Xenophobia adalah rasa takut, tidak suka, atau curiga berlebihan terhadap orang asing atau kelompok yang dianggap berbeda, misalnya karena budaya, asal negara, atau suku yang tidak sama. Sikap ini bisa menimbulkan perlakuan tidak adil, penolakan, bahkan kekerasan terhadap orang lain.
Istilah xenophobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu “xenos” yang berarti asing dan “phobos” yang berarti takut. Xenophobia umumnya muncul karena pengaruh faktor sosial, politik, sejarah, atau ekonomi yang menumbuhkan pandangan negatif terhadap kelompok dari luar lingkungan sendiri.

Kurangnya pemahaman tentang perbedaan dan rendahnya kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan turut memperkuat terjadinya xenophobia. Selain itu, penyebaran berita yang tidak benar atau ujaran kebencian di media sosial dapat memperburuk pandangan terhadap kelompok tertentu.
Meskipun bukan gangguan medis, World Health Organization (WHO) dan lembaga kesehatan mental internasional menekankan pentingnya menangani xenophobia. Hal ini dilakukan untuk mencegah dampak psikososial yang lebih berat, seperti kecemasan, depresi, atau konflik sosial.
Penyebab Xenophobia
Penyebab xenophobia bersifat kompleks dan melibatkan berbagai faktor psikologis maupun sosial, di antaranya:
- Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan dengan kelompok asing atau etnis tertentu
- Ketakutan akan kehilangan identitas atau posisi sosial di tengah perubahan lingkungan atau masyarakat
- Kurangnya paparan dan edukasi tentang keberagaman budaya yang menimbulkan kesalahpahaman terhadap perbedaan
- Pengaruh lingkungan, seperti keluarga, komunitas, atau media yang menanamkan prasangka sejak dini
- Tekanan sosial atau ekonomi yang dapat meningkatkan persaingan antar kelompok
- Kondisi psikologis, seperti rendahnya rasa percaya diri atau kecemasan berlebihan, yang memperkuat rasa takut terhadap kelompok lain
Tidak semua orang yang mengalami kondisi di atas akan mengalami xenophobia. Namun, kombinasi beberapa faktor tersebut dapat meningkatkan risikonya.
Gejala Xenophobia
Gejala xenophobia dapat muncul dalam bentuk pikiran, perasaan, maupun perilaku. Berikut beberapa gejala yang umumnya dialami:
- Sikap curiga atau tidak percaya terhadap orang dari budaya atau negara lain
- Menolak keberadaan atau kehadiran orang asing di lingkungan sekitar
- Enggan berinteraksi dengan orang yang berbeda ras, agama, atau budaya
- Mudah marah, tersinggung, atau bersikap agresif terhadap individu atau kelompok dari luar
- Ucapan atau tindakan diskriminatif, seperti mengejek, menghindari, atau menolak keberadaan kelompok tertentu
- Keyakinan bahwa kelompok sendiri lebih unggul dibandingkan kelompok lain
- Reaksi fisik akibat kecemasan berlebih, seperti jantung berdebar, berkeringat, atau merasa tegang saat bertemu orang asing
Kapan harus ke dokter
Segera konsultasikan dengan psikolog atau psikiater jika Anda atau orang terdekat mengalami:
- Kecemasan, ketakutan, atau perilaku paranoid yang mengganggu aktivitas sehari-hari
- Hasrat atau tindakan diskriminatif, baik verbal maupun fisik, terhadap kelompok tertentu
- Gejala stres atau trauma yang berlangsung lama akibat menjadi korban diskriminasi
Jika muncul krisis psikologis, seperti keinginan melukai diri sendiri atau orang lain karena tekanan sosial, segera ke IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan darurat.
Anda juga dapat Chat Bersama Dokter di aplikasi Alodokter untuk konsultasi awal, atau menggunakan layanan Buat Janji Dokter agar bisa melakukan pemeriksaan langsung dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Diagnosis Xenophobia
Tidak ada tes laboratorium khusus untuk mendiagnosis xenophobia. Psikiater atau psikolog biasanya akan melakukan:
- Wawancara psikologis, untuk menggali riwayat perilaku, pola pikir, dan pengalaman traumatis
- Observasi perilaku, untuk menilai reaksi individu dalam situasi sosial atau multikultural
- Tes atau kuesioner psikologis, untuk menilai tingkat kecemasan, prasangka, atau paranoia
Pengobatan Xenophobia
Penanganan xenophobia tergantung pada tingkat keparahan dan dampaknya terhadap kehidupan seseorang. Beberapa metode yang dapat membantu antara lain:
- Terapi kognitif perilaku (CBT), untuk membantu mengubah pola pikir negatif dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan berbagai kelompok
- Konseling individual atau kelompok, dilakukan guna memperluas pemahaman dan empati lintas budaya
- Obat-obatan, seperti antidepresan (misalnya fluoxetine dalam Antiprestin) dan obat antiansietas (misalnya diazepam), dapat diresepkan oleh psikiater jika terdapat gejala kecemasan, depresi, atau paranoid yang berat
- Program edukasi multikultural, melalui pelatihan dan kampanye toleransi di sekolah atau komunitas untuk mencegah prasangka
Komplikasi Xenophobia
Jika tidak diatasi, xenophobia dapat menimbulkan dampak serius, seperti:
- Gangguan hubungan sosial dan isolasi diri
- Risiko kekerasan verbal atau fisik, baik sebagai pelaku maupun korban
- Masalah kesehatan mental jangka panjang, seperti depresi atau gangguan kecemasan kronis
- Penurunan kualitas hidup individu dan harmoni sosial
Pencegahan Xenophobia
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah xenophobia antara lain:
- Edukasi dan kampanye toleransi sejak dini di lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja
- Memberikan akses terhadap informasi yang akurat tentang keberagaman budaya
- Mendorong interaksi langsung di lingkungan multikultural untuk menumbuhkan empati
- Berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental jika mulai muncul prasangka atau kecemasan berlebihan terhadap orang asing