Amniotomi saat persalinan bertujuan untuk merangsang dan mempercepat proses persalinan, dengan cara memecahkan ketuban. Prosedur ini umumnya dilakukan bila kantong ketuban belum juga pecah menjelang persalinan atau bila persalinan berlangsung lama.

Prosedur amniotomi dilakukan oleh dokter atau bidan dengan cara merobek kantong ketuban menggunakan alat yang disebut amnihook dan amnicot. Pecahnya ketuban secara disengaja ini diyakini dapat merangsang timbulnya kontraksi rahim yang lebih kuat, sehingga leher rahim terbuka dan bayi bisa lahir lebih cepat.

Mengenal Tindakan Amniotomi Saat Persalinan - Alodokter

Alasan Diperlukannya Amniotomi Saat Persalinan

Kantung ketuban berisi air ketuban dan plasenta. Fungsi air dan kantung ketuban adalah untuk melindungi janin dari benturan, cedera, dan infeksi, menjaga suhu tubuh janin agar tetap normal, sekaligus sebagai tempat bagi janin untuk tumbuh dan berkembang sebelum dilahirkan.

Kebanyakan ibu hamil mengalami pecah air ketuban secara alami atau pecah dengan sendirinya, dan hal ini dianggap sebagai pertanda waktu persalinan sudah dimulai. Namun pada beberapa kasus, kantung ketuban belum juga pecah sampai waktu persalinan tiba. Dalam kondisi ini, dokter atau bidan biasanya akan menyarankan tindakan amniotomi.

Selain itu, tindakan amniotomi juga biasanya dilakukan untuk:

1. Induksi atau memulai persalinan

Amniotomi merupakan salah satu metode induksi persalinan yang baik. Tujuan dilakukan induksi persalinan adalah agar kontraksi rahim terjadi dan proses persalinan dimulai. Metode ini dapat dikombinasikan dengan metode induksi lainnya, seperti pemberian obat oksitosin lewat suntikan.

2. Memperkuat kontraksi persalinan

Tindakan amniotomi juga dapat dilakukan sebagai metode augmentasi persalinan, yaitu proses merangsang rahim agar frekuensi, durasi, dan kekuatan kontraksi meningkat setelah munculnya kontraksi alami.

Metode ini sering kali digunakan untuk mengatasi persalinan lama yang dapat membahayakan kondisi janin dan ibu hamil. Persalinan lama ini bisa terjadi karena kontraksi rahim tidak cukup kuat untuk melebarkan jalan lahir atau karena ukuran bayi terlalu besar.

Selain itu, amniotomi juga dapat dilakukan untuk mempersingkat waktu persalinan, mencegah komplikasi akibat proses persalinan yang terlalu lama, dan untuk menghindari operasi caesar.

3. Memantau kondisi janin

Amniotomi terkadang diperlukan untuk mengawasi kondisi janin di dalam rahim yang membutuhkan pemantauan khusus. Pemantauan ini dilakukan dengan cara memasang elektroda pada janin, kemudian elektroda tersebut disambungkan ke monitor.

Setelah tersambung ke monitor, dokter dapat mendengarkan detak jantung janin dan memantau akvititas janin dengan lebih jelas, sehingga dapat menentukan ada atau tidaknya kelainan pada janin menjelang persalinan.

4. Mendeteksi keberadaan mekonium

Amniotomi juga bisa dilakukan untuk mendeteksi adnya mekonium atau tinja janin dalam air ketuban. Tindakan ini perlu dilakukan karena mekonium yang tertelan oleh janin dapat menyebabkan gangguan pernapasan atau infeksi pada paru-paru bayi.

Meski memiliki beberapa manfaat, tidak semua ibu hamil membutuhkan atau boleh menjalani tindakan amniotomi. Beberapa kondisi yang menyebabkan ibu hamil tidak dapat menjalani amniotomi adalah:

  • Janin belum masuk ke dalam panggul.
  • Posisi bayi sungsang.
  • Plasenta previa.
  • Vasa previa. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah plasenta atau tali pusat janin turun hingga keluar dari serviks. Kondisi ini berpotensi membahayakan nyawa ibu dan janin.

Selain itu, tindakan amnniotomi saat persalinan juga memiliki beberapa risiko, yaitu:

  • Infeksi ketuban atau korioamnionitis.
  • Perdarahan setelah melahirkan, terutama pada ibu hamil dengan kondisi vasa previa.
  • Penekanan atau lilitan tali pusar.
  • Gawat janin.
  • Diperlukannya operasi caesar jika amniotomi tidak membantu proses persalinan normal.

Risiko-risiko tersebut biasanya lebih mungkin terjadi pada ibu hamil dengan masalah kehamilan tertentu, atau jika amniotomi dilakukan terlalu cepat (sebelum waktu perkiraan persalinan dan berlum terdapat tanda-tanda persalinan). Selama serviks sudah matang atau melebar sepenuhnya dan bayi siap dilahirkan, risiko tindakan amniotomi relatif kecil.

Selama menunggu lahirnya Si Buah Hati, tidak ada salahnya Bumil mencari berbagai informasi tentang tindakan dalam persalinan, termasuk amniotomi, jika sewaktu-waktu tindakan tersebut dibutuhkan.

Untuk memantau kondisi kehamilan dan janin serta untuk menentukan metode persalinan yang terbaik, jangan lupa untuk rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan.