Spasmodic dysphonia adalah gangguan suara akibat kontraksi tiba-tiba dan tidak terkendali pada otot-otot pita suara. Kondisi ini menyebabkan suara terdengar patah-patah, tegang, serak, bahkan mendadak hilang. 

Spasmodic dysphonia sering kali dianggap sebagai radang tenggorokan biasa. Selain itu, gejalanya juga samar di awal, sehingga luput dari perhatian. Padahal, kondisi ini jauh lebih kompleks dan membutuhkan penanganan medis khusus, karena dapat mengganggu kemampuan berbicara jangka panjang.

Spasmodic Dysphonia, Gangguan Pita Suara yang Memengaruhi Kemampuan Bicara - Alodokter

Spasmodic dysphonia paling sering dialami oleh orang dewasa, terutama wanita. Diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai sangat diperlukan untuk menjaga kualitas hidup penderitanya.

Pengertian dan Gejala Spasmodic Dysphonia

Spasmodic dysphonia adalah kelainan saraf di mana otot-otot pita suara berkontraksi secara abnormal saat seseorang berbicara. Kontraksi ini terjadi di luar kendali, sehingga suara menjadi sulit keluar, terputus-putus, atau terasa tegang. 

Gangguan ini merupakan salah satu bentuk distonia laring, yaitu gangguan gerak pada otot-otot kotak suara (laring). Gejala spasmodic dysphonia umumnya menetap atau memburuk seiring waktu. Beberapa gejala utama yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Suara terdengar patah, terputus, atau tiba-tiba hilang saat berbicara
  • Suara menjadi kaku, serak, atau tegang
  • Kesulitan berbicara, terutama saat bicara panjang atau dalam kondisi tertekan
  • Suara membaik ketika berbisik, tertawa, atau bernyanyi
  • Suara menjadi sangat pelan dan sulit didengar
  • Tidak adanya kelainan fisik pada tenggorokan

Gejala ini bisa berdampak pada kepercayaan diri, interaksi sosial, hingga pekerjaan, sehingga penting untuk mencari pertolongan medis jika Anda mengalami perubahan suara tanpa sebab yang jelas.

Jenis-Jenis Spasmodic Dysphonia

Berdasarkan pola kontraksi otot pita suara, spasmodic dysphonia dibagi menjadi tiga tipe utama, yaitu:

1. Adductor spasmodic dysphonia

Ini adalah tipe spasmodic dysphonia yang paling sering ditemukan. Pada kondisi ini, otot-otot pita suara berkontraksi secara berlebihan dan menutup terlalu rapat saat berbicara. Akibatnya, aliran udara dari paru-paru terhambat ketika melewati pita suara.

Ciri khas tipe adductor ini adalah suara yang terdengar tegang, berat, parau, atau seperti sedang “dicekik”. Sering kali bicara terdengar terputus-putus, dan beberapa kata mungkin sulit diucapkan hingga suara yang keluar lebih seperti potongan kata. 

Penderita biasanya tidak mengalami kesulitan saat berbisik, tertawa, atau bernyanyi, karena aktivitas-aktivitas tersebut tidak memicu kontraksi otot yang bermasalah.

2. Abductor spasmodic dysphonia

Pada tipe ini, otot-otot pita suara justru membuka secara tiba-tiba saat berbicara. Aliran udara pun keluar terlalu leluasa, sehingga suara menjadi sangat pelan, lemah, atau bahkan hilang sejenak di tengah kalimat.

Orang dengan abductor spasmodic dysphonia sering mengeluhkan sulitnya mempertahankan volume suara atau terdengar terlalu “berbisik”, meski sebenarnya sedang berbicara normal. Akibatnya, lawan bicara bisa kesulitan memahami ucapan penderita. Suara biasanya tetap terdengar normal pada saat berbisik, tertawa, atau bernyanyi.

3. Mixed spasmodic dysphonia

Jenis ini merupakan gabungan dari tipe adductor dan abductor. Pada mixed spasmodic dysphonia, penderitanya mengalami kombinasi gejala dari kedua tipe di atas, seperti kadang-kadang suara menjadi terlalu tegang dan terputus, lalu di momen berbeda bisa menjadi sangat pelan atau hilang. Pola kontraksi otot bisa berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi.

Mixed spasmodic dysphonia biasanya lebih berat dan kompleks dalam penanganannya, karena fluktuasi gejala membuat penderita kesulitan menyesuaikan diri dalam berkomunikasi sehari-hari.

