Bercinta setelah bertengkar terkadang dilakukan oleh pasangan suami-istri untuk meredakan ketegangan atau meluapkan emosi. Apakah ini merupakan perilaku yang sehat atau sebaliknya? Temukan jawabannya di sini.

Sebuah studi melaporkan bahwa bercinta setelah bertengkar dinilai lebih menggairahkan oleh beberapa pasangan. Meski mungkin lebih menyenangkan dan bisa mendekatkan kembali suami istri yang bertengkar, ada kalanya hal ini tidak baik untuk hubungan rumah tangga.

Bercinta Setelah Bertengkar, Sehat atau Tidak? - Alodokter

Alasan Umum Bercinta Setelah Bertengkar

Di bawah ini adalah beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebab mengapa beberapa pasangan senang bercinta setelah bertengkar:

Pengalihan gairah

Alasan utama bercinta setelah bertengkar terasa menggairahkan adalah karena terjadi pengalihan gairah dari satu situasi ke situasi lain. Dalam hal ini, energi yang tersimpan dalam amarah saat bertengkar beralih menjadi gairah seksual yang juga perlu dilampiaskan.

Saling terpengaruh

Emosi yang dirasakan seseorang dapat memengaruhi emosi orang lain. Saat kamu melihat orang sedih dan menangis, kamu dapat berempati atau bahkan bersimpati dan ikut sedih. Begitu juga saat pasanganmu terangsang, kamu mungkin saja ikut terangsang, meskipun kamu baru saja bertengkar.

Rasa takut kehilangan pasangan

Emosi yang memuncak saat bertengkar dapat membuat salah satu atau kedua pihak merasa takut kehilangan. Rasa takut inilah yang kemudian memicu hasrat seksual untuk kembali menjalin kedekatan.

Jika dilihat dari sisi positifnya, bercinta setelah bertengkar dapat mempererat hubungan suami-istri. Aktivitas ini dapat memberi kesan bahwa pasangan bisa tetap bersama dan saling mencintai meski sempat mengalami pertengkaran.

Bercinta Setelah Bertengkar Tidak Selamanya Sehat

Meski ada sisi positifnya, bercinta setelah bertengkar tidak selamanya sehat. Di bawah ini adalah beberapa ciri yang membuat seks setelah bertengkar dikatakan tidak sehat:

1. Melibatkan kekerasan

Emosi yang ada saat marah adalah emosi yang negatif. Jika hal ini diluapkan pada hubungan seks, bukan tidak mungkin seks jadi melibatkan kekerasan. Hal ini tentu bisa menjadi kebiasaan yang tidak sehat dan bahkan menyakitkan, terutama bagi istri.

2. Tidak menyelesaikan masalah sebenarnya

Seks setelah bertengkar tidak baik jika membuat kamu dan pasanganmu jadi tidak menganggap serius penyebab pertengkaran atau bahkan menghindari untuk membahas jalan keluarnya. Akhirnya, masalah sebenarnya tetap ada dan bahkan bisa menumpuk.

3. Menjadikan seks sebagai solusi

Bercinta setelah bertengkar kadang menimbulkan kesimpulan dalam alam bawah sadar bahwa semua hal dan masalah rumah tangga dapat membaik dengan seks. Padahal, bisa jadi setelah itu salah satu atau keduanya kembali merasa sedih atau kecewa.

4. Menjadi kebiasaan

Bercinta setelah bertengkar bisa menjadi buruk jika salah satu pasangan justru memicu pertengkaran hanya karena ingin merasakan hubungan seksual yang menggairahkan. Hal ini bertolak belakang dengan konsep hubungan seksual sebagai aktivitas untuk menunjukkan kasih sayang kepada satu sama lain.

Sehat atau tidaknya bercinta setelah bertengkar bisa dilihat dari dampak setelahnya. Bila seks setelah bertengkar membuat pasangan bisa menjalin komunikasi dengan baik dan sama-sama mau mencari cara menyelesaikan permasalahan, perilaku ini tentu dinilai sehat dan baik karena dapat mempererat hubungan suami-istri.

Begitu pun sebaliknya, bila bercinta setelah bertengkar tidak dapat menyelesaikan masalah, menumpuk masalah, atau bahkan membangun kebiasaan hubungan seks yang tidak sehat, hal ini tentu tidak baik dan perlu dihentikan.

Jika kamu berada dalam siklus pertengkaran dan seks yang terus berulang tanpa ada penyelesaian masalah, mungkin ini saatnya untuk mengambil jarak sebentar dan memikirkan hubungan seperti apa yang dapat membuatmu merasa nyaman dan benar-benar tenang.

Usahakan untuk terbuka dan jujur pada diri sendiri dan pasangan. Utarakan bahwa kamu tidak nyaman dengan pola ini. Bila kamu dan pasanganmu merasa kesulitan untuk keluar dari masalah dalam hubungan kalian, cobalah berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan solusi.