Memahami Sisi Kesehatan dari Transgender

Transgender tidak disebut sebagai gangguan mental jika tidak sampai menimbulkan depresi hingga ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari. Namun risiko kesehatan fisik tetap dapat mengintai.

Gender merujuk pada refleksi manusia terhadap dirinya sendiri, yang terbentuk dari konstruksi peran sosial, aktivitas, tingkah laku, dan lingkungan. Transgender adalah orang-orang yang merasa bahwa identitas gendernya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya saat lahir. Misalnya seorang wanita transgender adalah seorang yang terlahir berjenis kelamin laki-laki, namun orang tersebut merasa bahwa dirinya adalah seorang wanita. Sama halnya dengan pria transgender, orang tersebut terlahir dengan jenis kelamin wanita namun merasa dirinya adalah seorang pria.

kesehatan transgender, alodokter

Bukan Gangguan Mental

Transgender pada umumnya tidak dikategorikan sebagai gangguan mental. Namun ada kalanya kaum transgender lebih berisiko mengidap gangguan mental karena konflik dalam dirinya sendiri tentang identitas gendernya, dan juga karena diskriminasi dan tekanan sosial. Orang transgender dapat mengalami gangguan identitas gender/ gender identity disorder (GID), jika menjadi transgender membuatnya merasa tertekan, depresi, atau menjadi tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari, seperti bekerja dan membangun hubungan dengan orang lain. Untuk membantu memperbaiki kesehatan mental dan mengevaluasi kondisinya lebih lanjut, para transgender dapat berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog. Pada beberapa kasus, transisi gender menjadi salah satu solusi.

Perlukah Melakukan Transisi?

Keputusan untuk melakukan transisi gender adalah hal yang tidak sederhana. Seorang transgender sangat disarankan untuk mendapat konseling dari dokter dan ahli psikologi sebelum membuat keputusan tersebut. Meski sebagian besar transgender sebenarnya tidak merasa perlu untuk mengubah fisik mereka atau melakukan transisi gender dengan prosedur tertentu, namun ada juga sebagian yang menganggapnya sebagai solusi.

Transisi gender dilakukan dengan didahului serangkaian pemeriksaan fisik maupun psikologis untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul. Berikut adalah pilihan cara yang dapat ditempuh:

  • Terapi penggantian hormon
    Bagi transgender pria, terapi penggantian hormon berperan merangsang pertumbuhan kumis dan ciri fisik maskulin lain, mulai dari kulit, rambut, suara, hingga distribusi lemak. Sementara bagi transgender wanita, terapi penggantian hormon berperan untuk memunculkan payudara dan mengalokasikan distribusi lemak tubuh.
  • Operasi
    Bagi transgender wanita, operasi dilakukan untuk mengubah suara, wajah, kulit, jakun, pinggul, payudara, pantat, dan organ kelamin. Sementara operasi untuk transgender pria, untuk mengubah tampilan dada, organ kelamin, mengangkat rahim (histerektomi), tuba falopi, dan ovarium.

Risiko Melakukan Transisi

Seperti semua prosedur medis, transisi gender juga memiliki risiko terhadap kesehatan. Berikut beberapa risiko yang perlu diwaspadai:

  • Efek samping terapi hormon untuk membuat tubuh tampak lebih feminim atau maskulin, seperti pembekuan darah, kenaikan berat badan, rambut rontok, batu empedu, dan sleep apnea. Terapi hormon pada kaum transgender juga dapat menyebabkan infertilitas.
  • Terapi hormon dikombinasikan dengan gaya hidup yang buruk, seperti terlalu banyak minuman beralkohol dan merokok, sangat meningkatkan risiko gangguan hati, paru, dan organ tubuh lain.
  • Jika melakukan operasi transisi, efek ini akan bersifat permanen, dan terkadang hasil operasi tidak seperti yang diharapkan. Efek samping operasi juga tak sedikit, termasuk infeksi, pendarahan, hingga hilangnya alat kelamin dan bagian tubuh yang dibedah.

Beberapa metode lain mengandung risiko yang bahkan lebih berbahaya. Misalnya menyuntikkan silikon untuk membentuk bagian tubuh tertentu, yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan di kemudian hari, juga perubahan bentuk yang tidak diinginkan pada wajah dan tubuh. Silikon yang disuntikkan dengan jarum suntik yang digunakan bergantian juga berisiko mendatangkan penyakit, seperti hepatitis hingga HIV.

Transgender dan Risiko Penyakit

HIV adalah salah satu risiko penyakit yang paling sering dikaitkan dengan transgender. Sebuah penelitian menemukan bahwa hampir 28 persen transgender wanita dinyatakan positif terinfeksi HIV. Sekitar 70 persen dari angka ini tidak mengetahui bahwa mereka mengidap penyakit tersebut.

Berikut adalah kemungkinan faktor-faktor yang kurang mendukung terjaganya kesehatan para transgender:

  • Ketiadaan akses terhadap layanan kesehatan
    Sebagian besar kaum transgender tidak memiliki akses terhadap sarana kesehatan, antara lain karena stigma dan diskriminasi sosial dari masyarakat.
  • Terbatasnya informasi dan layanan kesehatan
    Belum banyak pusat layanan kesehatan mental yang memiliki pengetahuan dan kompetensi memadai untuk menangani transgender.
  • Bertentangan dengan aturan dan keyakinan
    Peraturan atau norma yang membatasi penggunaan kondom sebagai pencegahan infeksi HIV.

Terapi hormon pada kaum transgender juga berisiko menimbulkan dampak terhadap kesehatan dalam jangka panjang. Beberapa masalah kesehatan yang dapat terjadi yaitu pengeroposan tulang, tekanan darah tinggi, gangguan tiroid, dan perubahan metabolisme tubuh. Karena itu, para transgender yang telah menjalani terapi hormon perlu untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan rutin.

Kontroversi mengenai transgender menyebabkan tak sedikit kaum transgender yang hidup dalam diskriminasi dan penolakan sosial. Hal ini dapat berujung pada risiko gangguan kesehatan fisik maupun mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan bunuh diri. Untuk itu, kaum transgender perlu melakukan pemeriksaan kesehatan rutin pada dokter yang memahami kondisi ini, di pusat kesehatan yang layak.

Ditinjau oleh : dr. Kevin Adrian

Referensi