TDS adalah singkatan dari total dissolved solids, yaitu jumlah seluruh mineral, garam, logam, dan zat organik yang terlarut dalam air. TDS menjadi salah satu indikator utama kualitas air minum, karena kadar yang terlalu tinggi atau rendah dapat memengaruhi rasa, keamanan, dan bahkan menimbulkan risiko kesehatan bagi tubuh.
TDS biasanya diukur dengan satuan miligram per liter (mg/L) atau parts per million (ppm). Secara alami, air tanah maupun air permukaan mengandung mineral terlarut, seperti kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Namun, kadar TDS juga dapat meningkat jika air terpapar limbah industri, pupuk, atau bahan kimia lain.

Untuk mengukur TDS, Anda bisa menggunakan alat pengukur khusus yang disebut TDS meter. Alat ini mudah ditemukan di toko peralatan rumah tangga atau e-commerce, dan penggunaannya pun praktis sehingga siapapun dapat melakukan pengecekan kualitas air di rumah.
Kandungan TDS pada Air
TDS dalam air terdiri dari berbagai komponen, antara lain:
- Mineral alami, seperti kalsium, magnesium, natrium, kalium, dan bikarbonat. Mineral ini penting untuk tubuh, tetapi jika kadarnya berlebihan bisa berdampak buruk.
- Garam dan senyawa anorganik lain, misalnya klorida, sulfat, dan nitrat, yang dapat memengaruhi rasa air.
- Logam berat, seperti timbal, arsenik, atau merkuri, yang sangat berbahaya jika terlarut dalam jumlah tinggi.
- Sisa bahan organik, bisa berasal dari tanah, daun, atau limbah rumah tangga.
- Sisa bahan kimia, termasuk pestisida, pupuk, atau limbah industri, yang dapat meningkatkan kadar TDS secara signifikan.
Dampak TDS Tinggi dan Rendah pada Kesehatan
Menurut peraturan di Indonesia, kadar TDS yang dianjurkan untuk air minum adalah kurang dari 300 mg/L. Jika melebihi batas ini, air bisa menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi secara rutin.
Berikut adalah penjelasan tentang dampak tinggi dan rendahnya kadar TDS pada kesehatan:
1. TDS di atas 1.000 mg/L (sangat berbahaya bagi kesehatan)
Air dengan kadar TDS sangat tinggi ini terasa sangat pahit, asin, atau bahkan agak berbau. Konsumsi air dengan TDS lebih dari 1.000 mg/L dapat menyebabkan tubuh menyerap mineral berlebih, seperti natrium atau kalsium, hingga membebani ginjal secara ekstrem. Risiko terkena batu ginjal, tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, serta gangguan pencernaan menjadi sangat tinggi.
Kategori ini sangat tidak direkomendasikan untuk diminum, dan sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit ginjal.
2. TDS 500–1.000 mg/L (tinggi dan tidak direkomendasikan)
Air pada rentang TDS ini umumnya terasa pahit, asin, atau kurang enak di lidah. Jika dikonsumsi terus-menerus, tubuh bisa menyerap mineral tertentu dalam jumlah berlebihan, seperti natrium dan kalsium.
Hal ini memicu kerja ginjal menjadi lebih berat, meningkatkan risiko batu ginjal, tekanan darah tinggi, atau masalah pencernaan. Anak-anak, lansia, dan orang dengan riwayat masalah ginjal sebaiknya benar-benar menghindari air dengan TDS setinggi ini.
3. TDS 300–500 mg/L (masih dalam batas aman, namun kandungan mineral mulai meningkat)
Kadar TDS di rentang ini sebenarnya masih memenuhi standar WHO, tetapi kandungan mineralnya mulai lebih tinggi. Rasa air bisa berubah menjadi sedikit payau atau cenderung keras, tergantung komposisinya.
Konsumsi rutin air dengan TDS mendekati 500 mg/L pada sebagian orang dapat memperberat kerja ginjal atau memicu gangguan pencernaan ringan, meski secara umum masih aman untuk kebanyakan orang.
4. TDS di bawah 300 mg/L (ideal dan aman dikonsumsi sehari-hari)
Air dalam kategori ini umumnya terasa segar dan enak, serta sangat aman untuk diminum oleh seluruh anggota keluarga. Kandungan mineral seperti kalsium dan magnesium tetap mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga mendukung kesehatan tulang, otot, dan fungsi organ dalam. Ini adalah rentang TDS yang paling direkomendasikan di Indonesia.
5. TDS kurang dari 50 mg/L (bisa mengakibatkan gangguan elektrolit)
Air yang kadar TDS-nya terlalu rendah akan terasa hambar karena hampir tidak mengandung mineral yang diperlukan tubuh. Jika dikonsumsi terus-menerus, bisa menyebabkan kekurangan elektrolit, memicu lemas, kram otot, atau gangguan keseimbangan cairan tubuh, terutama pada anak-anak dan orang tua.
Cara Mengecek dan Mengontrol Kadar TDS
Untuk menjaga kualitas air minum di rumah, berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan:
- Gunakan TDS meter untuk mengukur kadar TDS pada sumber air minum, baik air sumur, air galon, maupun air PDAM.
- Amati hasil pengukuran, rentang TDS yang ideal adalah lebih dari 50 mg/L dan kurang 300 mg/L.
- Jika kadar TDS melebihi standar atau sangat rendah, pertimbangkan untuk menggunakan filter air atau purifier yang dapat menyaring mineral berlebihan maupun logam berat.
- Pilih filter air yang sudah teruji secara mutu dan sesuai kebutuhan, terutama jika tinggal di wilayah dengan potensi kontaminasi.
- Rutin lakukan pengecekan setidaknya satu bulan sekali agar kualitas air selalu terpantau.
- Jika ragu dengan sumber air, utamakan konsumsi air kemasan berlabel SNI dan hindari air dari sumber yang tidak jelas atau berpotensi tercemar.
Waspadai bahaya tersembunyi jika TDS tinggi dipicu oleh logam berat, seperti timbal, arsenik, atau merkuri. Paparan logam berat lewat air minum dapat menyebabkan keracunan jangka panjang.
Gejalanya bisa berupa mudah lelah, nyeri otot, hingga gangguan fungsi organ, seperti ginjal dan hati. Pada anak, logam berat bahkan bisa mengganggu tumbuh kembang, kecerdasan, dan sistem imun.
Jika Anda ingin bertanya lebih lanjut mengenai TDS, efeknya pada kesehatan, atau butuh saran memilih filter air yang tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi Alodokter.