Istilah gender dysphoria sudah marak nih diperbincangkan oleh masyarakat. Hal ini karena banyaknya cerita atau pengakuan dari seseorang yang merasa tidak nyaman dengan jenis kelaminnya sendiri. Untuk tahu informasi seputar gender dysphoria, yuk, simak artikel ini!

Gender dysphoria adalah perasaan tidak nyaman, tidak puas, atau terganggu yang dialami seseorang terhadap jenis kelamin dan karakteristik fisiknya sejak lahir karena tidak sesuai dengan identitas gender yang ia miliki. Akibatnya, orang tersebut mengalami konflik batin dan merasa terperangkap dalam tubuhnya sendiri.

Gender Dysphoria, Perasaan Terjebak pada Tubuh yang Salah - Alodokter

Gender dysphoria bisa dialami oleh seseorang dengan identitas gender apa pun, termasuk gender nonbiner dan transgender. Namun, tidak semua transgender maupun gender nonbiner mengalami hal ini dan merasa nyaman dengan tubuhnya.

Ciri-Ciri Gender Dysphoria

Ciri gender dysphoria yang umumnya muncul adalah ketika seseorang merasa tertekan dan tidak nyaman dengan jenis kelamin atau karakteristik fisiknya, seperti adanya buah zakar, penis, vagina, atau payudara.

Sebagai contoh, seseorang terlahir sebagai laki-laki dan mempunyai perawakan maskulin, tetapi merasa jiwanya adalah seorang perempuan. Konflik batin ini dapat dikatakan sebagai gender dysphoria jika sudah berlangsung setidaknya selama 6 bulan.

Seseorang yang mengalami gender dysphoria juga memiliki pemikiran atau sikap seperti berikut ini:

  • Memiliki keinginan untuk bersikap dan berpakaian seperti lawan jenisnya
  • Memiliki perasaan dan pola pikir seperti lawan jenisnya
  • Memiliki keinginan untuk diperlakukan sebagai lawan jenisnya
  • Memilih bermain dan bergaul dengan teman lawan jenisnya
  • Memiliki keinginan yang besar untuk melakukan operasi atau prosedur medis lainnya agar bentuk tubuh dan kelamin dapat menyerupai identitas gender yang ia mau

Pemikiran dan sikap di atas juga bisa disertai dengan rasa marah, sedih, dan benci dengan diri sendiri serta keinginan untuk mengisolasi diri, bahkan percobaan bunuh diri.

Gender dysphoria sering kali terjadi pada masa kanak-kanak dan dapat berkembang hingga dewasa. Penyebabnya pun hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, faktor genetik, lingkungan, dan paparan bahan kimia saat di dalam kandungan diketahui berkaitan dengan gender dysphoria.

Penanganan Gender Dysphoria

Gender dysphoria bukanlah penyakit mental. Namun, bila gejolak batin ini tidak mendapatkan perawatan, risiko terjadinya gangguan kecemasan, gangguan makan, skizofrenia, dan depresi bisa makin tinggi. Bahkan, orang yang mengalaminya juga bisa terjebak dalam jeratan narkoba.

Tujuan dari penanganan gender dysphoria bukanlah untuk menentukan identitas kelaminnya. Melainkan untuk meringankan gejalanya, mencegah dampak buruk akibat emosi negatif yang dirasakan, serta menemukan gender yang nyaman baginya sehingga mengurangi perasaan tertekan dan tidak nyaman.

Pengobatan yang mungkin disarankan untuk seorang gender dysphoria biasanya meliputi terapi hormon dan terapi perilaku kognitif. Apabila disertai gejala gangguan mental tertentu, seperti depresi, dokter juga akan meresepkan obat antidepresi.

Kalau kamu memiliki kerabat dekat yang mengalami gender dysphoria, peranmu sangat penting lho agar ia terhindar dari risiko buruk dari perasaan tertekan dan tidak nyaman. Beberapa hal yang dapat kamu lakukan meliputi:

  • Dengarkan keluh kesahnya dan jangan menghakiminya.
  • Arahkan ia untuk berpikir positif.
  • Hindari membandingkan dirimu dengan dirinya.
  • Jangan memaksanya menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.
  • Temani ia melakukan hal-hal yang disukai.
  • Ingatkan ia untuk prioritaskan perawatan diri.
  • Jangan memberinya label buruk dan menyebarkan keluh kesahnya ke orang lain di luar kalian.

Selain cara-cara di atas, kamu juga bisa mengajaknya untuk mendapatkan dukungan profesional dari psikolog atau psikiater. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang sesuai dengan kondisi kesehatannya.