Baby walker sebenarnya dirancang untuk memudahkan bayi bergerak saat mereka sedang berlatih berjalan. Meski begitu, penggunaannya harus terus diperhatikan agar tidak menyebabkan cedera pada bayi.

Jika baby walker masih ada di dalam daftar kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk bayimu, coba pertimbangkan kembali. Bayi bisa saja mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan cedera kepala, patah tulang, atau meninggal ketika menggunakan alat ini. Di negara tertentu, baby walker bahkan sudah dilarang

Hentikan Memakai Baby Walker Jika Tidak Ingin Bayi Terluka - Alodokter

Bahaya Baby Walker

Para ahli menemukan bahwa alat yang dirancang untuk membantu bayi berjalan , justru dapat berisiko memperlambat perkembangan motorik bayi yang sedang berlatih untuk duduk, merangkak, dan berjalan. Bahkan baby walker diduga bisa membuat bayi jadi malas untuk berjalan sendiri.

Ada juga penelitian yang mengungkapkan bahwa alat ini tidak mendukung perkembangan bayi dari sisi mana pun. Bayi yang mengenakan baby walker terbukti tidak lebih cepat berjalan dibandingkan yang tidak menggunakannya sama sekali. Hal ini bisa jadi karena pola atau koordinasi otot yang dilatih saat menggunakan baby walker berbeda dengan saat berlatih berjalan seperti biasa.

Banyak juga orang tua yang sengaja menaruh bayinya dalam baby walker, agar bayi bisa bermain sendiri sementara mereka mengerjakan hal lain. Padahal ketika menggunakan alat ini, bayi justru perlu diawasi dengan ketat. Berikut ini adalah berbagai kasus yang sering terjadi pada bayi yang menggunakan baby walker:

  • Terjatuh dari tangga. Ini adalah kecelakaan yang paling sering menimpa bayi ketika menggunakan baby walker. Bayi yang jatuh berisiko mengalami gegar otak, cedera leher, dan keretakan tulang. Roda yang terdapat pada bagian bawah baby walker membuat bayi dengan mudahnya meluncur ke segala tempat. Roda ini bahkan membuat baby walker dapat melesat satu meter dalam hitungan detik, sehingga Bunda dan Ayah mungkin tidak sempat menjangkau dan menghentikannya. Selain itu, roda tersebut juga membuat baby walker menjadi tidak stabil ketika meluncur di atas permukaan yang tidak rata.
  • Jari bayi terjepit saat baby walker menabrak dinding atau perabot rumah.
  • Bayi jatuh terguling saat tubuhnya miring ke kanan/kiri di atas baby walker, karena kepalabayi memang masih lebih berat dibandingkan tubuhnya.
  • Bayi dapat meraih benda-benda berbahaya, seperti air panas, api, atau colokan listrik.
  • Bayi lebih mudah terbentur dan menabrak perabot rumah atau benda berbahaya.

Para ahli menyarankan orang tua untuk tidak menaruh bayinya di baby walker. Sebagai gantinya, ajak bayi untuk bergerak aktif di lantai yang bersih di dalam ruangan yang aman, sehingga dia bebas merangkak, duduk, dan berlatih berjalan. Memegang kedua tangan bayi sambil mengajaknya belajar berjalan, atau di Indonesia disebut juga dengan tatih, relatif lebih aman dibandingkan menggunakan alat.

Beberapa produsen baby walker sekarang memang telah memperbarui standar keselamatan mereka dengan roda yang otomatis dapat berhenti begitu akan meluncur tidak terkendali atau menabrak sesuatu. Tetapi pembaruan ini tetap tidak mengurangi kemungkinan bayi meraih sesuatu yang berbahaya dari atas baby walker.

Tidak semua peralatan bayi aman untuk digunakan, dan tidak semuanya juga bermanfaat. Beberapa di antaranya justru malah menghambat perkembangan bayi, bahkan berpotensi membahayakan. Oleh karena itu, Bunda dan Ayah perlu lebih cermat dan kritis dalam memilih peralatan atau mainan untuk merangsang perkembangan dan pertumbuhan bayi.