Terdapat banyak jenis obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi. Obat-obatan yang termasuk dalam daftar obat tekanan darah tinggi memiliki cara kerja yang berbeda-beda. Penderita hipertensi yang rutin mengonsumsi obat tekanan darah tinggi perlu mengenali jenis, cara kerja, dan efek samping obat-obatan ini.

Tekanan darah normal adalah tekanan darah yang berada pada angka 120/80 mmHg atau sedikit di bawah angka tersebut. Seseorang dapat dikatakan memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi jika tekanan darahnya berada pada nilai 130/80 mmHg atau lebih.

Ini Daftar Obat Tekanan Darah Tinggi yang Perlu Diketahui - Alodokter

Hipertensi dapat muncul tanpa gejala dan sering kali baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan rutin (check up). Tekanan darah tinggi yang tidak diobati dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti penyakit jantung, kerusakan ginjal, dan stroke.

Penyakit tekanan darah tinggi disebabkan oleh perpaduan beberapa faktor, yaitu usia tua, faktor keturunan, dan gaya hidup kurang sehat, seperti terlalu banyak mengonsumsi garam, kurang olahraga, sering stres, atau merokok.

Selain itu, kondisi atau penyakit tertentu, seperti obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, hingga gangguan hormon, juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.

Daftar Obat Tekanan Darah Tinggi yang Bisa Anda Pilih

Guna mengobati hipertensi dan menjaga tekanan darah tetap stabil, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan perbaikan gaya hidup, seperti:

  • Menjalani pola makan sehat dengan mengurangi asupan garam dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
  • Memperbanyak aktivitas fisik dan rutin berolahraga.
  • Menurunkan berat badan bila mengalami obesitas dan menjaga berat badan tetap ideal.
  • Mengurangi konsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, atau minuman bersoda.
  • Berhenti merokok.
  • Mengurangi konsumsi alkohol.
  • Mengurangi stres dengan melakukan relaksasi.
  • Tidur yang cukup.

Namun bila perbaikan gaya hidup tidak berhasil menurunkan tekanan darah, dokter akan meresepkan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Selama mengonsumsi obat, pasien tentunya harus tetap menerapkan pola hidup yang sehat.

Obat-obatan tekanan darah tinggi ini cukup beragam dan terbagi dalam beberapa jenis, yaitu:

1. Angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor)

ACE inhibitor bekerja dengan cara menghambat produksi hormon angiotensin, yakni hormon yang dapat menyempitkan pembuluh darah. Dengan obat ini, otot dinding pembuluh darah akan menjadi rileks dan sedikit melebar, sehingga tekanan pada pembuluh darah berkurang.

ACE inhibitor biasanya diberikan pada pasien berusia di atas 65 tahun atau pasien hipertensi yang memiliki kondisi medis lain, seperti penyakit jantung, gagal jantung, kelainan ginjal, dan diabetes.

Contoh obat ACE inhibitor yang sering digunakan adalah captopril, enalapril, lisinopril, perindopril, dan ramipril. Efek samping dari obat ACE inhibitor antara lain batuk kering, sakit kepala, pusing, hiperkalemia, dan ruam kulit.

Obat tekanan darah tinggi yang satu ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan atau cacat pada janin jika dikonsumsi oleh ibu hamil.

2. Angiotensin II receptor blocker (ARB)

ARB memiliki efek yang hampir sama dengan ACE inhibitor, namun cara kerja kedua golongan obat ini berbeda. ARB menghalangi kerja hormon angiotensin yang menyempitkan pembuluh darah, sehingga pembuluh darah bisa diperlebar agar sirkulasi darah berjalan lancar sekaligus menurunkan tekanan darah.

Biasanya dokter akan meresepkan obat ini kepada pasien yang tidak cocok dengan obat hipertensi golongan ACE inhibitor. Contoh obat ARB adalah candesartan, irbesartan, losartan, valsartan, dan olmesartan.

Obat tekanan darah tinggi golongan ARB memiliki beberapa efek samping, seperti pusing, sakit kepala, dan peningkatan risiko kematian janin di dalam kandungan.

