Vulvovaginitis adalah peradangan pada organ intim wanita. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal dan penanganannya pun harus disesuaikan dengan penyebabnya. Vulvovaganitis bukanlah kondisi yang serius, tetapi sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu.

Vulvovaginitis merupakan kondisi yang cukup sering dialami oleh perempuan di segala usia, mulai dari remaja, wanita dewasa, hingga wanita yang telah memasuki masa menopause. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa gatal dan perih di vagina dan bibir vagina (vulva).

Mengenal Penyebab Vulvovaginitis Beserta Gejala dan Pengobatannya - Alodokter

Selain itu, vulvovaganitis juga dapat menyebabkan keputihan dengan bau yang tidak sedap, rasa perih atau terbakar pada vagina, serta pembengkakan dan kemerahan pada vagina, vulva, dan perineum (area antara vagina dan anus).

Kenali Beberapa Faktor Penyebab Vulvovaginitis

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan peradangan atau iritasi pada vulva dan vagina, di antaranya:

1. Vaginosis bakterialis

Vaginosis bakterialis merupakan salah satu penyebab vulvovaginitis yang paling banyak ditemui. Kondisi ini terjadi akibat pertumbuhan bakteri jahat di dalam vagina yang dapat menyebabkan infeksi.

Vulvovaginitis akibat infeksi bakteri ini dapat menimbulkan gejala vagina perih dan gatal, nyeri saat buang air kecil dan berhubungan seksual, serta keputihan berwarna kelabu dan berbau amis.

2. Infeksi jamur vagina

Vulvovaginitis juga dapat disebabkan oleh infeksi jamur, yaitu jamur Candida albicans. Infeksi jamur pada vagina ini umumnya ditandai dengan keputihan yang menggumpal dan bertekstur seperti keju hancur, serta vagina dan bibir vagina yang terasa gatal atau perih.

3. Infeksi virus

Vulvovaginitis akibat infeksi virus biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Beberapa contoh penyakit infeksi virus yang dapat menimbulkan vulvovaginitis adalah herpes kelamin dan HPV.

Pada wanita, penyakit herpes dapat menimbulkan vulvovaginitis yang ditandai dengan adanya luka dan lepuhan berisi cairan bening serta nyeri dan bengkak di area kelamin. Sementara itu, infeksi virus HPV yang menyerang area kewanitaan dapat menyebabkan tumbuhnya kutil kelamin.

4. Penyakit menular seksual

Salah satu penyakit menular seksual yang dapat menyebabkan vulvovaganitis adalah trikomoniasis. Penyakit ini umumnya ditandai dengan keputihan berwarna kuning kehijauan dan berbau amis, serta rasa gatal dan perih di area vagina.

Selain trikomoniasis, chlamydia dan gonore juga dapat memicu peradangan pada organ intim wanita dan menimbulkan gejala keputihan yang berbau tajam serta rasa nyeri dan perih saat berhubungan intim atau buang air kecil.

5. Infeksi parasit

Beberapa contoh infeksi parasit yang menyebabkan vagina dan vulva meradang adalah infeksi cacing kremi, kudis, dan kutu kemaluan. Gejala vulvovaganitis yang disebabkan infeksi parasit ini umumnya berupa rasa gatal dan iritasi di sekitar alat kelamin.

6. Reaksi alergi

Iritasi dan peradangan pada vagina dan vulva juga bisa terjadi akibat paparan zat kimia seperti paraben, sodium sulfate, triclosan, dan dioxane. Zat kimia ini biasanya terdapat pada sabun mandi, detergen, sabun kewanitaan, bedak, parfum, hingga kondom.

Reaksi iritasi atau alergi terhadap benda-benda tersebut bisa membuat vulva dan vagina terasa gatal, bengkak, dan kemerahan.

Selain kondisi medis di atas, vulvovaginitis juga dapat terjadi pada wanita menopause dan wanita setelah melahirkan. Hal ini disebabkan oleh kadar hormon estrogen yang menurun pada fase tersebut.

Vulvovaginitis juga bisa terjadi karena pengaruh faktor lainnya, seperti:

  • Membersihkan organ intim dengan cara yang tidak benar atau kurang terjaganya kebersihan vagina selama menstruasi
  • Mengenakan pakaian dalam yang bukan berbahan katun dan terlalu ketat
  • Menggunakan pembalut atau tampon terlalu lama saat menstruasi
  • Membiarkan area kelamin dalam keadaaan lembap dan basah, misalnya tidak segera berganti pakaian setelah berenang
  • Menahan buang air kecil terlalu sering

Beberapa Langkah Pengobatan dan Pencegahan Vulvovaginitis

Karena bisa disebabkan oleh banyak hal, Anda dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani secara tepat. Untuk menentukan penyebab vulvovaganitis, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah dan urine serta analisis cairan vagina.

Setelah penyebabnya diketahui, dokter dapat memberikan pengobatan yang sesuai. Misalnya untuk mengobati vulvovaginitis akibat infeksi bakteri, dokter dapat memberikan antibiotik, sedangkan vulvovaginitis akibat infeksi jamur dapat diobati dengan obat antijamur.

Selain itu, pada kasus vulvovaginitis yang parah, dokter mungkin akan memberikan obat kortikosteroid untuk mengurangi peradangan dan iritasi pada vulva dan vagina. Dokter juga dapat meresepkan obat antihistamin untuk mengatasi keluhan gatal pada vagina dan vulva.

Agar vulvovaginitis tidak kambuh kembali, Anda dapat melakukan beberapa langkah pencegahan berikut:

  • Menghentikan penggunaan produk yang dapat menyebabkan iritasi, misalnya sabun pembersih kewanitaan yang mengandung parfum
  • Membersihkan daerah kewanitaan dengan air hangat dan langsung mengeringkannya sehingga tidak lembap
  • Membersihkan organ intim dengan cara yang benar, yaitu dari arah vagina menuju anus
  • Menggunakan pakaian dalam yang longgar dan berbahan katun
  • Menghindari menggaruk bagian yang gatal karena dapat memperparah iritasi dan memicu terjadinya infeksi
  • Menjalani perilaku seks yang aman dan sehat, yaitu dengan menggunakan kondom dan tidak berganti pasangan seksual

Vulvovaginitis umumnya dapat sembuh setelah diobati oleh dokter. Namun, jika tak kunjung sembuh atau jika sering kambuh, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.