Informasi tentang Pengobatan Mata Juling yang Perlu Anda Tahu

Mata juling merupakan kondisi ketika posisi kedua belah mata tidak sejajar dan tidak mengarah ke arah yang sama. Kondisi ini terjadi karena otot-otot kedua bola mata tidak bisa berkoordinasi untuk mengatur arah bola mata, sehingga kedua mata melihat objek yang berbeda.

Informasi tentang Pengobatan Mata Juling yang Perlu Anda Tahu - alodokter

Pengobatan mata juling dapat dilakukan dengan berbagai metode, yaitu dengan menggunakan kacamata, penutup mata, obat tetes mata, ataupun melalui operasi otot mata. Baik kacamata maupun penutup mata bekerja dengan cara “memaksa” mata yang juling untuk bekerja, dan menutupi penglihatan mata yang normal. Dengan cara tersebut, mata yang juling akan berperan sebagai mata dominan, sehingga otot-otot mata akan terlatih dengan sendirinya dan dapat memfokuskan kedua mata pada arah yang sama.

Obat tetes mata juga berperan untuk mengobati mata juling dengan prinsip yang sama seperti kacamata dan penutup mata. Obat tetes mata yang digunakan mengandung atropin yang bekerja dengan cara mengaburkan penglihatan mata yang normal selama beberapa jam. Jika semua metode tersebut tidak dapat mengobati mata juling, penderita dapat menjalani operasi otot mata untuk mengobati mata juling.

Indikasi Pengobatan Mata Juling

Seseorang akan direkomendasikan menjalani pengobatan mata juling jika mengalami gejala-gejalanya, seperti:

  • Penglihatan ganda.
  • Mata yang tidak terfokus ke arah yang sama.
  • Kehilangan penglihatan dari salah satu mata atau tidak bisa melihat secara detail.
  • Gerakan mata yang tidak beriringan, akibat koordinasi antar mata tidak baik.

Gejala-gejala mata juling dapat terjadi sesekali ataupun terus-menerus. Perlu diingat bahwa anak-anak yang menderita mata juling seringkali tidak menyadari gejala-gejala tersebut. Mata juling pada anak-anak umumnya disadari oleh orang dewasa, terutama guru dan orang tua. Anak-anak yang mengalami penglihatan ganda sering merasa sulit melihat suatu benda dan dapat memengaruhi proses belajar mereka. Kadang-kadang, anak-anak tidak merasakan adanya penglihatan ganda karena perkembangan amblyopia (mata malas) pada mereka lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa.

Peringatan Pengobatan Mata Juling

Secara umum tidak ada kondisi khusus yang menyebabkan pasien sama sekali tidak boleh menjalani operasi mata juling. Akan tetapi untuk menghindari komplikasi operasi mata juling, pasien sebaiknya memberitahukan penyakit yang diderita kepada dokter sebelum menjalani operasi. Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi operasi mata juling adalah:

  • Usia lanjut.
  • Memiliki riwayat penyakit yang dapat mengganggu peredaran darah, seperti diabetes dan hipertensi.
  • Memiliki riwayat operasi otot mata sebelumnya.

Operasi mata juling dilakukan dengan mengatur kembali otot-otot mata yang menyebabkan buruknya koordinasi antara kedua mata. Jumlah otot mata yang dikoreksi selama operasi ini berbeda-beda, sesuai dengan diagnosis dokter. Akan tetapi, semakin banyak otot mata yang dikoreksi melalui operasi mata juling, semakin tinggi risiko munculnya komplikasi, terutama iskemik segmen anterior mata.

Persiapan Pengobatan Mata Juling

Sebelum memutuskan untuk merekomendasikan pasien menjalani operasi mata juling, dokter akan meminta informasi mengenai jenis pengobatan yang pernah pasien jalani sebelumnya. Jika dokter memutuskan operasi, pasien akan menjalani pemeriksaan mata untuk menentukan tingkat keparahan mata juling yang dialami. Pemeriksaan yang dilakukan utamanya adalah pemeriksaan gerakan bola mata atau ortoptik. Selain pemeriksaan mata, pasien juga akan menjalani pemeriksaan fisik secara umum untuk mengetahui kondisi kesehatan sebelum operasi.

Jika pasien sedang mengonsumsi obat pengencer darah, seperti aspirin, warfarin, atau heparin, dokter akan meminta pasien menghentikan konsumsi obat tersebut untuk sementara. Obat-obatan dan suplemen lainnya yang pasien konsumsi juga harus diberitahukan kepada dokter. Pasien akan diminta berpuasa sebelum menjalani operasi untuk menghindari efek samping dari obat bius, seperti mual dan muntah. Jika pasien sedang menderita penyakit tertentu selain mata juling, dokter akan menunda operasi sampai pasien cukup sehat untuk menjalani operasi.

