Penderita hipertensi umumnya perlu mengonsumsi obat tekanan darah tinggi secara rutin. Jenis obat tekanan darah tinggi pun beragam dan memiliki cara kerja yang berbeda-beda. Oleh karena itu, konsumsinya tidak sembarangan dan perlu disesuaikan dengan kondisi penderita.

Tekanan darah normal berada pada angka 120/80 mmHg atau sedikit di bawah angka tersebut. Seseorang dapat dikatakan memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi jika tekanan darahnya berada pada nilai 130/80 mmHg atau lebih.

7 Jenis Obat Tekanan Darah Tinggi yang Perlu Diketahui - Alodokter

Hipertensi dapat muncul tanpa gejala dan sering kali baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan rutin atau medical check up Tekanan darah tinggi yang tidak segera diobati dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti penyakit jantung, kerusakan ginjal, dan stroke.

Berbagai Jenis Obat Tekanan Darah Tinggi

Obat-obatan tekanan darah tinggi ini cukup beragam dan terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. ACE inhibitor (angiotensin-converting enzyme inhibitor)

ACE inhibitor bekerja dengan cara menghambat produksi hormon angiotensin, yaitu hormon yang dapat menyempitkan pembuluh darah. Dengan obat ini, otot dinding pembuluh darah akan menjadi rileks dan sedikit melebar, sehingga tekanan pada pembuluh darah berkurang.

ACE inhibitor biasanya diberikan kepada lansia atau penderita hipertensi yang memiliki kondisi medis lain, seperti penyakit jantung, gagal jantung, penyakit ginjal, dan diabetes.

Contoh obat ACE inhibitor yang sering digunakan adalah captopril, enalapril, lisinopril, perindopril, dan ramipril. Ada beberapa efek samping dari obat ACE inhibitor, yaitu batuk kering, sakit kepala, pusing, hiperkalemia, dan ruam kulit.

Obat tekanan darah tinggi yang satu ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan atau cacat pada janin jika dikonsumsi oleh ibu hamil.

2. ARB (angiotensin II receptor blocker)

ARB memiliki efek yang hampir sama dengan ACE inhibitor, tetapi cara kerja kedua golongan obat ini berbeda. ARB menghalangi kerja hormon angiotensin yang menyempitkan pembuluh darah, sehingga pembuluh darah bisa melebar agar sirkulasi darah berjalan lancar sekaligus menurunkan tekanan darah.

Biasanya, dokter akan meresepkan obat ini kepada penderita hipertensi yang tidak cocok dengan obat golongan ACE inhibitor. Contoh obat ARB adalah candesartan, irbesartan, losartan, olmesartan, dan valsartan.

Obat tekanan darah tinggi golongan ARB memiliki beberapa efek samping, seperti pusing, sakit kepala, dan peningkatan risiko kematian janin bila dikonsumsi oleh ibu hamil.

3. Penghambat beta (beta blockers)

Obat golongan penghambat beta bekerja dengan cara menghambat efek hormon epinefrin atau adrenalin, yaitu hormon yang berperan dalam meningkatkan aliran dan tekanan darah. Karena efek tersebut, obat golongan ini bisa membuat jantung berdenyut lebih lambat dan tekanan darah menurun.

Selain untuk menurunkan tekanan darah, obat golongan ini juga dapat digunakan untuk mengobati aritmia atau kelainan irama jantung, gagal jantung, penyakit jantung, dan hipertiroidisme.

Contoh obat penghambat beta adalah atenolol, bisoprolol, dan metoprolol. Efek samping yang sering dialami setelah mengonsumsi obat ini adalah pusing, sakit kepala, mual, kelelahan, susah tidur, dan sesak napas.

Oleh karena itu, penggunaan obat penghambat beta mungkin perlu dihindari oleh penderita hipertensi yang memiliki asma.

4. CCB (calcium channel blocker)

Kalsium adalah mineral yang berperan dalam meningkatkan kekuatan otot jantung dan pembuluh darah. CCB bekerja dengan cara menghambat jalan masuk kalsium ke dalam otot jantung dan dinding pembuluh darah, sehingga membuat sel-sel jantung dan pembuluh darah otot mengendur dan rileks. Efek ini membuat tekanan darah menurun.

Obat ini biasanya diberikan bersamaan dengan penghambat beta. Contoh obat CCB adalah amlodipine, nicardipine, diltiazem, verapamil, dan nifedipine.

Sama seperti jenis obat tekanan darah tinggi lainnya, CCB juga menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat penggunaan CCB adalah sakit kepala, kaki bengkak, dada berdebar, dan sembelit.

5. Diuretik

Diuretik bekerja dengan cara membuang kelebihan air dan natrium dalam tubuh, sehingga jumlah cairan dan garam yang mengalir dalam pembuluh darah menurun. Efek ini dapat menimbulkan penurunan tekanan darah.

Contoh obat diuretik adalah furosemide, torsemide, spironolactone, dan hydrochlorothiazide. Obat diuretik dapat menimbulkan efek samping berupa pusing, sering merasa haus, sering buang air kecil, kram otot, dehidrasi, ruam kulit, dan munculnya penyakit asam urat.

6. Nitrat

Nitrat berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran darah ke jantung meningkat dan jantung tidak memompa darah lebih kuat. Obat ini juga dapat mengendurkan pembuluh darah sehingga mengurangi ketegangan pada jantung.

Jenis obat-obatan nitrat adalah isosorbide dinitrate, isosorbide mononitrate, dan glyceryl trinitrate. Obat tekanan darah tinggi golongan nitrat ini dapat menimbulkan efek samping berupa pusing, wajah kemerahan, mual, hipotensi, dan rasa tidak nyaman di mulut.

7. Penghambat alfa (alpha blockers)

Obat tekanan darah tinggi ini bekerja dengan cara menghambat kerja hormon norepinefrin yang dapat menyempitkan aliran darah dan membuat otot mengalami kontraksi. Obat golongan penghambat alfa dapat membuat otot pembuluh darah menjadi rileks, sehingga tekanan darah menurun.

Obat-obatan golongan penghambat alfa umumnya bukan merupakan pilihan obat tekanan darah tinggi yang utama. Obat ini biasanya diberikan kepada penderita hipertensi yang juga memiliki kondisi medis lain, seperti pembesaran prostat jinak dan penyakit arteri perifer.

Contoh obat yang termasuk dalam golongan penghambat alfa adalah terazosin, prazosin, dan tamsulosin. Efek samping obat golongan ini adalah pusing dan hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah saat posisi tubuh berubah.

Selain pengobatan, penderita hipertensi disarankan untuk menjaga pola hidup sehat dan memeriksakan kondisi kesehatannya secara rutin ke dokter. Bila perlu, penderita hipertensi juga bisa memeriksakan tekanan darah secara rutin di rumah dengan tensimeter.

Dosis dan daftar obat tekanan darah tinggi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing penderita. Itulah sebabnya penderita hipertensi perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu guna menentukan jenis obat darah tinggi yang cocok dan aman digunakan sesuai dengan kondisinya.