Penyebab dan Faktor Risiko Spasmodic Dysphonia

Spasmodic dysphonia terjadi akibat gangguan transmisi sinyal saraf dari otak ke otot-otot pita suara. Sampai sekarang, penyebab pastinya belum diketahui secara pasti. Namun, peneliti menduga adanya gangguan pada basal ganglia, yaitu bagian otak yang berperan mengatur gerak otot.

Beberapa faktor risiko yang diduga berkaitan dengan spasmodic dysphonia, antara lain:

  • Perubahan hormonal, terutama pada usia dewasa atau masa menopause
  • Riwayat keluarga dengan gangguan saraf, seperti distonia
  • Stres psikologis atau kecemasan berkepanjangan
  • Riwayat cedera pada kepala atau leher

Meski memiliki faktor risiko di atas, tidak semua orang dengan kondisi tersebut pasti mengalami spasmodic dysphonia. Faktor genetik dan lingkungan juga diduga berperan dalam menimbulkan gangguan pita suara ini. 

Diagnosis Spasmodic Dysphonia

Diagnosis spasmodic dysphonia tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan memerlukan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis THT serta spesialis saraf. Tahapan diagnosis umumnya meliputi:

  • Wawancara medis (anamnesis) mendalam seputar riwayat suara, keluhan, dan faktor risiko
  • Pemeriksaan fisik pada leher dan pita suara
  • Laringoskopi, yaitu pemeriksaan langsung terhadap gerakan pita suara saat berbicara
  • Penilaian suara oleh terapis wicara untuk analisis pola suara

Diagnosis yang tepat sangat penting untuk membedakan spasmodic dysphonia dari gangguan suara lain, seperti laringitis kronis, polip pita suara, atau gangguan psikis.

Penanganan Spasmodic Dysphonia

Penanganan spasmodic dysphonia bertujuan memperbaiki kualitas suara dan mengurangi kejang otot pita suara. Sayangnya, hingga kini belum ada terapi yang bisa benar-benar menyembuhkan spasmodic dysphonia. 

Namun, beberapa metode terbukti dapat membantu pasien beradaptasi dan meningkatkan kualitas hidup, seperti:

1. Injeksi botulinum toxin (botox)

Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan botox langsung ke otot-otot pita suara yang bermasalah, sehingga otot menjadi lebih rileks dan gejalanya berkurang. Efeknya bisa bertahan selama 3–6 bulan, sehingga perlu diulang secara berkala sesuai kebutuhan pasien.

2. Terapi suara

Terapi ini dipandu oleh terapis wicara untuk mengajarkan teknik berbicara yang lebih efisien, mengurangi ketegangan otot, dan membantu pasien beradaptasi dengan perubahan suara. Terapi suara dapat meningkatkan kontrol vokal serta kepercayaan diri saat berbicara sehari-hari.

3. Pemberian obat-obatan

Beberapa obat, seperti penenang otot atau agen antikolinergik, terkadang digunakan untuk membantu mengurangi kejang otot, meski efektivitasnya terbatas dan respons tiap pasien bisa berbeda. Obat biasanya hanya diberikan jika injeksi botox tidak memungkinkan atau sebagai terapi tambahan.

4. Operasi

Tindakan pembedahan pada pita suara dilakukan pada kasus yang sangat berat dan tidak membaik dengan terapi lain. Salah satu tindakan operasi adalah dengan memodifikasi otot laring tertentu. Operasi menjadi pilihan terakhir karena risikonya lebih besar dan efek jangka panjangnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Spasmodic dysphonia adalah gangguan suara serius yang memerlukan penanganan medis khusus. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fungsi suara, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan diri, menghambat pekerjaan yang memerlukan komunikasi verbal, dan menimbulkan stres hingga depresi. 

Jadi, jika Anda atau keluarga mengalami perubahan suara yang menetap, suara tiba-tiba hilang, atau gangguan berbicara yang tak kunjung membaik tanpa penyebab yang jelas, segera konsultasikan ke dokter THT. Anda juga bisa memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan rekomendasi penanganan awal spasmodic dysphonia. 

Konsultasi sedini mungkin sangat penting agar penanganan bisa segera dimulai dan risiko komplikasi dapat dicegah. Dengan diagnosis dan perawatan yang tepat, kualitas hidup penderita spasmodic dysphonia bisa meningkat.