Jangan Takut, Gangguan Paranoid Bisa Diatasi

Psikoterapi adalah langkah pertama dan utama dalam mengobati gangguan paranoid atau gangguan delusional. Selain psikoterapi, gangguan paranoid dapat ditangani dengan cara lain, yaitu dengan menggunakan obat-obatan.

Kondisi orang dengan gangguan paranoid atau gangguan delusional berbeda-beda. Ada yang hidup dalam delusi mereka sendiri, ada juga yang tetap dapat bersosialisasi. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah gangguan ini merupakan gangguan kesehatan mental yang serius.

jangan takut dengan paranoid karena bisa disembuhkan - alodokter

Gejala Gangguan Paranoid

Penderita gangguan paranoid atau delusional senantiasa merasa  ada seseorang yang akan menipu, membohongi, mengikuti dari belakang, atau berencana mencelakai dirinya. Sebagai gejala lainnya, seseorang dengan gangguan paranoid cenderung mudah marah, sedih, atau tersinggung. Pasien juga kemungkinan mengalami halusinasi, seperti mendengar suara atau mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Psikoterapi

Untuk menyembuhkan gangguan kepribadian seperti gangguan paranoid, dokter biasanya melakukan psikoterapi. Terapi ini dapat mengikutsertakan peran keluarga pasien.

Berikut macam-macam terapinya, yaitu:

Terapi keluarga

Keluarga pasien bisa diikutsertakan dalam terapi. Tujuannya untuk membantu keluarga menghadapi serta memberikan dukungan untuk penderita dengan gejala paranoidnya. Dengan demikian, terapi dapat dilakukan lebih efektif.

Psikoterapi individu

Tujuan dari terapi ini adalah  membantu orang dengan gangguan paranoid untuk mengenali diri sendiri dan gejala yang dideritanya. Diharapkan, pasien dapat mengendalikan dan memperbaiki pikiran-pikiran yang tidak semestinya.

Terapi kognitif-perilaku

Selain diberi terapi untuk mengenali diri sendiri, pasien juga diberi terapi untuk belajar mengubah pola pikiran dan perilaku yang bermasalah. Jadi, perilaku yang membuatnya terus-menerus merasa cemas, takut, dan curiga, berangsur-angsur dapat dikendalikan.

Terapi dapat membantu pasien untuk belajar mengontrol gejala yang dirasakan, mengenali tanda-tanda jika penyakit tersebut kambuh, dan mencegah terjadinya kekambuhan.

Penderita paranoid cenderung untuk menyendiri karena merasa curiga ada orang lain yang berusaha membohongi, memanipulasi, atau menyebarkan rahasia mereka. Mereka cenderung tidak memiliki kepercayaan terhadap orang lain, ditambah lagi penderita paranoid pada umumnya tidak merasa bahwa diri mereka mempunyai masalah. Akibatnya, orang dengan gangguan paranoid bisa enggan mengikuti pengobatan yang disarankan, dan ini akan mempersulit dilakukannya psikoterapi.

Obat-obatan

Selain melakukan psikoterapi, penyembuhan paranoid dapat menggunakan obat-obatan medis. Pengobatan ini kerap dilakukan bila terdapat depresi, cemas, atau gejala psikosis. Beberapa gejala psikosis yaitu halusinasi, delusi, linglung, dan tidak dapat membedakan antara halusinasi atau ilusi dengan kenyataan.

Berikut obat-obatan antipsikosis yang umumnya diresepkan oleh dokter, yaitu:

Antipsikosis atipikal

Serotonin adalah zat kimia pembawa pesan antar neuron (neurotransmitter).yang terlibat dalam timbulnya gangguan paranoid. Obat antipsikosis atipikal bekerja dengan menghalangi efek serotonin di otak. Dengan demikian, gangguan paranoid dapat ditekan. Obat ini adalah jenis baru dan diyakini lebih efektif dalam mengobati gangguan paranoid.

Antipsikosis konvensional

Cara kerja obat antipsikosis konvensional ini sama dengan antipsikosis atipikal. Namun, neurotransmitter yang dihalangi efeknya adalah dopamin, yang juga ada di otak.

Obat-obatan lain yang juga bisa diberikan adalah obat penenang. Obat ini diberikan bila pasien memiliki gangguan tidur atau gangguan psikologi, seperti cemas berlebihan. Obat antidepresan juga diberikan bila pasien mengalami depresi.

Bila diketahui sedini mungkin dan diberikan terapi dengan benar, pasien dengan gangguan paranoid atau delusional akan pulih kembali. Kehidupan sosialnya pun dapat segera berfungsi secara normal.

Ditinjau oleh : dr. Kevin Adrian

Referensi