Tumor usus besar adalah pertumbuhan jaringan abnormal yang terbentuk di sepanjang usus besar (kolon). Gejalanya sering tidak terasa, sehingga banyak kasus baru diketahui saat sudah parah. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala dan faktor risikonya sejak dini agar dapat dilakukan penanganan medis segera.
Tumor usus besar terjadi karena adanya kerusakan pada DNA sel di dinding usus besar, sehingga sel tumbuh tidak terkendali dan membentuk benjolan. Tumor ini bisa bersifat jinak maupun ganas (kanker). Umumnya, kondisi ini diawali dengan pertumbuhan benjolan kecil menyerupai polip yang berkembang secara perlahan seiring waktu.

Di Indonesia, tumor usus besar masih menjadi penyebab kematian yang cukup tinggi karena sering terdeteksi saat sudah stadium lanjut. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik sampai gaya hidup tidak sehat. Gejala yang ditimbulkan pun bisa berbeda-beda pada setiap orang.
Tumor Usus Besar dan Gejalanya
Pada tahap awal, tumor usus besar sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Namun, keluhan pun dapat muncul seiring berjalannya pertumbuhan tumor berikut ini:
- Perubahan pola buang air besar
- Terdapat darah pada feses
- Nyeri atau kram perut
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Badan mudah lelah
- Sering merasa perut penuh atau begah
- Hilang nafsu makan
Meski begitu, gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan adanya tumor usus besar. Kondisi lain, seperti wasir, infeksi saluran cerna, atau sindrom iritasi usus, juga bisa menimbulkan keluhan serupa. Oleh karena itu, sebaiknya tetap periksakan diri ke dokter untuk memastikan penyebabnya, ya.
Tumor Usus Besar dan Penyebabnya
Hingga saat ini, penyebab pasti terjadinya tumor usus besar belum diketahui secara jelas. Kondisi ini umumnya terjadi akibat kerusakan DNA sel usus besar yang menyebabkan sel-sel tersebut tumbuh tidak terkendali.
Meski begitu, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya tumor usus besar, seperti:
- Usia di atas 50 tahun
- Riwayat keluarga dengan kanker usus besar
- Pola makan rendah serat dan tinggi lemak
- Penyakit radang usus kronis
- Riwayat polip usus
- Kebiasaan merokok
- Konsumsi alkohol
- Kurang aktivitas fisik
- Obesitas
Tumor Usus Besar dan Penanganannya
Untuk memastikan diagnosis tumor usus besar, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu dan menelusuri riwayat kesehatan penderitanya secara menyeluruh.
Setelah itu, dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, USG, CT scan, atau MRI, untuk melihat kondisi usus secara lebih detail.
Jika ditemukan tanda-tanda adanya tumor, dokter akan melakukan biopsi, yakni pengambilan sampel jaringan yang kemudian diperiksa di laboratorium untuk memastikan jenis dan keganasan tumor.
Setelah tingkat keparahan atau stadium penyakit diketahui, penanganan akan disesuaikan dengan stadium tumor serta kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Penanganan yang bisa dilakukan untuk mengatasi tumor usus besar, antara lain:
1. Operasi
Operasi adalah tindakan medis untuk mengangkat tumor beserta sebagian jaringan usus besar di sekitarnya. Prosedur ini bisa dilakukan secara pembedahan terbuka atau laparoskopi, tergantung ukuran dan letak tumor.
Operasi umumnya menjadi pilihan utama pada tumor usus besar stadium awal, karena dapat meningkatkan peluang sembuh jika tumor belum menyebar. Meski efektif, operasi tetap memiliki risiko, seperti perdarahan, infeksi, atau perubahan fungsi saluran cerna, dan pada beberapa kasus pasien mungkin memerlukan ostomi.
2. Kemoterapi
Kemoterapi dilakukan dengan obat-obatan khusus untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel abnormal pada tumor usus besar yang bersifat ganas. Pemberian kemoterapi bisa dilakukan secara oral atau melalui infus, dalam beberapa siklus sesuai anjuran dokter.
Terapi ini umumnya diberikan pada penderita tumor usus besar yang sudah berubah menjadi ganas atau berisiko tinggi menyebar ke bagian tubuh lain. Metode ini diketahui cukup efektif untuk membasmi sel tumor di seluruh tubuh. Namun, ada beberapa efek samping yang bisa timbul, seperti mual, lemas, rambut rontok, atau infeksi.
3. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar radiasi berenergi tinggi untuk menghancurkan sel tumor ganas di jaringan usus besar. Tindakan ini dilakukan dengan alat khusus yang mengarahkan sinar langsung ke lokasi tumor, dan biasanya digunakan sebagai terapi pendamping sebelum atau sesudah operasi.
Radioterapi dapat membantu mengecilkan tumor sebelum diangkat atau membunuh sisa-sisa sel tumor setelah operasi. Namun, ada beberapa efek samping yang dapat timbul, meliputi rasa lelah, iritasi kulit, serta gangguan pencernaan, seperti diare dan mual. Meski begitu, efektivitas radioterapi tergantung pada ukuran dan lokasi tumor.
4. Terapi target
Terapi target adalah metode pengobatan yang memanfaatkan obat-obatan tertentu untuk menyerang molekul atau jalur spesifik yang berperan dalam pertumbuhan sel kanker. Terapi ini tidak merusak sel sehat di sekitar tumor, sehingga efek sampingnya cenderung lebih ringan dibanding kemoterapi.
Terapi target biasanya diberikan pada pasien dengan kondisi yang sudah stadium lanjut atau yang tidak lagi responsif terhadap kemoterapi standar. Keunggulannya adalah dapat memperlambat perkembangan kanker dan memperbaiki kualitas hidup. Namun, efektivitasnya tergantung dari kondisi setiap pasien.
Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa tumor usus besar dapat timbul akibat beberapa faktor risiko. Meski begitu, sebagian faktor risiko dapat dicegah dengan menerapkan berbagai pola hidup sehat berikut ini:
- Konsumsi makanan tinggi serat, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
- Jangan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
- Olahraga secara teratur, minimal 30 menit per hari.
- Kontrol berat badan agar tetap ideal.
- Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Pada sebagian kondisi, tumor usus besar dapat bersifat jinak sehingga Anda tidak perlu langsung panik jika menerima diagnosis ini. Namun, jika Anda mulai merasakan gejala yang mencurigakan, jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter, ya.
Konsultasi dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja serta cepat dan efektif melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Dengan begitu, dokter dapat memastikan penyebabnya dan memberikan penanganan sesuai kondisi Anda, termasuk menyarankan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit terdekat.