Cedera pada kepala, termasuk kepala pecah, menjadi salah satu penyebab utama kematian saat mengendarai sepeda motor atau saat melakukan aktivitas lain yang memerlukan perlindungan khusus pada kepala. Sayangnya, masih banyak yang malas mengenakan helm saat berkendara atau aktivitas yang berisiko lainnya.

Selain digunakan saat berkendara, helm atau pelindung kepala juga sebaiknya digunakan selama menjalani aktivitas tertentu, seperti ketika bekerja di lokasi penambangan, melakukan pekerjaan konstruksi bangunan, petugas transportasi, anggota pemadam kebakaran, ataupun ketika melakukan jenis olahraga tertentu. Olahraga yang dimaksud, misalnya panjat tebing.

Sederhana Saja, Pakai Helm atau Risiko Kepala Pecah - Alodokter

Hindari Risiko Kepala Pecah dengan Helm yang Tepat

Kepala sangat rentan mengalami cedera jika mengalami benturan, sehingga fungsi helm sangat penting untuk melindunginya. Menurut penelitian, menggunakan helm dengan tepat saat melakukan aktivitas yang berisiko, bisa mengurangi risiko cedera kepala dan cedera otak sampai dengan 85%. Pemakaian helm pada anak juga sangat penting, misalnya saat ia menjadi penumpang sepeda motor, atau sekadar bermain sepeda.

Agar terhindar dari risiko yang bisa membahayakan nyawa, berikut ini adalah beberapa panduan dalam menggunakan helm:

  • Gunakan helm yang berlabel SNI (Standar Nasional Indonesia)
    Di Indonesia, kewajiban Penggunaan helm SNI bagi pengendara sepeda motor sesuai dengan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Helm dengan standar yang baik terdiri dari empat bagian, yaitu bagian luar yang keras, bagian dalam yang lunak, lapisan penyerap keringat yang bersentuhan langsung dengan kepala, dan sistem retensi atau pengait yang baik pada dagu.
  • Pilih helm full face
    Jangan korbankan keselamatan demi tampil gaya dengan helm yang tidak memenuhi standar keselamatan. Pilih helm dengan penutup kaca atau full face untuk melindungi mata dari debu dan air hujan. Helm yang tidak standar biasanya hanya menutupi sebagian kepala dan tidak akan melindungi kepala dari benturan, apalagi risiko kepala pecah saat terjadi kecelakaan.
  • Hindari membeli helm bekas
    Jangan membeli helm bekas untuk menghindari risiko mudah rusak. Pastikan Anda selalu memperbarui helm Anda setidaknya tiap lima tahun sekali. Kualitas helm cenderung berkurang seiring waktu dan seiring frekuensi pemakaian. Hindari melakukan modifikasi helm hingga membuat fungsinya sebagai pelindung kepala menjadi hilang, seperti menambahkan duri atau tanduk buatan pada helm.
  • Pilih helm yang pas di kepala
    Helm yang Anda pilih sebaiknya terpasang pas pada kepala, tidak terlalu besar atau tidak terlalu kecil. Bagian depan sebaiknya persis berada di atas alis. Pastikan pengait helm tidak longgar atau menempel tepat pada dagu. Selain itu, hindari mengenakan helm yang rusak atau retak. Oleh karenanya, jangan letakkan helm di tempat yang tidak stabil atau rentan menyebabkannya jatuh.
  • Rutin membersihkan helm
    Membersihkan helm secara rutin bisa memperpanjang usianya. Usahakan untuk membersihkan helm dengan air hangat dan deterjen yang lembut, tapi hindari merendam helm karena hal itu bisa mengubah permukaan dalamnya. Simpan helm di tempat sejuk dan tidak terpapar sinar matahari langsung, jangan disimpan berdekatan dengan cairan pembersih, bensin, atau knalpot karena lama-kelamaan berisiko merusak bahan helm.

Demi keselamatan dan terhindar dari risiko kepala pecah, gunakan helm dan patuhi rambu lalu lintas. Untuk aktivitas lain yang membutuhkan helm, gunakan sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencegah cedera kepala yang berbahaya.