Bali belly adalah beragam gejala gangguan pencernaan yang kerap dialami oleh turis yang sedang berlibur di pulau Bali. Salah satu gejala yang paling sering dikeluhkan adalah diare.
Istilah Bali belly sebenarnya merujuk pada traveler’s diarrhea yang paling sering disebabkan oleh konsumsi makanan dan minuman di daerah tujuan yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit. Diperlukan pencegahan secara mandiri agar Anda dapat terhindar dari kondisi ini dan perjalanan wisata Anda dapat berjalan dengan lancar dan nyaman.

Penyebab dan Gejala Bali Belly yang Perlu Diketahui
Bali belly dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya yang paling umum adalah akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri (E. coli atau Salmonella), virus (norovirus atau rotavirus), serta parasit (Giardia dan Cyclospora).
Bakteri, virus, atau parasit penyebab Bali belly bisa masuk melalui makanan mentah, seafood, air minum, atau jajanan pinggir jalan yang tidak higienis. Kasus ini cukup sering terjadi pada turis mancanegara yang berkunjung ke Bali karena perbedaan pola makan, standar pengolahan pangan, serta daya tahan tubuh yang bervariasi.
Bumbu masak juga dapat memengaruhi kondisi ini. Beberapa makanan khas Bali cenderung lebih berempah dan pedas, sehingga beberapa orang, terutama turis mancanegara, mungkin tidak terbiasa mengonsumsinya.
Berikut ini adalah beberapa gejala Bali belly yang muncul dalam waktu 6–24 jam setelah terinfeksi bakteri atau virus dari makanan dan minuman yang terkontaminasi:
- Diare
- Kram perut
- Perut kembung
- Mual dan muntah
- Demam
- Malaise
- Nafsu makan menurun
Bali Belly dan Cara Mengatasinya
Saat mengalami Bali belly, tetap tenang, ya. Soalnya, gejala dari gangguan pencernaan ini biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam 2–3 hari. Bila tidak disertai kondisi dehidrasi berat dan infeksinya berhasil dilawan oleh sistem kekebalan tubuh, Bali belly bisa mereda setelah beberapa hari.
Oleh karena itu, usahakan untuk tetap banyak minum air atau konsumsilah oralit untuk mencegah tubuh mengalami dehidrasi. Selain itu, konsumsilah makanan yang baik untuk mengatasi diare, seperti pisang, nasi, saus apel, atau roti panggang.
Makanan ini mudah dicerna oleh tubuh dan bisa membantu memadatkan feses yang encer. Agar diare tidak semakin parah, makanlah dalam porsi kecil tetapi sering.
Akan tetapi, jika gejalanya tidak kunjung membaik setelah 3–7 hari, konsultasikan ke dokter karena bisa jadi Bali belly yang dialami diakibatkan oleh infeksi parasit. Apabila tidak diobati, infeksi parasit bisa menyebabkan tinja berdarah dan keluhan saluran pencernaan yang lebih serius.
Bali Belly dan Cara Mencegahnya
Agar momen liburan tidak terganggu akibat Bali belly, lakukan beberapa langkah pencegahan berikut saat sedang berwisata kuliner di pulau Bali atau tempat lain:
- Pastikan selalu mencuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet.
- Gunakan hand sanitizer yang mengandung setidaknya 60% alkohol untuk membersihkan tangan, bila tidak tersedia air bersih.
- Seduh teh atau kopi dengan air matang.
- Gunakan air minum untuk mencuci buah atau sayuran.
- Usahakan untuk mengonsumsi air mineral dalam kemasan yang tersegel.
- Pilihlah olahan makanan yang matang dan segera santap begitu disajikan.
- Hindari mengonsumsi makanan mentah, baik sayur, buah, ataupun seafood, yang tidak terjamin kebersihannya.
- Jangan mengonsumsi saus yang tertinggal dalam kondisi terbuka di atas meja makan restoran.
- Hindari mengonsumsi produk susu dan olahannya yang tidak dipasteurisasi.
Jika Bali belly tetap menyerang walau telah menerapkan langkah pencegahan di atas segera konsultasikan dengan dokter secara online melalui Chat Bersama Dokter. Apalagi jika Bali belly sampai menimbulkan diare lebih dari 3 hari, muncul tanda-tanda dehidrasi, badan lemas, sakit perut tidak tertahankan, demam tinggi, dan tinja berdarah atau menghitam, jangan tunda untuk segera berobat ke fasilitas kesehatan atau UGD terdekat.