Doping adalah istilah yang digunakan untuk menyebut penggunaan zat tertentu guna meningkatkan performa fisik secara instan, terutama dalam dunia olahraga. Meski memberikan keuntungan sesaat, penggunaan doping melanggar etika olahraga dan dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan serta karier atlet di masa depan.
Istilah doping kerap dikaitkan dengan dunia olahraga, terutama sejak munculnya berbagai kasus yang melibatkan atlet kelas dunia. Secara umum, doping mencakup penggunaan berbagai zat, seperti stimulan, hormon, hingga obat-obatan tertentu yang dipakai tanpa alasan medis yang sah untuk meningkatkan performa tubuh secara tidak alami.

Penggunaan doping merupakan bentuk kecurangan yang melanggar kode etik olahraga dan prinsip sportivitas. Doping menciptakan keuntungan yang tidak adil, karena atlet yang menggunakannya dapat tampil lebih unggul tanpa melalui proses latihan yang jujur.
Sementara itu, atlet lain berusaha keras mengasah kemampuan dengan disiplin dan transparan, tetapi justru harus bersaing dengan lawan yang memakai cara instan. Inilah alasan mengapa lembaga olahraga nasional maupun internasional sangat tegas dalam mengatur dan menindak kasus doping.
Berbagai Jenis Doping dan Contohnya
Doping seringkali disalahartikan sebagai penggunaan suplemen biasa, padahal tidak semua suplemen termasuk doping. Agar tidak keliru, inilah beberapa jenis doping yang sering ditemukan:
1. Steroid anabolik
Steroid anabolik adalah obat sintetis yang mirip dengan hormon testosteron. Obat ini banyak digunakan oleh atlet atau binaragawan untuk meningkatkan massa otot, mempercepat pemulihan setelah latihan berat, serta menambah tenaga.
Namun, penggunaan tanpa pengawasan dokter bisa menyebabkan masalah serius, seperti gangguan hormon, jerawat berat, perubahan suara, hingga kerusakan organ. Contoh jenis doping ini adalah nandrolone, stanozolol, testosteron suntik, atau methandienone.
2. Hormon peptida
Doping golongan ini mencakup hormon pertumbuhan manusia (human growth hormone/HGH), eritropoietin (EPO), dan insulin-like growth factor (IGF-1).
Hormon pertumbuhan umumnya dipakai untuk mempercepat pemulihan otot, meningkatkan kekuatan, atau menambah tinggi badan. Sedangkan EPO, yang sering dipakai di cabang olahraga ketahanan, seperti balap sepeda dan maraton, berfungsi meningkatkan produksi sel darah merah sehingga pasokan oksigen dalam tubuh lebih optimal.
3. Stimulansia
Stimulansia adalah zat yang mampu meningkatkan kerja sistem saraf pusat, sehingga tubuh terasa lebih segar, konsentrasi meningkat, dan rasa lelah berkurang. Dalam olahraga, doping ini biasanya digunakan agar atlet tetap fokus dan bertenaga lebih lama.
Contoh zat stimulansia antara lain amfetamin, efedrin, kafein dosis sangat tinggi, kokain, dan methylphenidate tanpa indikasi medis.
4. Narkotika dan obat penenang
Narkotika, seperti morfin atau kodein, kadang digunakan atlet sebagai doping untuk meredakan rasa sakit akibat cedera atau kelelahan. Alhasil, mereka pun tetap bisa bertanding atau latihan secara optimal.
Selain narkotika, obat penenang juga masuk daftar doping karena membuat atlet tetap tenang saat bertanding. Namun, penggunaan tanpa resep bisa menimbulkan ketergantungan, gangguan napas, bahkan overdosis.
5. Beta blocker
Beta blocker adalah obat yang biasa digunakan untuk menurunkan tekanan darah serta membantu menenangkan detak jantung. Dalam dunia olahraga, seperti panahan, menembak, atau billiard, beta blocker bisa membantu atlet tetap tenang dan mengurangi tremor.
