Operasi ligamen lutut adalah prosedur bedah untuk memperbaiki ligamen lutut yang robek atau rusak. Tujuannya adalah untuk menstabilkan sendi lutut, mengurangi nyeri, dan mengembalikan fungsi lutut. Dengan demikian, pasien diharapkan dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
Ligamen lutut adalah jaringan ikat yang berfungsi untuk menjaga kestabilan dan menyokong sendi lutut. Ligamen ini dapat mengalami kerusakan atau robekan, misalnya akibat gerakan mendadak, perubahan arah gerakan secara tiba-tiba, atau benturan keras pada lutut.

Penanganan cedera ligamen lutut bisa berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahannya. Pada kondisi ringan, cedera ini umumnya bisa ditangani tanpa operasi, misalnya dengan mengistirahatkan kaki, mengompres lutut dengan kompres dingin, serta mengonsumsi obat pereda nyeri sesuai saran dokter.
Namun, jika kerusakan ligamen cukup berat, operasi ligamen lutut dapat menjadi pilihan untuk memperbaiki dan menstabilkan kembali sendi lutut. Jenis operasi ligamen lutut akan ditentukan oleh dokter berdasarkan jenis ligamen yang cedera, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan pasien.
Jenis-jenis Operasi Ligamen Lutut
Dokter akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan, seperti pemeriksaan fisik dan MRI, usia, dan tingkat aktivitas, sebelum menentukan jenis operasi ligamen lutut yang paling sesuai dengan pasien. Jenis-jenis operasi ligamen lutut yang umumnya direkomendasikan dokter antara lain:
1. Operasi ACL
Operasi ACL merupakan prosedur untuk memperbaiki atau mengganti anterior cruciate ligament (ACL) yang robek. Tindakan ini merupakan jenis operasi ligamen lutut yang paling umum dilakukan, terutama pada pasien dengan lutut tidak stabil atau robekan ligamen cukup berat.
Operasi ACL biasanya dilakukan dengan teknik artroskopi (minimal invasif) menggunakan jaringan pengganti (graft), yang diambil dari tubuh pasien sendiri atau pendonor. Jaringan tersebut bermanfaat untuk membantu lutut kembali kuat dan tidak mudah goyah.
Operasi ACL umumnya dianjurkan jika cedera tidak membaik dengan penanganan tanpa operasi atau menyebabkan pasien sulit beraktivitas. Selain itu, prosedur ini juga dapat membantu mencegah kerusakan lanjutan pada bagian lutut lain, seperti meniskus atau tulang rawan.
2. Operasi MCL
Operasi MCL bertujuan untuk memperbaiki atau merekonstruksi medial collateral ligament (MCL) yang robek, yaitu ligamen di sisi dalam lutut. Ligamen ini berperan penting dalam menjaga lutut tetap kuat saat bergerak, seperti ketika berjalan atau berlari.
Operasi MCL dapat dianjurkan bila terjadi robekan berat, cedera yang tidak membaik setelah penanganan tanpa operasi, atau disertai kerusakan ligamen lain maupun struktur lutut, seperti meniskus.
Prosedur ini dapat dilakukan dengan memperbaiki ligamen secara langsung atau menggantinya dengan graft jika kerusakan yang terjadi cukup parah. Setelah operasi, pasien biasanya memerlukan fisioterapi dan waktu pemulihan beberapa bulan agar lutut kembali kuat dan pasien dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.
3. Operasi PCL
Jenis operasi ligamen lutut lainnya adalah prosedur untuk memperbaiki atau mengganti ligamen PCL (posterior cruciate ligament) yang robek. Ligamen ini berfungsi untuk menahan posisi tulang lutut agar tidak bergeser ke belakang.
Operasi PCL dapat disarankan oleh dokter bila robekan yang terjadi cukup berat, lutut terasa goyah, atau terjadi bersamaan dengan cedera ligamen lain. Tindakan ini umumnya dilakukan dengan teknik artroskopi, dan menggunakan jaringan pengganti (graft).
Sama seperti operasi MCL, setelah prosedur bedah PCL, pasien perlu menjalani fisioterapi agar lutut kembali kuat dan dapat digerakkan dengan baik.
4. Operasi LCL
Operasi LCL dilakukan untuk menangani robekan pada ligamen LCL (lateral collateral ligament). Ligamen ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan lutut saat bergerak ke samping.
Cedera LCL termasuk jarang terjadi dibandingkan ligamen lutut lainnya. Pada kasus ringan, penanganan tanpa operasi sering kali sudah cukup. Namun, operasi ligamen lutut ini dapat menjadi pilihan jika kerusakan ligamen cukup parah, lutut terasa tidak kuat atau mudah oleng, atau terdapat cedera lain pada lutut.
Tindakan operasi biasanya dilakukan dengan mengganti ligamen yang rusak menggunakan jaringan pengganti. Setelah itu, pasien perlu menjalani fisioterapi selama masa pemulihan agar fungsi lutut kembali optimal dan risiko cedera berulang dapat diminimalkan.
Peringatan dan Larangan Operasi Ligamen Lutut
Operasi ligamen lutut umumnya tidak disarankan jika fungsi lutut masih dapat membaik dengan penanganan tanpa operasi, seperti istirahat, fisioterapi, atau penggunaan penyangga lutut. Selain itu, operasi biasanya ditunda atau tidak dilakukan pada pasien yang memiliki infeksi di area lutut atau infeksi aktif di bagian tubuh lain.
Tindakan ini juga perlu dipertimbangkan dengan hati-hati pada pasien dengan kondisi tertentu, seperti radang sendi berat, gangguan pembekuan darah, atau penyakit kronis yang belum terkontrol. Hal ini karena dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi.
