Sebagian besar anak mungkin pernah punya teman khayalan. Teman khayalan ini tidak selalu berupa sosok manusia, tetapi juga bisa hewan dengan nama dan karakter tertentu, atau mainan favoritnya. Sebelum orang tua merasa ketakutan, yuk, cari tahu informasi mengenai teman khayalan anak!

Teman khayalan adalah sosok teman yang dibuat-buat oleh anak dalam imajinasinya. Karakter film, kartun, atau buku cerita bisa menjadi sumber imajinasi anak. Namun, bisa saja teman khayalan tersebut murni berasal dari pikiran anak itu sendiri.

Normalkah Anak Punya Teman Khayalan? - Alodokter

Banyak orang tua khawatir dan berpikir bahwa anak yang memiliki teman khayalan adalah anak yang kesepian, tidak punya teman di dunia nyata, atau bahkan memiliki gangguan kejiwaan, seperti skizofrenia. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, Bun.

Peran Teman Khayalan dalam Perkembangan Anak

Memiliki teman khayalan selama masa kanak-kanak adalah hal yang normal. Biasanya, anak-anak mulai memiliki 1 atau lebih teman khayalan sejak usia 2,5 tahun dan bisa bertahan hingga usia 3–7 tahun. Tenang saja, sebagian besar anak sudah mengerti bahwa teman khayalan mereka adalah pura-pura.

Teman khayalan ini secara tidak langsung bisa memberi anak hiburan, sekaligus dukungan. Penelitian bahkan telah menunjukkan bahwa memiliki teman khayalan merupakan bentuk permainan yang sehat dan membawa beberapa manfaat untuk perkembangan anak. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

  • Membangun keterampilan anak untuk bersosialisasi
  • Meningkatkan kreativitas anak
  • Membantu anak mengelola emosi
  • Membantu anak untuk memahami situasi
  • Membantu anak mengelola konflik di sekitarnya

Selain itu, memperhatikan interaksi Si Kecil dengan teman khayalannya juga dapat membantu Bunda memahami ketakutan dan kesukaannya. Misalnya, jika teman khayalannya takut ada monster di bawah tempat tidur, bisa jadi Si Kecil juga merasakan hal serupa.

Akan tetapi, Bunda juga perlu mengetahui situasi yang patut diwaspadai antara Si Kecil dan teman khayalannya. Berikut ini adalah beberapa tanda bahwa memiliki teman khayalan tidak lagi normal:

  • Anak tidak memiliki teman atau tidak lagi minat berteman di kehidupan nyata.
  • Anak terlihat takut pada teman khayalannya dan mengeluh temannya tidak mau pergi.
  • Anak bersikap nakal dan kasar, lalu menyalahkan teman khayalannya atas kelakuannya tersebut.
  • Anak menunjukkan tanda-tanda menerima kekerasan fisik, seksual, atau emosional.

Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Menyikapi Anak yang memiliki Teman Khayalan?

Umumnya, keberadaan teman khayalan bukan merupakan tanda anak tidak berkembang secara normal. Bunda justru dapat memanfaatkan masa ini untuk mengajari Si Kecil tentang nilai-nilai tertentu.

Berikut ini adalah beberapa tips bagaimana seharusnya orang tua menyikapi anak yang memiliki teman khayalan:

1. Hargai pertemanan anak dengan teman khayalannya

Jika Si Kecil memberi tahu tentang teman khayalannya, Bunda sebaiknya menghargai dengan menunjukkan rasa ingin tahu terhadap temannya, sekaligus mempelajari lebih jauh tentang minat Si Kecil dan apa yang dilakukan oleh teman khayalannya.

2. Jangan biarkan teman khayalan menjadi alasannya

Ketika Si Kecil melibatkan teman khayalan dalam alasannya saat ia melakukan kesalahan, jangan marahi dia. Akan tetapi, katakan dengan jelas bahwa teman khayalannya tidak mungkin melakukan hal tersebut. Setelah itu, berikan ia konsekuensi yang sesuai dengan perbuatannya.

Misalnya, jika Si Kecil tiba-tiba menumpahkan isi stoples karena ceroboh dan ia menyalahkan teman khayalannya, hindari memarahinya seperti berkata, “Berhenti pura-pura nggak salah!” Mintalah ia untuk membersihkan isi stoples yang berantakan tadi dengan perkataan sopan.

3. Jangan menggunakan teman khayalan untuk memanipulasinya

Menghargai teman khayalan Si Kecil adalah hal yang penting. Namun, hindari menggunakan teman khayalannya untuk mencapai target yang Bunda inginkan untuknya.

Misalnya, hindari mengatakan, “Itu teman kamu suka makan wortel. Berarti kamu mau juga ya.” Di lubuk hatinya, Si Kecil tahu bahwa teman khayalannya tidaklah nyata. Jadi, akan aneh baginya jika Bunda memperlakukan temannya dengan serius.

4. Tidak perlu terlibat dalam hubungan anak dengan teman khayalan

Meski sudah menyatakan bahwa Bunda memercayai keberadaan teman khayalan Si Kecil, Bunda tidak perlu sampai bersikap berlebihan dengan ikut mengajak ngobrol teman khayalannya.

Jika Si Kecil meminta Bunda untuk berbicara dengan temannya, katakan saja bahwa Bunda lebih ingin mendengar pendapat Si Kecil.

Hal tersebut penting, Bun, karena hubungan anak dan teman khayalannya cenderung akan bertahan lebih lama jika orang tua juga terlibat di dalamnya, dan itu tidak baik bagi perkembangan psikologis anak.

Pada dasarnya, orang tua tidak perlu khawatir dan berusaha untuk tetap tenang saat mengetahui anak memiliki teman khayalan. Anak yang punya atau pernah punya teman khayalan umumnya tumbuh menjadi anak yang gembira, kreatif, mudah bekerja sama dan bersosialisasi, serta mandiri.

Setelah usia 7 tahun, teman khayalan biasanya mulai hilang seiring dengan kesibukan anak di sekolah dasar. Namun, jika teman khayalan Si Kecil bertahan lebih lama atau dianggap mengkhawatirkan, Bunda dapat membawa Si Kecil untuk berkonsultasi dengan psikolog guna mendapat penanganan yang tepat.