Ini Cara Mendampingi Anak Bergaul Sehat di Media Sosial

Anak Bunda yang beranjak remaja tiba-tiba meminta membuat akun media sosial seperti teman-temannya. Padahal usianya belum mencapai batas usia syarat membuat akun tersebut. Bunda juga khawatir ia belum siap berinteraksi di dunia maya. Apa yang seharusnya dilakukan?

Sebenarnya dunia maya, termasuk media sosial, tidak ubahnya dunia nyata. Anak yang akan memasuki media sosial, seharusnya diberikan persiapan. Jangan sampai media yang seharusnya bermanfaat menambah jejaring informasi, pertemanan dan pengetahuan, justru malah menimbulkan efek buruk bagi anak yang belum siap.

Ini Cara Mendampingi Anak Bergaul Sehat di Media Sosial

Media Sosial dan Kepercayaan Diri

Bunda sadari atau tidak, media sosial dapat membangun atau menjatuhkan kepercayaan diri seseorang, apalagi anak-anak. Seperti orang dewasa, anak-anak mungkin juga akan memeriksa berapa orang yang menyukai foto atau video yang ia unggah. Juga memeriksa berapa jumlah pengikut akunnya.

Sedikitnya jumlah akun yang mengikuti atau menyukai unggahannya mungkin dapat membuatnya kurang percaya diri. Ia juga dapat menjadi percaya bahwa bagaimana tampilannya di media sosial lebih penting dari mengembangkan apa yang ada pada dirinya, dan tak jarang menjadi lupa untuk menggali potensi diri di dunia nyata. Oleh sebab itu, penting bagi Bunda dan Ayah untuk mendampingi anak, dengan memberikan porsi yang tepat bagi media sosial.

Cara Bunda dan Ayah menggunakan media sosial kurang lebih akan memengaruhi cara anak menggunakan akunnya sendiri. Menghargai orang lain adalah salah satu prinsip penting dalam menggunakan media sosial. Salah satunya, saat akan mengunggah foto anak di media sosial Bunda, ada baiknya izin dulu kepadanya, apakah ia mau fotonya tersebut dilihat teman-teman Bunda, atau bahkan umum. Jika ia menolak, sebaiknya Bunda menghargai keinginannya. Bunda dan Ayah juga harus lebih dulu menjadi contoh bagaimana media sosial dapat digunakan untuk hal positif.

Sebagai langkah awal, Bunda dapat memberikan akses media sosial hanya dari komputer atau laptop, dan bukan pada telepon seluler (ponsel). Tempatkan komputer atau laptop di lokasi rumah yang mudah dipantau. Jika anak menggunakan ponsel, sebaiknya berikan batasan waktu penggunaan agar anak tidak menggunakannya secara berlebihan dan tetap dapat fokus belajar.

Tips Meminimalkan Efek Negatif Media Sosial

Setiap kali mengajak bicara soal media sosial, hindari sikap menghakimi agar anak tenang dan tidak curiga pada rasa ingin tahu Bunda. Ini penting agar ia terbuka akan interaksinya di dunia maya.

Sebagai panduan, di bawah ini ada beberapa hal yang wajib diberitahukan kepada anak sebelum memberi izin memiliki akun di media sosial:

  • Berpikir sebelum mengunggah

Ajak ia untuk berpikir berulang kali sebelum mengunggah apapun di media sosial. Bunda perlu membiasakannya untuk memikirkan konsekuensi dari tiap unggahannya yang dapat dilihat banyak orang. Bunda perlu mengingatkannya bahwa seperti di dunia nyata, tidak semua orang yang ia temui di dunia maya adalah orang baik, tidak semua orang pula akan menyukai, atau dapat menerima apa yang kita unggah. Selain itu, Bunda juga dapat memberitahu anak cara melaporkan jika ada materi yang tidak pantas yang ia temukan di internet.

  • Patuhi usia minimal

Bunda dapat menjelaskan tentang peraturan usia minimal yang ditetapkan bagi anak untuk mengakses media sosial dan mengapa demikian. Akan lebih baik jika peraturan ini ditaati. Umumnya 13 tahun adalah usia saat anak pertama kali boleh mengakses dan membuat akun media sosial. Aturan ini dibuat karena di usia ini diasumsikan anak mulai dapat berinteraksi di media sosial dengan lebih bijak.

Namun kenyataannya, banyak anak yang dapat membuat akun sebelum usia tersebut dengan menggunakan alamat surat elektronik (surel) milik orang tua atau memalsukan tahun lahir. Bahkan tidak jarang, tindakan itu mendapat izin orang tua. Dalam hal ini, orang tua menjadi kunci untuk membatasi akses tersebut.

  • Mendiskusikan efek negatif

Meski jelas banyak manfaatnya, tetapi kasus yang membahayakan anak akibat interaksi di dunia maya juga tidak bisa diabaikan. Mulai dari penculikan, perundungan (bully), hingga kemungkinan depresi. Bunda dapat mengajak anak bicara tentang berbagai risiko negatif yang mungkin timbul dari interaksinya di dunia maya, serta memberikan contoh-contoh kasus yang sudah terjadi.

  • Ikuti akun media sosial anak

Ikuti akun media sosial anak untuk tahu apa saja yang diunggah dan interaksinya dengan pengguna lain. Bunda juga dapat memerhatikan akun siapa saja yang dia ikuti dan yang mengikutinya. Meski anak bisa saja membuat akun lain yang tidak Bunda ketahui, tetapi setidaknya kedekatan antara Bunda dengannya dapat memastikan bahwa ia selalu terbuka bercerita pada Bunda.

  • Ajarkan tentang kontrol privasi akun

Ajari anak untuk mengatur privasi (privacy setting) untuk mengontrol siapa saja yang bisa dan tidak bisa melihat profil mereka. Jika anak mengunggah video, Bunda dapat meminta anak untuk mengatur videonya sehingga tidak bisa dibuka sembarang orang. Jika dibiarkan tanpa pengaturan, umumnya video tersebut dapat diakses siapa saja yang berselancar di dunia maya. Ingatkan bahwa ia harus siap dengan konsekuensinya, seperti mendapat berbagai komentar yang tidak jarang dapat menyakiti hati.

  • Penanda lokasi sebaiknya tidak diaktifkan

Bunda perlu mengingatkan anak untuk menonaktifkan penanda lokasi (geotagging). Penanda lokasi membuat anak berisiko mengalami tindak kejahatan, karena lokasi aktivitas sehari-hari dapat lebih mudah diketahui.

  • Perangkat lunak dan aplikasi penyaring

Ada perangkat lunak (software) yang dapat digunakan pada laptop atau komputer untuk memantau penggunaan internet anak. Ada juga yang dapat menyaring pencarian data dengan kata kunci tertentu. Begitu juga dengan aplikasi yang dapat digunakan pada ponsel. Bunda dapat mulai mempelajari mana yang paling tepat untuk anak.

Dengan interaksi sehat di media sosial, diharapkan anak dapat mempelajari berbagai hal positif untuk pengembangan diri dan dapat terhindar dari berbagai efek negatifnya. Jangan ragu untuk berkonsultasi pada psikolog anak, bila pengaruh media sosial dirasa mengkhawatirkan bagi kondisi psikis dan tumbuh kembangnya.

Ditinjau oleh : dr. Allert Noya

Referensi