Prosedur Pengobatan Mata Juling

Pengobatan mata juling dengan operasi pada anak-anak dilakukan dalam keadaan mereka tidak sadar setelah diberikan anestesi. Anak-anak dapat merasakan kecemasan sebelum operasi karena terpisah dari orang tua. Kondisi tersebut dapat diatasi oleh dokter dengan memberikan obat penenang kepada anak. Operasi mata juling pada orang dewasa dapat dilakukan dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar. Orang dewasa bisa memilih obat bius yang akan digunakan selama operasi, apakah bius lokal atau total.

Setelah obat bius bekerja, dokter mata akan membuka dan menahan kelopak mata pasien dengan spekulum. Setelah itu, dokter akan membuat irisan kecil (insisi) pada selaput bening tipis yang menutupi bagian putih mata (konjungtiva). Melalui irisan kecil ini, dokter akan mengoreksi dan mengatur kembali otot-otot mata yang menyebabkan mata pasien menjadi juling. Operasi mata juling dapat dilakukan baik pada salah satu mata atau pada kedua mata.

Operasi otot mata dilakukan dengan cara menguatkan atau melemahkan otot mata untuk memperbaiki koordinasi gerakan kedua bola mata. Penguatan otot bola mata dilakukan dengan cara memotong (reseksi) bagian otot atau tendon otot bola mata. Sedangkan pelemahan otot mata dilakukan dengan cara melepaskan otot bola mata, kemudian memasang kembali pada titik di dekat bola mata bagian belakang atau dinamakan resesi otot bola mata. Proses ini dapat dilakukan pada orang dewasa maupun anak-anak.

Operasi mata juling umumnya berlangsung selama 1-2 jam. Khusus pada orang dewasa, otot-otot mata yang diatur dan dikoreksi selama operasi dapat dipasang secara sementara terlebih dahulu. Pasien yang otot matanya dipasang secara sementara, dapat menjalani pengujian gerakan bola mata setelah sadar kembali pasca operasi. Jika dirasa koordinasi gerakan kedua bola mata belum sempurna atau masih juling, pasien akan menjalani operasi kembali untuk mengatur ulang otot-otot mata tersebut. Jika juling sudah hilang dan koordinasi gerakan kedua mata sudah baik, otot-otot bola mata akan dipasang secara permanen.

Setelah Pengobatan Mata Juling

perasi mata juling umumnya dilakukan tanpa rawat inap, yang berarti pasien dapat pulang pada hari yang sama setelah operasi selesai. Pasien akan merasa gatal-gatal dan nyeri pada mata selama beberapa hari setelah operasi. Akan tetapi, hindari menggaruk mata untuk menjaga hasil operasi dan mencegah infeksi. Selain itu, hendaknya pasien menjaga mata yang sudah dioperasi tetap bersih dan terhindar dari debu serta benda atau bahan yang dapat menimbulkan iritasi lainnya. Jika diperlukan, dokter dapat memberikan antibiotik dalam bentuk obat tetes atau salep untuk mencegah infeksi pada mata.

Dokter akan mengatur jadwal kontrol bagi pasien selama beberapa minggu setelah operasi. Selama kontrol, dokter akan memantau kondisi dan penyembuhan mata pasca operasi. Beberapa orang yang menjalani operasi mata juling dapat mengalami gangguan penglihatan pasca operasi, khususnya anak-anak. Anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan pasca operasi disarankan tetap memakai penutup mata untuk melatih mata yang lebih lemah setelah menjalani operasi. Terapi dengan penutup mata tidak hanya melatih bola mata yang lemah, namun juga melatih otak yang menerjemahkan penglihatan dari mata. Orang dewasa yang sudah menjalani operasi mata juling dan mengalami gangguan penglihatan, tetap disarankan untuk menggunakan kacamata, sampai gangguan penglihatan dapat diatasi.

Risiko Pengobatan Mata Juling

Setiap tindakan operasi memiliki risiko terjadinya komplikasi. Operasi mata juling juga dapat menimbulkan komplikasi, meskipun jarang. Beberapa risiko komplikasi yang dapat terjadi akibat menjalani operasi mata juling adalah:

  • Infeksi pada mata.
  • Perdarahan mata.
  • Mata memerah dan terasa kering.
  • Penglihatan ganda.
  • Abrasi atau pengikisan pada kornea mata.
  • Ablasi retina.
Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi