Kaporit adalah bahan kimia yang banyak digunakan sebagai disinfektan untuk menjaga air, baik air kolam renang hingga air sumur dan air PDAM, tetap jernih dan bebas dari kuman berbahaya. Meski efektif membasmi kuman dalam air, penggunaan kaporit harus hati-hati. Pasalnya, paparan atau dosis berlebihan bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Kaporit (kalsium hipoklorit) merupakan serbuk atau tablet putih yang mudah larut di dalam air. Ketika dilarutkan, kaporit akan melepaskan senyawa klorin yang dapat membunuh bakteri, virus, dan mikroorganisme lain yang berbahaya. Tak hanya untuk disinfeksi air minum serta kolam renang, kaporit juga sering digunakan untuk memutihkan kain atau pakaian.

Fungsi Kaporit dalam Kehidupan Sehari-hari
Ada beberapa fungsi kaporit dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
- Membunuh bakteri, virus, dan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya, seperti kolera dan disentri pada air
- Menghilangkan bau tidak sedap pada air
- Membantu menjaga kualitas air agar tetap jernih dan layak digunakan
- Membasmi kuman dan menghilangkan noda pada kain atau pakaian
Meski memiliki banyak fungsi untuk kehidupan sehari-hari, perlu diingat bahwa dosis kaporit harus disesuaikan dengan volume air dan tujuan penggunaannya. Pasalnya, dosis yang berlebihan, justru berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Risiko dan Efek Samping Kaporit
Jika digunakan sesuai dosis, kaporit umumnya aman digunakan. Namun, jika digunakan secara berlebihan atau kontak langsung tanpa perlindungan, kaporit bisa menimbulkan risiko atau efek samping pada kesehatan:
1. Iritasi kulit
Paparan langsung terhadap kaporit, baik saat mencampur, memasukkan ke dalam air, atau berenang di kolam yang mengandung kadar kaporit berlebih, dapat memicu iritasi pada kulit. Gejalanya meliputi kulit terasa kering, gatal, kemerahan, bahkan bersisik. Orang dengan kulit sensitif atau riwayat alergi biasanya lebih berisiko mengalami reaksi ini.
2. Iritasi mata
Kandungan kaporit yang terlalu tinggi dalam air kolam renang juga dapat menyebabkan mata terasa perih, merah, dan berair. Pada beberapa kasus, hal itu juga bisa menyebabkan munculnya sensasi panas di mata dan pandangan menjadi kabur untuk sementara waktu. Meski begitu, reaksi ini biasanya akan membaik setelah mata dibasuh menggunakan air bersih.
3. Gangguan pernapasan
Uap kaporit yang terhirup, baik saat menuangkan, mencampur, maupun berada di ruangan dengan ventilasi buruk, bisa mengiritasi saluran napas. Akibatnya, timbul beberapa gejala gangguan pernapasan, seperti hidung gatal, tenggorokan kering, batuk, dan sesak napas.
Penderita asma, rhinitis alergi, atau penyakit paru kronis sangat rentan mengalami serangan atau kekambuhan akibat paparan uap kaporit.
4. Kerusakan gigi dan perubahan warna
Jika air minum mengandung kadar kaporit di atas ambang batas aman, penggunaan rutin dalam jangka panjang dapat merusak enamel gigi. Akibatnya, gigi menjadi lebih mudah berlubang, keropos, dan muncul bercak atau perubahan warna pada gigi, misalnya kuning atau kecokelatan. Anak-anak yang giginya masih tumbuh sangat rentan terhadap efek ini.
5. Mual dan muntah
Menelan air dengan kandungan kaporit berlebih, baik secara tidak sengaja saat berenang atau karena air konsumsi menggunakan kaporit, dapat mengakibatkan iritasi lambung. Gejalanya berupa mual atau muntah. Dalam jumlah besar, kerusakan jaringan pada saluran pencernaan bisa terjadi, walau kasusnya sangat jarang bila kadar kaporit sesuai standar.
6. Diare
Kaporit dengan kadar berlebih pada air minum atau air rumah tangga juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan flora usus. Efeknya, diare pun bisa terjadi. Pada kasus diare parah, anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah bahkan bisa mengalami dehidrasi.
Tips Penggunaan Kaporit yang Aman
Untuk mengurangi risiko terjadinya masalah kesehatan akibat penggunaan kaporit, Anda perlu memerhatikan beberapa tips berikut:
1. Ukuran takaran yang tepat
Selalu baca dan ikuti petunjuk pada label kemasan kaporit. Dosis yang dianjurkan bervariasi tergantung tujuan penggunaan, misal desinfeksi air minum, kolam renang, atau sumur. Nah, standar kadar residu klorin yang aman untuk air minum di Indonesia adalah ≤1 mg/L, sementara untuk kolam renang umumnya antara 1–3 mg/L.
2. Larutkan kaporit secara merata
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kaporit tersedia dalam bentuk bubuk atau tablet putih yang pemakaiannya harus dilarutkan hingga benar-benar menyatu dalam air sebelum digunakan.
Namun, usahakan tidak menuang kaporit langsung ke dalam air yang keruh atau kotor, karena bahan organik dalam air bisa bereaksi dengan kaporit dan menghasilkan senyawa lain yang berisiko membahayakan kesehatan.
Sebaliknya, campurkan kaporit ke dalam air jernih hingga benar-benar larut dan tunggu beberapa saat sebelum mengambil atau menggunakannya.
3. Pastikan sirkulasi udara baik
Jika proses pencampuran dilakukan di ruangan tertutup, pastikan ada ventilasi yang memadai agar uap kaporit tidak terakumulasi. Pasalnya, uap kaporit dapat menyebabkan iritasi saluran napas jika terhirup. Oleh karena itu, sebaiknya, lakukan proses pelarutan atau pencampuran kaporit di luar ruangan atau dekat jendela terbuka bila memungkinkan.
4. Jauhkan dari anak-anak
Simpan kaporit di tempat yang tidak mudah dijangkau anak-anak atau hewan peliharaan. Hal ini karena kaporit bersifat korosif, yaitu dapat merusak dan beracun, baik jika tidak sengaja atau sengaja tertelan. Selain itu, hindari memindahkan kaporit ke wadah tidak berlabel untuk mencegah risiko salah konsumsi.
5. Pantau kualitas air secara berkala
Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kadar klorin sisa (residual chlorine) pada air minum, kolam, atau sumur. Untuk melakukannya, gunakanlah alat tes sederhana, seperti test kit residu klorin, yang kini mudah didapat di toko pertanian atau online. Pengujian ini penting untuk memastikan air aman digunakan setiap hari, sekaligus membantu menyesuaikan dosis bila ditemukan kelebihan atau kekurangan kaporit dalam air.
Kaporit memang digunakan untuk menjaga air rumah tangga, termasuk air sumur atau PDAM untuk minum, tetap bersih dari kuman. Namun, perlu Anda ketahui, kaporit sama sekali tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet makanan.
Hal itu karena penggunaan kaporit pada makanan sangat berbahaya dan dapat memicu gangguan kesehatan serius, seperti gangguan pencernaan, keracunan, serta masalah pada organ tubuh lain, seperti hati dan ginjal. Oleh karena itu, hindari konsumsi makanan yang terindikasi mengandung kaporit dan demi keamanan Anda dan keluarga.
Namun, jika Anda mengalami gejala efek samping setelah terpapar air atau makanan berkaporit, segera konsultasikan ke dokter melalui fitur Chat Bersama Dokter. Dengan begitu, Anda pun mendapatkan penanganan yang tepat dan risiko akibat paparan kaporit yang lebih berbahaya dapat dicegah.