3. Beta blockers

Beta blockers bekerja dengan cara menghambat efek hormon epinefrin atau adrenalin, yaitu hormon yang berperan dalam meningkatkan aliran dan tekanan darah. Karena efek tersebut, obat golongan beta blockers dapat membuat jantung berdenyut lebih lambat dan tekanan darah menurun.

Selain untuk menurunkan tekanan darah, obat golongan ini juga dapat digunakan untuk mengobati kelainan irama jantung (aritmia), gagal jantung, penyakit jantung, dan hipertiroidisme.

Contoh obat beta blockers atau penghambat beta adalah atenolol, bisoprolol, dan metoprolol. Efek samping yang sering dialami setelah mengonsumsi obat ini adalah pusing, sakit kepala, mual, kelelahan, susah tidur, serta sesak napas.

Oleh karena itu, penggunaan obat beta blockers mungkin perlu dihindari oleh penderita hipertensi yang memiliki asma.

4. Calcium channel blocker (CCB)

Kalsium adalah mineral yang memiliki peran untuk meningkatkan kekuatan otot jantung dan pembuluh darah. CCB bekerja dengan cara menghambat jalan masuk kalsium ke dalam otot jantung dan dinding pembuluh darah, sehingga membuat sel-sel jantung dan pembuluh darah otot mengendur dan rileks. Efek ini membuat tekanan darah menurun.

Obat ini biasanya diberikan bersamaan dengan beta blockers. Contoh obat CCB adalah amlodipine, nicardipine, diltiazem, verapamil, dan nifedipine.

Sama seperti jenis obat tekanan darah tinggi lainnya, CCB juga menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang dapat muncul akibat penggunaan CCB adalah sakit kepala, kaki yang membengkak, dada berdebar, dan sembelit.

5. Diuretik

Diuretik bekerja dengan cara membuang kelebihan air dan natrium dalam tubuh, sehingga jumlah cairan dan garam yang mengalir dalam pembuluh darah menurun. Efek ini dapat menimbulkan penurunan tekanan darah.

Contoh obat diuretik adalah furosemide, torsemide, spironolactone, dan hydrochlorothiazide. Obat diuretik dapat menimbulkan efek samping berupa pusing, sering merasa haus, lebih sering buang air kecil, kram otot, dehidrasi, ruam kulit, dan munculnya gejala asam urat.

6. Nitrat

Nitrat berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran darah ke jantung meningkat dan jantung tidak memompa darah lebih kuat. Biasanya, dokter baru akan meresepkan obat ini ketika obat beta blockers dan CCB tidak bekerja dengan efektif atau pada pasien hipertensi yang mengalami serangan jantung.

Jenis obat-obatan nitrat adalah isosorbide dinitrate, isosorbide mononitrate, dan glyceryl trinitrate. Obat tekanan darah tinggi golongan nitrat ini dapat menimbulkan efek samping berupa pusing, wajah kemerahan, mual, hipotensi, dan rasa tidak nyaman di mulut.

7. Alpha blockers

Obat tekanan darah tinggi ini bekerja dengan cara menghambat kerja hormon norepinefrin yang dapat menyempitkan aliran darah dan membuat otot mengalami kontraksi. Obat golongan alpha blockers dapat membuat otot pembuluh darah menjadi rileks, sehingga tekanan darah menurun.

Obat-obatan golongan alpha blockers umumnya bukan merupakan pilihan obat tekanan darah tinggi yang utama. Obat ini biasanya diberikan pada pasien hipertensi yang juga memiliki kondisi medis lain, seperti pembesaran prostat jinak (BPH) dan penyakit arteri perifer.

Contoh obat yang termasuk dalam golongan alpha blockers adalah terazosin, prazosin, dan tamsulosin. Efek samping obat golongan alpha blockers adalah pusing dan hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah saat posisi tubuh berubah.

Pemilihan jenis dan dosis obat tekanan darah tinggi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing penderita. Itulah sebabnya, penderita hipertensi perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu guna menentukan jenis obat darah tinggi mana yang cocok dan aman digunakan sesuai dengan kondisinya.

Selain itu, penderita hipertensi juga disarankan untuk memeriksakan tekanan darah secara rutin di rumah dengan tensimeter dan rutin kontrol ke dokter untuk memantau efektivitas pengobatan dalam mengendalikan tekanan darah.