BAB berbusa biasanya terkait erat dengan makanan yang dikonsumsi atau pengobatan yang sedang dijalani. Namun, munculnya busa pada tinja juga bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perawatan medis segera.

Perubahan ukuran, bentuk, warna, dan tekstur tinja dapat menjadi petunjuk penting untuk mengidentifikasi berbagai penyakit. Salah satu perubahan yang terjadi pada tinja adalah ketika BAB (buang air besar) nampak berbusa.

Penyebab BAB Berbusa yang Harus Diwaspadai - Alodokter

BAB berbusa terjadi ketika terlalu banyak kandungan lemak dan lendir pada tinja. Cairan lendir dapat terlihat seperti busa atau ditemukan pada tinja yang berbusa. Lendir pada tinja umumnya normal dan berfungsi membantu melancarkan keluarnya tinja dan melindungi usus. Namun, terlalu banyak lendir pada tinja dapat menjadi tanda terjadinya perubahan pada sistem pencernaan, yang mengarah pada penyakit tertentu.

Kondisi Klinis Penyebab BAB Berbusa

Dalam istilah medis, lemak yang terlalu banyak pada tinja disebut dengan steatorea. Kondisi ini bisa menjadi pertanda malabsorsi lemak, yakni lemak tidak dicerna dan tidak terserap dengan baik. Steatorea umumnya ditandai dengan tinja yang berminyak, tinja tampak pucat atau seperti lumpur, tinja berbau busuk dan lembek.

Selain malabsorsi lemak, BAB berbusa atau steatorrhea juga bagian dari gejala beberapa kondisi klinis, seperti pankreatitis, cystic fibrosis, dan abses atau fistula pada bagian anus. BAB berbusa perlu diwaspadai jika disertai dengan gejala berupa BAB berdarah, nyeri perut, demam, mual muntah, dan diare.

Gangguan pada Sistem Pencernaan

BAB berbusa atau lendir yang terlalu banyak pada tinja bisa menjadi pertanda adanya gangguan pada sistem pencernaan, seperti:

  • Keracunan makanan
    Selain gejala yang mirip dengan gejala flu, keracunan makanan bisa menyebabkan tinja menjadi berlendir.
  • Infeksi bakteri
    Bakteri Clostridium difficile bisa menyebabkan diare berat disertai dengan tinja yang berlendir dan berbau busuk. Infeksi bakteri lain, misalnya pada penyakit disentri, juga bisa menyebabkan tinja berlendir.
  • Giardiasis
    Giardiasis adalah infeksi parasit Giardia lamblia yang menimbulkan peradangan pada saluran cerna. Infeksi ini didapat dari air dan makanan yang terkontaminasi, atau aktivitas berenang. Parasit dapat menular antar orang terutama bila terpapar tinja yang terinfeksi. Gejalanya meliputi diare, perut kembung, BAB berbusa atau tinja nampak berminyak, mual dan nyeri perut, dan demam. Pengobatannya adalah dengan pemberian antibiotik dari dokter, dan menjaga kebutuhan cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi.
  • Penyakit radang usus (Inflammatory Bowel Disease/IBD)
    Penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif merupakan kondisi yang dapat menyebabkan usus terluka. Selain diare dan nyeri perut, kondisi ini memungkinkan tinja berbusa, bernanah, bahkan berdarah.
  • Penyakit celiac
    Penyakit celiac adalah kondisi akibat masalah sistem kekebalan tubuh yang bereaksi ketika mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, dan merusak sel dinding usus halus. Kondisi ini juga menyebabkan malabsorbsi lemak dan memicu BAB berbusa.

Kendati BAB berbusa biasanya bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari atau beberapa minggu, namun Anda tetap perlu mewaspadai kemungkinan penyebab lain BAB berbusa. Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter, terlebih jika BAB berbusa disertai dengan tinja berdarah, diare lebih dari dua hari (atau lebih dari satu hari pada anak-anak), demam, serta nyeri perut yang parah.