Sebelum Operasi Ligamen Lutut
Sebelum memutuskan operasi ligamen lutut, dokter akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai prosedur yang akan dilakukan, termasuk manfaat, risiko, dan kemungkinan komplikasi yang terjadi. Setelah itu, pasien akan diminta untuk menandatangani formulir persetujuan sebagai tanda bahwa ia memahami dan setuju menjalani operasi.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi pasien cukup aman untuk menjalani operasi ligamen lutut. Pemeriksaan tersebut meliputi tanya jawab terkait riwayat kesehatan, tes fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti foto Rontgen lutut dan tes darah.
Pada tahap ini, pasien juga perlu memberi tahu dokter jika memiliki alergi, sedang hamil, menggunakan gigi palsu, atau mengonsumsi obat tertentu, termasuk suplemen dan obat herbal. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko terjadinya efek samping.
Jika kondisi pasien dinyatakan layak untuk operasi, dokter akan menentukan jadwal tindakan dan memberikan beberapa anjuran berikut:
- Berpuasa selama 6–12 jam sebelum operasi.
- Menghentikan konsumsi obat tertentu, seperti aspirin, ibuprofen, naproxen, dan obat golongan antikoagulan, sesuai anjuran dokter.
- Tidak merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol setidaknya 2 minggu sebelum operasi.
Prosedur Operasi Ligamen Lutut
Operasi ligamen lutut biasanya berlangsung sekitar 1–1,5 jam. Tindakan ini umumnya dilakukan dengan menggunakan bius total, tetapi pada kondisi tertentu dapat memakai bius lokal.
Berikut ini adalah tahapan prosedur operasi ligamen lutut:
- Pasien mengganti pakaian dengan jubah khusus operasi.
- Dokter atau petugas medis memasang infus pada lengan atau tangan pasien.
- Pasien dibaringkan di meja operasi, kemudian diberikan obat bius.
- Area lutut yang akan dioperasi dibersihkan terlebih dahulu menggunakan cairan antiseptik, untuk mencegah infeksi selama dan setelah operasi.
- Dokter membuat beberapa sayatan kecil pada kulit lutut sebagai jalan masuknya alat bedah.
- Dokter memperbaiki atau mengganti ligamen yang rusak dengan jaringan pengganti dari tubuh pasien sendiri atau pendonor.
- Jaringan pengganti dipasang dan diposisikan dengan bantuan alat khusus, seperti sekrup atau penyangga medis.
- Penutupan luka bekas sayatan dengan jahitan atau staples bedah, lalu ditutup dengan perban steril.
Setelah Operasi Ligamen Lutut
Setelah operasi ligamen lutut selesai, pasien akan dibawa ke ruang pemulihan untuk dipantau hingga sadar dan kondisi tekanan darah, denyut nadi, dan laju napas pasien stabil. Jika kondisi memungkinkan, pasien umumnya bisa langsung pulang pada hari yang sama dengan didampingi keluarga, atau dirawat di rumah sakit sesuai kebutuhan.
Pasien mungkin akan mengalami nyeri dan bengkak pada lutut setelah menjalani operasi ligamen lutut. Untuk mengatasinya, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri yang mengandung paracetamol, misalnya Dumin.
Pasien juga dianjurkan untuk mengompres lutut dengan kompres dingin dan mengangkat kaki lebih tinggi dari posisi jantung ketika duduk atau berbaring untuk mengurangi bengkak.
Selama masa pemulihan, pasien perlu menggunakan alat bantu berjalan, seperti kruk, untuk mengurangi beban pada lutut. Selain itu, luka operasi perlu dijaga tetap bersih dan kering guna mencegah infeksi.
Dalam waktu sekitar 2–6 minggu setelah operasi, dokter akan mengatur jadwal pasien untuk menjalani fisioterapi. Terapi ini bertujuan untuk melatih kekuatan otot, meningkatkan kelenturan dan rentang gerak, serta membantu pasien kembali berjalan dengan normal secara bertahap.
Masa pemulihan pascaoperasi umumnya berlangsung selama beberapa bulan, tergantung pada jenis cedera dan tindakan yang dilakukan. Selama periode ini, pasien umumnya sudah dapat beraktivitas ringan secara bertahap, seperti berjalan, bersepeda, atau berenang.
Namun, aktivitas berat yang melibatkan gerakan melompat atau berputar sebaiknya dihindari hingga lutut benar-benar pulih.
Komplikasi atau Efek Samping Operasi Ligamen Lutut
Sama seperti prosedur medis lain, operasi ligamen lutut juga berisiko menimbulkan komplikasi, yaitu:
- Pendarahan
- Infeksi luka operasi
- Kerusakan pada saraf dan pembuluh darah di sekitar lutut
- Terbentuk gumpalan darah di sekitar lutut
Oleh karena itu, pasien perlu mewaspadai beberapa gejala berikut setelah menjalani operasi:
- Demam lebih dari 38°C atau menggigil
- Nyeri hebat pada area operasi yang tidak kunjung membaik meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri
- Luka sayatan dan area kulit disekitarnya tampak kemerahan, bengkak, atau teraba hangat
- Keluar darah atau nanah dari luka operasi
- Mati rasa, kelemahan, atau kesemutan pada kaki
Jika Anda mengalami keluhan di atas setelah menjalani operasi ligamen lutut, segera periksakan diri ke dokter ortopedi untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter secara online melalui Chat Bersama Dokter untuk mendapatkan saran awal.