Namun, penyalahgunaan obat ini bisa memicu tekanan darah terlalu rendah dan memperburuk masalah jantung.
6. Diuretik
Diuretik adalah obat yang mempercepat pengeluaran cairan tubuh lewat urine. Atlet kadang menggunakan diuretik untuk menurunkan berat badan secara instan sebelum pertandingan, misalnya dalam cabang olahraga dengan kelas berat badan tertentu, seperti tinju atau angkat besi.
Selain itu, diuretik sering dipakai untuk "menyembunyikan" zat doping lain, karena dapat mengencerkan urine sehingga tes doping sulit mendeteksi adanya obat terlarang.
Dampak Penggunaan Doping
Setiap jenis doping memiliki risiko kesehatan yang serius bila digunakan tanpa pengawasan medis. Penggunaan di luar tujuan medis yang sah tidak hanya membahayakan tubuh, tetapi juga dianggap sebagai pelanggaran berat dalam dunia olahraga profesional.
Penggunaan doping tidak memberikan manfaat apa pun bagi kesehatan. Sebaliknya, zat-zat ini dapat menimbulkan berbagai efek samping berbahaya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Berikut ini adalah sejumlah dampak kesehatan yang perlu diwaspadai:
- Gangguan jantung, terutama pada penggunaan steroid dan hormon peptida
- Kerusakan hati dan ginjal, karena beberapa zat doping dapat menyebabkan organ hati atau ginjal bekerja terlalu keras dan akhirnya gagal berfungsi
- Depresi, kecemasan, dan perilaku agresif, terutama jika doping digunakan dalam jangka panjang
- Gangguan hormon, contoh ginekomastia (pembesaran payudara pada pria), gangguan menstruasi pada wanita, atau bahkan infertilitas
- Risiko kecanduan doping, terutama narkotika dan stimulansia
Doping dilarang secara tegas dalam peraturan olahraga nasional dan internasional, karena termasuk pelanggaran kode etik dan hukum. Setiap atlet bertanggung jawab menjunjung tinggi sportivitas dan keadilan.
Bila seorang atlet diketahui memakai doping, sanksi yang dapat diberikan kepada pelaku antara lain:
- Diskualifikasi dari pertandingan atau kompetisi, baik secara sementara maupun permanen.
- Penghapusan medali, gelar juara, atau rekor yang sudah diraih.
- Larangan bertanding dalam periode tertentu, bahkan bisa seumur hidup untuk kasus berat atau berulang.
- Sanksi denda dan tuntutan hukum sesuai peraturan lembaga anti-doping nasional dan internasional, seperti WADA (world anti-doping agency) dan Komite Olimpiade.
- Pemutusan kontrak dari klub, sponsor, atau pihak pendukung lain karena melanggar perjanjian etis dan profesional.
Regulasi anti-doping tidak hanya berlaku pada atlet profesional, tetapi juga pada pelatih, dokter tim, hingga ofisial yang terlibat dalam pelanggaran.
Doping bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi juga menghancurkan nilai sportivitas serta integritas atlet dan dunia olahraga. Risiko kesehatan yang fatal juga bisa menimpa siapa saja yang mencoba atau menjadi ketagihan dengan zat-zat ini, bahkan di luar dunia atletik.
Tidak ada literatur ilmiah yang menyatakan penggunaan doping aman dalam dosis berapa pun. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, pelatih, atau anggota masyarakat untuk terus mengedukasi orang terdekat mengenai bahaya serta dampak buruk doping.
Menghindari doping adalah langkah penting demi menjaga kesehatan dan integritas diri, baik sebagai atlet maupun masyarakat umum.
Jika Anda ragu dengan kandungan suatu suplemen, merasa pernah terpapar doping, atau mengalami gejala tidak biasa setelah mengonsumsi obat tertentu, segera Chat Bersama Dokter melalui aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat.
Konsultasi lebih dini membantu Anda memahami risiko dan menghindari dampak berkepanjangan dari doping.