Troponin merupakan molekul protein yang dilepaskan ke aliran darah ketika otot jantung rusak karena serangan jantung atau penyakit jantung serius. Pemeriksaan troponin seringkali dilakukan untuk mendiagnosis serangan jantung atau kondisi lain yang dapat menyebabkan kerusakan jantung.

Protein yang menjadi bagian dari otot jantung dan otot rangka ini terdiri dari troponin I, troponin T, dan troponin C. Pada serangan jantung, terdapat gumpalan darah yang menyumbat aliran darah dan oksigen ke otot jantung. Tanpa oksigen, sel otot jantung akan mati dan melepaskan troponin ke dalam aliran darah. Semakin banyak kerusakan yang ada di jantung, semakin besar pula jumlah troponin T dan I yang ada di dalam darah

Mengenal Troponin dan Kaitannya dengan Serangan Jantung - Alodokter

Bagaimana Troponin Pengaruhi Serangan Jantung?

Pada orang yang sehat, kadar troponin dalam darah umumnya tidak terdeteksi karena saking rendahnya. Jika ada kenaikan, walau sedikit saja, sudah menunjukkan adanya beberapa kerusakan pada jantung. Dan ketika level troponin dalam darah seseorang mengalami peningkatan besar, kemungkinan besar mereka terkena serangan jantung.

Pada orang yang terkena serangan jantung, kadar troponin dalam darah mereka biasanya naik dalam waktu 6-12 jam. Level troponin pun kemungkinan akan tetap tinggi selama 1-2 minggu setelah serangan jantung terjadi.

Sedangkan pada penderita angina pektoris, pemeriksaan troponin biasanya dilakukan jika gejala nyeri dada semakin parah, angina muncul dalam saat sedang beristirahat, atau jika tidak terdapat perbaikan gejala setelah pengobatan. Jika ditemukan peningkatan kadar troponin pada kondisi angina, maka hal ini menandakan terdapat perburukan kondisi jantung dan orang tersebut berisiko tinggi terkena serangan jantung.

Selain serangan jantung, tingginya kadar troponin dalam darah juga dapat terjadi pada kondisi-kondisi berikut:

  • Denyut jantung yang sangat cepat dan tidak normal.
  • Hipertensi pulmonal, yaitu tekanan darah tinggi di pembuluh darah arteri paru-paru.
  • Emboli paru, yaitu penyumbatan pembuluh darah arteri paru-paru oleh bekuan darah, lemak, atau sel tumor.
  • Gagal jantung kongestif.
  • Spasme pembuluh darah jantung.
  • Miokarditis, yaitu radang otot jantung, biasanya karena virus.
  • Olahraga yang berkepanjangan (misalnya, maraton atau triatlon).
  • Cedera yang melukai jantung, seperti kecelakaan mobil.
  • Kardiomiopati atau melemahnya otot jantung.
  • Penyakit ginjal jangka panjang.
  • Pasca tindakan medis seperti angioplasti jantung, operasi jantung, terapi kejut listrik pada jantung, hingga ablasi jantung.

Jika Anda, teman, atau keluarga Anda mengalami gejala seperti nyeri dada; dada terasa sesak, diremas, atau ditekan; nyeri menjalar dari dada ke lengan, rahang, leher, punggung, dan perut; pusing; sesak napas; berkeringat; mual; muntah; batuk; dan mengi, dianjurkan untuk segera pergi ke unit gawat darurat di rumah sakit terdekat, karena itu semua merupakan tanda-tanda serangan jantung.

Namun jika Anda tidak ingin mengalami berbagai hal di atas, terapkan gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit jantung dari sekarang. Anda bisa memulainya dari mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, rajin berolahraga, tidak merokok, selalu menjaga tekanan darah dan kadar gula darah, jauhi kolesterol jahat, mengendalikan stres, dan pantau terus berat badan Anda.