Sebagai orang tua, mungkin Anda akan panik ketika mendapati BAB pada bayi berbusa. Meski begitu, BAB berbusa pada bayi ini bisa saja merupakan hal yang normal dan bukan merupakan tanda bahaya. Untuk mengetahui lebih lanjut informasi mengenai BAB bayi berbusa, yuk, simak ulasan berikut ini.

Ciri dan karakteristik feses merupakan salah satu indikator kesehatan bayi. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui dan memerhatikan adanya perubahan tekstur, warna, dan frekuensi BAB pada bayi. Dengan memerhatikan BAB pada bayi, Anda dapat memantau kondisi kesehatan dan kecukupan gizinya.

Ketahui Informasi tentang BAB Bayi Berbusa di Sini - Alodokter

Penyebab BAB Bayi Berbusa

BAB yang berbusa pada bayi tidak selalu menjadi pertanda adanya penyakit. Hal tersebut justru tergolong normal apabila bayi masih mendapatkan ASI eksklusif. BAB bayi berbusa bisa terjadi karena adanya ketidakseimbangan asupan foremilk dan hindmilk.

ASI terdiri dari dua bagian, yaitu foremilk dan hindmilk. Foremilk adalah ASI yang keluar lebih dahulu selama beberapa menit, saat bayi mulai menyusu. Setelah itu, bagian ASI yang keluar adalah hindmilk.

Foremilk lebih encer dan memiliki kandungan kalori rendah serta tinggi laktosa. Sedangkan hindmilk cenderung lebih kental serta mengandung lebih banyak kalori dan lemak.

Tubuh bayi masih belum mampu mencerna laktosa dengan baik. Jadi, bila bayi terlalu banyak mendapatkan foremilk saat menyusu, fesesnya akan tampak lebih berbuih atau berbusa.

Pada bayi yang diberi susu formula, BAB berbusa bisa menjadi tanda bahwa bayi mengalami alergi terhadap susu sapi. Selain BAB berbusa, kondisi ini juga bisa menunjukkan gejala berupa:

  • Muncul ruam di kulit dan sekitar mulut yang terasa gatal, sehingga menyebabkan bayi terlihat sering menggaruk area tersebut.
  • Pembengkakan di bibir, lidah, atau tenggorokan.
  • Batuk-batuk.
  • Sesak napas.
  • Muntah.

Jika feses bayi berbuih tanpa disertai gejala lain dan bayi tidak terlihat lemas atau rewel, kemungkinan besar hal tersebut adalah normal.

Namun jika tektur feses bayi berbuih disertai gejala lain, seperti BAB lebih sering dan mencret, bayi rewel, lemas, demam, kurang atau tidak mau menyusui, hingga muncul tanda-tanda dehidrasi, maka bisa saja kondisi ini menandakan bahwa bayi mengalami diare.

Cara Mengatasi BAB Bayi Berbusa

Keseimbangan pasokan foremilk dan hindmilk ini sangat penting untuk bayi. Saat bayi mendapatkan keduanya secara seimbang, maka biasanya tekstur BAB akan menjadi lebih padat dan tidak lagi berbusa.

Untuk mencegah tekstur tinja bayi berbusa, solusinya adalah dengan membiarkan bayi menyusu pada salah satu payudara setidaknya 5-10 menit sebelum beralih ke payudara yang lain.

Anda juga bisa memulai proses menyusui pada sisi payudara yang terakhir diisap Si Kecil. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa ia menerima cukup hindmilk, sehingga akan mengurangi busa pada BAB-nya.

Untuk mengatasi BAB berbusa pada bayi yang diberi susu formula, gantilah susunya dengan susu formula yang bertuliskan hypoallergenic.

Bila BAB berbusa pada bayi tidak hilang dalam dua hari, disertai dengan adanya lendir atau darah pada fesesnya, demam, rewel atau tampak kesakitan, sebaiknya segera periksakan ke dokter anak untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.