Cuckolding adalah fantasi seksual di mana seseorang memperoleh kepuasan seksual dengan melihat atau membayangkan pasangannya berhubungan intim dengan orang lain. Meski dilakukan atas dasar kesepakatan, praktik ini dapat memengaruhi kesehatan dan kualitas hubungan.
Cuckolding umumnya dialami oleh pria, tetapi wanita juga bisa mengalaminya. Fantasi seksual ini kadang dikaitkan dengan praktik BDSM karena dapat melibatkan dinamika peran dan kontrol dalam hubungan seksual.

Namun, tidak semua praktik cuckolding termasuk BDSM. Pada beberapa orang, cuckolding merupakan fantasi atau fetish seksual yang berdiri sendiri tanpa unsur dominasi atau kekerasan seksual.
Penyebab Ketertarikan Cuckolding
Ketertarikan terhadap cuckolding berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang menemukan kepuasan dari fantasi ini karena alasan emosional, psikologis, maupun biologis. Berikut beberapa penyebab yang umum:
1. Compersion (senang melihat pasangan bahagia)
Beberapa orang merasa puas ketika melihat pasangannya menikmati hubungan seksual dengan orang lain. Perasaan ini disebut compersion, kebalikan dari rasa cemburu. Dalam konteks cuckolding, kebahagiaan pasangan yang terlihat puas bisa meningkatkan gairah dan ketertarikan terhadap praktik ini.
2. Faktor tabu
Bagi sebagian orang, melakukan sesuatu yang dianggap “tabu” oleh masyarakat bisa terasa menarik atau memicu gairah seksual. Menambahkan pihak ketiga dalam hubungan seksual sering dilihat sebagai pelanggaran norma, sehingga fantasi ini bisa terasa lebih menggairahkan.
3. Ingin mencoba hal baru
Beberapa orang ingin menambahkan variasi untuk menjaga hubungan tetap menarik. Kehadiran orang ketiga dalam pengalaman seksual bisa memberi sensasi baru dan meningkatkan antusiasme pasangan terhadap kehidupan seksual mereka.
4. Faktor biologis
Pada sebagian orang, rangsangan visual atau situasional tertentu, termasuk melihat pasangan bersama orang lain, dapat memicu respons fisiologis seperti peningkatan gairah seksual. Respons ini berkaitan dengan cara otak memproses rangsangan seksual, bukan karena gangguan biologis tertentu.
5. Kepuasaan dari rasa cemburu dan malu
Beberapa orang justru merasa terangsang saat melihat pasangan mereka dengan orang lain karena rasa cemburu atau malu. Namun, tidak semua orang merasakan hal ini, terutama jika cuckolding dilakukan dengan kesepakatan bersama.
6. Memberikan kontrol kepada pasangan lain
Dalam praktik cuckolding, orang yang “dipuaskan” oleh fantasi pada pria ini kadang merasakan kesenangan dari menyerahkan kontrol seksual kepada orang lain. Memberikan sebagian kontrol ini bisa menjadi sumber kepuasan tersendiri bagi sebagian orang.
Risiko Kesehatan akibat Cuckolding
Melakukan cuckolding bisa membawa beberapa risiko, baik dari sisi kesehatan seksual maupun psikologis. Penting bagi pasangan untuk menyadari potensi risiko ini dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Berikut dampak kesehatan akibat cuckolding:
1. Penyakit menular seksual (PMS)
Melibatkan orang lain dalam hubungan seksual meningkatkan kemungkinan tertular penyakit menular seksual, seperti HIV, klamidia, gonore, atau sifilis. Risiko ini muncul karena adanya kontak seksual dengan lebih dari satu pasangan.
2. Gangguan kepercayaan atau kecemburuan
Jika batasan atau komunikasi tidak jelas, munculnya rasa cemburu atau ketidakpercayaan bisa terjadi pada cuckolding. Hal ini terjadi karena satu pihak mungkin merasa pasangannya lebih dekat atau intim dengan orang lain.
3. Tekanan emosional atau psikologis
Beberapa orang bisa merasa bersalah, tidak nyaman, atau tertekan setelah pasangan berhubungan dengan orang lain. Perasaan ini muncul karena konflik antara fantasi seksual dan emosi pribadi yang mendalam.
4. Potensi ketergantungan pada variasi seksual
Beberapa orang mungkin terdorong untuk terus mencari pengalaman seksual baru yang serupa. Tubuh dan otak bisa menyesuaikan diri dengan rangsangan tertentu, sehingga muncul dorongan untuk mengulang atau meningkatkan intensitasnya.
5. Kesulitan mengelola emosi
Tidak semua orang mampu menangani perasaan yang muncul saat cuckolding. Beberapa orang bisa merasa cemburu, malu, atau takut kehilangan pasangan, dan tekanan emosional.
Setiap orang bisa memiliki ketertarikan atau fantasi seksual yang berbeda, termasuk cuckolding. Penting untuk menyadari bahwa praktik ini tidak tanpa risiko, baik dari sisi kesehatan maupun perasaan. Memahami potensi risiko ini membantu Anda dan pasangan lebih sadar serta bijak dalam memilih aktivitas seksual.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar cuckolding, termasuk dampak terhadap kesehatan fisik maupun psikologis, konsultasikan langsung dengan dokter melalui Chat Bersama Dokter di ALODOKTER. Dokter dapat memberikan penjelasan yang sesuai kondisi Anda.