikasi, seperti pembengkakan otot jantung (miokarditis). Pembengkakan otot jantung ini juga dapat menyebabkan kondisi yang berat seperti gagal jantung, bahkan kematian mendadak.

Pengobatan difteri adalah dengan pemberian antibiotik dan suntikan antitoksin untuk menetralkan racun dari kuman difteri di dalam tubuh . Namun, meski sudah diobati, tetap ada risiko kematian akibat difteri. Terutama difteri pada anak di bawah usia 15 tahun.  Pada balita dan anak, lengkapi imunisasi DPT (difteri, pertusis dan tetanus) yang dapat diperoleh melalui program pemerintah. Demikian juga, lakukan vaksinasi difteri pada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksinasi sebelumnya.

Jika menemukan ciri-ciri difteri baik pada anak atau orang dewasa, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk penanganan yang tepat.